
Dua bulan kemudian.
Dean dan Resya sudah bertunangan. Mereka akan menikah setelah bayi Haira lahir. Karena saat ini Haira sedang berada di rumah sakit untuk jadwal operasi caesar. Tadinya dia ingin melahirkan secara normal, namun karena tubuhnya tidak mendukung maka dia harus melahirkan secara caesar.
Aiden dan lainnya sedang menunggu di luar ruang operasi. Detik-detik yang mendebarkan menunggu kedua anak kembarnya lahir. Resya dan orang tuanya juga tampak sangat cemas menunggu di luar begitu pun dengan Grandma yang memang sangat mendambakan hari ini.
Sedangkan Dean berada di depan koridor rumah sakit itu memantau para pengawal menjaga agar para wartawan tidak masuk ke dalam.
Tentu saja kelahiran keturunan Alexander ini dinantikan banyak orang. Apalagi mereka berjenis kelamin laki-laki yang sudah pasti akan menjadi pemimpin Alexan Group kelak.
Oeeeeek Oeeeeek.
Terdengar suara bayi bersahut-sahutan dari dalam. Aiden melompat-lompat kegirangan mendengar suara kedua anaknya yang telah lahir.
"Grandma, aku sudah menjadi ayah!" seru Aiden sambil memeluk Grandma.
"Iya nak, kau sudah menjadi ayah. Dan aku sudah menjadi nenek buyut!" seru Grandma tak kalah senangnya.
"Ayah, ibu. Bayinya sudah lahir!" Resya juga terlihat kegirangan begitu juga dengan kedua orang tuanya.
Tak berselang lama, para dokter yang merupakan wanita paruh baya pun keluar.
"Selamat tuan, kedua putra anda sudah lahir dengan sehat tanpa kurang satu apapun. Ibunya juga selamat," ucap sang dokter.
Reflek, Aiden langsung mencium pipi wanita tersebut dan masuk ke dalam. Dokter itu terkejut dan masih berdiri mematung. Astaga dia baru saja dicium seorang Alexander. Mimpi apa dia semalam. Dia tidak akan cuci muka sampai besok.
__ADS_1
Aiden menemui Haira yang masih terbaring lemah. "Terima kasih ya sayang." Dia mencium kening Haira dengan lembut.
Dua orang suster datang membawa dua bayi yang baru selesai dimandikan. Mata Aiden berkaca-kaca menatap kedua buah hatinya. Dia pun menggendong anaknya secara bergantian lalu mengadzankan nya.
Haira pun di pindahkan ke ruang rawat. Tampak Grandma menggendong putra pertama dan ibu Resya menggendong putra keduanya.
Wajah mereka benar-benar identik. Yang membedakan hanya sebuah tahi lalat di pipi anak pertama dan tanda lahir di bahu kanan anak kedua mereka. Sedangkan si sulung memiliki tanda lahir di belakang lehernya.
"Lihatlah, wajah mereka mengarah kepadamu, Aiden," ucap Grandma.
"Jelas sekali apa yang selalu ayahnya lakukan saat ibunya ngidam aneh-aneh. Jadi mereka harus mirip denganku," sahut Aiden dengan bangganya.
"Siapa nama mereka?" tanya ibu Resya.
"Hentikan sayang. Aku tau kau penggemar lagu dangdut tapi kau tidak harus menamai anakmu persis seperti artis dangdut," ucap Aiden.
Haira mengangguk pasrah.
"Aku akan berikan nama alm ayahku dan ayah Haira. Yaitu William dan Harry," sahut Aiden.
"William Alexander dan Harry Alexander. Itu nama yang sangat bagus nak. Bagaimana Haira?" tanya Grandma.
"Aku suka Grandma tapi jika boleh ditengah namanya disisipkan nama..."
"Stop. Tidak ada William Rhoma Alexander atau Harry Irama Alexander. Hanya dua kata dalam satu nama, mengerti?" sela Aiden.
__ADS_1
Haira kembali mengangguk pasrah. Semua yang ada disitu tersenyum melihat kekocakan pasutri tersebut.
"Dean, Resya. Kapan lagi kalian akan menikah dan punya anak. Kalau punya anak laki-laki nanti berikan nama....."
"Stop!" Resya, Aiden dan Dean menjawab dengan kompak.
Semua langsung tertawa melihat reaksi Haira yang kalah telak.
"Iya kakak, kami akan menikah tapi dua bulan lagi saat ulang tahunku," sahut Resya.
"Aiden, kenapa dulu kita tidak menikah saat ulang tahunku?" tanya Haira.
"Astaga sayang apa itu penting sekarang?" tanya Aiden.
"Tidak sih, hehehe."
"Haira, bagaimana kalau pemberian nama William dan Harry kita samakan di pesta pernikahan Resya dan Dean," ujar Grandma.
"Itu ide yang bagus, kakak," ucap Resya.
"Boleh juga, tapi jangan lupa undang penyanyi dangdut ya," ucap Haira.
Seketika semua pun tertawa. Nyonya Alexander ternyata tidak bisa jauh dari yang namanya dangdut.
Dean tersenyum dibelakang mereka yang tengah tertawa. 'Seandainya orang tuaku datang' Batinnya.
__ADS_1