Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Rencana


__ADS_3

Dean berjalan mendekati Aiden. "Apa yang tuan lakukan selama di ruang operasi?" tanya Dean.


"Hanya mengobrol dengan para dokter yang menanganiku," sahut Aiden.


"Hanya luka kecil di belakang kepala tuan. Apa harus sampai koma? Maksud saya pura-pura koma?"


"Katakan apa tujuanmu?"


"Apa rencana tuan? Tidakkah tuan lihat nona Haira menangis setiap hari dan keluarganya juga mencemaskan anda. Saya juga. Belum lagi tuduhan yang buruk tentang saya." Dean terlihat sangat kesal.


"Sebenarnya aku ingin menambah durasi koma, tapi karena dia menuduhmu pelakor, aku tidak bisa diam saja. Bisa-bisanya dia mengira aku dan kau punya hubungan," terang Aiden.


"Dan sebenarnya apa yang terjadi tuan?"


"Aku sudah tau siapa dalang kecelakaan ini. Dia ingin mencelakai Haira karena sedang mengandung anakku. Aku akan mengikuti permainan nya sampai aku menemukan bukti kejahatannya. Aku juga curiga bahwa dia juga dalang dibalik pembunuhan orang tuaku."


"Siapa tuan?"


Aiden menjelaskan siapa orang tertuduh tersebut.


"Lalu apa rencana tuan saat ini?" tanya Dean.


"Pertama aku harus melindungi Haira dengan penjagaan ketat. Karena identitas ku juga sudah terendus, maka tidak ada yang perlu ditutupi lagi."


"Jadi anda akan memperkenalkan diri ke publik?"


"Konferensi pers di gedung Alexan dengan semua stasiun televisi."

__ADS_1


"Dan nona Haira?"


"Dia akan tau terlebih dahulu saat datang kesini. Siapkan rumah lamaku untuk kami tempat sepulang aku dari rumah sakit ini," ujar Aiden.


"Baik tuan," sahut Dean sambil membungkukkan tubuh nya dan pergi mempersiapkan segala keperluan untuk mempersiapkan konferensi pers dan juga rumah milik Aiden yang super mewah dan canggih.


Setengah jam kemudian, Haira sudah kembali dengan tas berisi pakaian Aiden.


"Sayang, istirahat lah kau pasti lelah," ujar Aiden.


"Bagaimana kepalamu? Masih sakit? Pusing tidak? Ada yang lupa?" tanya Haira.


"Aku tidak amnesia, sayang. Aku baik-baik saja," sahut Aiden.


"Oh ya sayang, ada yang ingin aku katakan padamu." Aiden memegang tangan Haira dengan lembut.


"Apa sayang?"


Haira terdiam, suasana mendadak hening. Namun seketika terdengar suara tawa yang cukup kencang.


"Hahaha sayang, jangan bercanda. Boleh bermimpi tapi jangan sampai berlebihan."


Aiden menghela nafas panjang. "Ya sudah lah kalau tidak percaya."


"Lagi pula kenapa kau berhayal menjadi Alexander? Kenapa tidak Armadja atau Wijaya saja sekalian, hahaha." Haira kembali tergelak.


Tak berselang lama, Harsya pun datang bersama Laras.

__ADS_1


"Alhamdulillah kau sudah sadar, Nak," ucap Laras.


"Iya bu, terima kasih sudah mengkhawatirkanku," sahut Aiden.


"Sayang, apa kau belum makan?" tanya Laras yang melihat Haira sedikit lemas.


"Iya bu, ayo temani aku makan dulu," ajak Haira.


"Kau makanlah sayang, ayah akan menjaga Aiden," ujar Harsya.


Haira mengangguk dan pergi bersama ibunya ke kantin rumah sakit.


Sepeninggal mereka, Aiden pun mengutarakan keinginan nya untuk membongkar identitas nya.


"Bagaimana menurut ayah?" tanya Aiden.


"Ayah rasa itu ide yang bagus. Dengan begitu Haira akan aman," ujar Harsya.


"Terima kasih ayah, aku akan segera mengadakan konferensi pers setelah aku keluar dari rumah sakit," ucap Aiden.


Harsya mengangguk mengerti. Tak berselang lama, Haira dan Laras pun kembali dengan bungkusan makanan ditangannya.


"Loh kok cepat sekali?" tanya Harsya.


"Tadi ada teman Aiden yang ingin menjenguk, tapi karena Aiden baru sadar, dia akan menjenguk lain waktu karena takut menganggu. Jadi dia memberikan makanan yang akan diberikan pada ku tadi," jelas Haira.


Sementara itu....

__ADS_1


"Mengadakan konferensi pers? Ah bagus sekali. Setelah dia membongkar identitasnya, maka tidak akan sulit membunuhnya karena semakin banyak yang tau, maka keberadaanku akan semakin sulit terendus, hahaha."


Suara tawa terdengar dari seseorang yang baru saja menerima laporan dari orang yang menyelidiki pergerakan keluarga Harsya. Memamerkan giginya yang kuning dengan mulut yang menganga lebar.


__ADS_2