Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Gara-gara Otak-otak


__ADS_3

Di Minggu pagi yang cerah. Aiden merasa heran saat melihat istrinya membawa dompet dengan pakaian seadanya.


"Sayang, mau kemana?" tanya Aiden.


"Aku ingin berbelanja ke tukang sayur. Itu kebetulan ada di depan rumah."


"Apa? Berbelanja? Memangnya kenapa harus kau yang berbelanja?" Aiden menatap heran pada istrinya itu.


"Kau tahu apa yang dikatakan si Kinan?"


"Kinan? Istri rekan bisnisku, bukan?" tanya Aiden ingin meyakinkan.


"Ya, dia mengatai aku bukan seorang istri sejati jika aku tidak berbelanja ke tukang sayur keliling. Apa-apaan dia!" Haira berdecak kesal.


"Apa dia melakukannya sehingga mengataimu seperti itu?"


"Katanya iya. Dia bilang, kalau seorang istri dan ibu itu harus berbelanja ke tukang sayur meski hanya sekali seumur hidup."


"Bukankah dulu kita sering berbelanja di pasar? Saat hidup kita masih melarat." Aiden mengingatkan.


"Ya, tapi berdua dan bukan ke tukang sayur. Sudahlah, aku mau berbelanja dulu."


"Tunggu!" ucapan Aiden menghentikan langkah kaki Haira.


"Apa?" Haira menoleh.


"Kau mau berbelanja apa? Apa yang ad di gerobak tukang sayur semua ada di lemari es."


Haira tampak berpikir. "Oh ya. Aku akan membeli otak-otak mentah. Setelah itu aku akan menggorengnya sendiri. Kau juga mau 'kan sayang?"


"Iya, aku mau. Ayo aku antar sampai gerbang." Aiden mengajak Haira keluar.


Sesampainya di depan gerbang, tukang sayur ternyata sudah pergi namun tidak terlalu jauh.

__ADS_1


"Sayuuuurrrrr!!" Haira berteriak memanggil tukang sayur.


"Ada apa, Bu? Mau beli apa? Jika ada, saya kesana!" seru tukang sayur dengan suara yang lumayan kuat.


"Punya otak tidak?" tanya Haira dengan masih berteriak.


"Astaghfirullah! Haira! Perhatikan kalimat mu! Jangan disingkat!" Aiden mengingatkan.


"Oh, iya. Maaf, Bang! Maksud saya, Abang jual otak tidak?"


Aiden menepuk dahinya.


Tukang sayur pun datang. "Maaf, Bu. Bagaimana tadi? Saya punya otak kok, Bu."


"Bukan itu maksud saya, maaf ya. Ini, Abang ada jual otak-otak tidak?"


"Oh makanan cepat saji? Ada, Bu. Mau berapa bungkus?"


"Ada sepuluh bungkus, Bu."


"Ya sudah saya beli semua, ya."


"Baik, Bu." Dengan wajah senang, si tukang sayur pun membungkus pesanan Haira.


"Ini, Bang. Kembaliannya ambil aja."


"Makasih, ya Bu."


Setelah tukang sayur pergi, Haira kembali menemui Aiden.


"Apa kau sudah minta maaf?" tanya Aiden.


"Sudah, aku juga sudah dapatkan otaknya. Ayo masuk!" Haira berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


"Sayang, jangan disingkat."


"Oh iya, maaf sayang." Haira tersenyum.


Namun tetap saja, ia tidak melakukan yang disuruh Aiden. Terbukti saat ia memanggil kedua anaknya.


"William! Harry! Sini sayang, Ibu punya otak."


"Ayah, mau otaknya berapa?"


"Sayang, otaknya enak tidak?"


"Sayang, kalau otakmu tidak habis, sini berikan saja pada ibu."


"Harry, jangan banyak-banyak mencocol sambalnya. Nanti otakmu jadi pedas."


"Lim, berikan semua otak ini pada pelayan, ya. Sepertinya Harry sangat suka makan otaknya. Oh, ini otakmu, dan ini otak kepala pelayan. Sudah aku bagi porsinya."


"Baik, Nyona. Terima kasih."


Sedangkan Aiden yang sejak tadi mendengar kalimat-kalimat Haira hanya diam sambil memijat pelipisnya.


"Otak Ayah masih ada tuh, untuk Ibu saja ya." Haira mengambil makanan itu dari piring Aiden.


"Ya, ambillah otakku dan makanlah otakku jika kau sangat suka otak."


"Kenapa kedengarannya jadi aneh, ya."


"Kau baru menyadarinya sekarang?"


"Iya, maaf aku lupa. Ya sudah, sini otakmu aku makan." Haira kembali memakan otak-otak tersebut.


Aiden menghela nafas panjang. "Sudahlah, otakku lelah."

__ADS_1


__ADS_2