Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Kesal


__ADS_3

Disepanjang perjalanan, Haira dan Aiden masih mengobrol ringan.


"Sayang, aku perhatikan sepertinya kau sudah jarang melakukan kesalahan dan pelupamu juga sudah hilang." Aiden berpendapat.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Aku senang tidak merepotkan suami tampanku ini!" Haira hendak mencium pipi Aiden, namun Aiden malah menolak dan menghindar.


Wajah Haira berubah menjadi sedih. Hampir saja ia menangis, namun Aiden mengkode bahwa ada sopir bersama mereka.


Haira pun mengerti. Namun dalam arti yang lain. Ia menepuk bahu sopir agar berhenti. Setelah berhenti, Haira menyuruh sang sopir keluar.


Setelah supir keluar, Haira pun mencium pipi Aiden.


Aiden menepuk dahinya. "Sayang, aku tidak bermaksud menyuruhmu membuat supir berhenti dan keluar."


"Kau memang tidak menyuruhku. Tapi itu inisiatifku."


"Astaga seharusnya kau jangan lakukan itu, sayang. Tapi, terima kasih ciumannya. Sini aku balas dulu." Aiden mencium kening, pipi, dan bibir Haira.


"Hei, itu curang. Aku hanya mencium satu bagian."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo balas lagi." Aiden menunjuk bibirnya.


"Tidak sayang, itu akan menjadi awal dimana waktu kita akan semakin lama. Aku hanya berniat mencium pipi saja."


"Ya sudah." Aiden mengusap kepala Haira lalu menyuruh sopir masuk dan melanjutkan perjalanan.


Haira dan Aiden telah sampai di restoran tempat Aiden dan Naumi akan mengadakan meeting penting.


"Selamat siang, Naumi," sapa Aiden saat menghampiri Naumi ke salah satu tempat duduk mereka.


"Hai, selamat si,,,,," Naumi menghentikan kalimat nya saat melihat Haira muncul dari belakang Aiden.


"Hai, Naumi. Maaf ya, aku ikut suamiku karena sudah lama aku ingin makan di restoran ini. Aku ada waktu hari ini, namun karena tempat sudah kau reservasi, aku meminta ikut dengan suamiku." Haira tersenyum namun tatapan matanya begitu menusuk.


'Dasar istri posesif. Kau merusak rencanaku' Batin Naumi.


Aiden sendiri dapat merasakan ada yang tidak beres dengan tatapan Haira. 'Suasana apa ini? Kenapa tatapan Haira berbeda? Dan kenapa dia beralasan ingin makan di sini?' Batin Aiden.


"Oh, begitu. Ya sudah. Tetapi saya mohon maaf, kau harus,,,,,"

__ADS_1


"Iya, aku tahu, aku akan berada di situ." Menunjuk meja yang tak jauh dari meja mereka.


"Baiklah. Tuan, Aiden mari kita mulai meetingnya," ujar Naumi.


Haira berjalan menuju meja yang ia tunjuk tadi lalu duduk di sana. Ia pun memesan minuman saja karena mereka akan makan bersama setelah meeting.


Sepanjang Naumi dan Aiden berbicara, Haira terus memperhatikan. Awalnya ia biasa saja, namun, karena Aiden terlihat tersenyum, ia pun merasa sangat jengkel. Ia menatap Aiden dengan tatapan kesal sambil melotot dan memanyunkan bibirnya.



'Awas saja kau nanti!' Batin Haira.


Satu jam kemudian, meeting pun selesai. Aiden menghampiri Haira lalu mengajaknya makan bersama. Haira sudah meredam rasa kesalnya. Ia tidak mau marah-marah di depan Naumi. Itu hanya akan membuat Naumi merasa menang karena berhasil membuat Haira cemburu.


Setelah makanan datang, mereka pun makan bersama. Aiden terlihat santai saja. Namun Naumi terus menatap tajam dengan Haira. Sedangkan Haira malah tersenyum dan terkesan mengejek.


Itu membuat Naumi semakin kesal. Aiden yang tidak tahu menahu tentang perseteruan istri dan rekan kerjanya tidak menyadari hal itu. Ia terus fokus dengan makanannya dan sesekali melihat Haira yang mendadak makan dengan jaim, tidak seperti biasanya.


'Aneh sekali. Biasanya dia makan dengan sendok yang penuh dengan makanan bahkan melebihi takaran. Namun kali ini, hanya ujung sendoknya saja yang ada makanannya. Oh mungkin saja karena ada rekan kerjaku jadi dia ingin terlihat anggun. Dasar Hairaku, kau semakin menggemaskan.' Batin Aiden.

__ADS_1


__ADS_2