
Pengawal yang melihat kejadian itu langsung menolong William. Ia menuntun William masuk ke dalam rumah. Ia menyuruh kepala pelayan untuk membantu William membersihkan diri kemudian melapor kepada Haira.
Haira yang mendengar hal itu langsung pergi ke kamar mandi belakang untuk melihat keadaan William.
Di dalam kamar mandi, ia melihat William sedang dimandikan kepala pelayan dengan direndamkan ke dalam bathup dengan banyak busa dan sabun.
"William, kau tidak apa-apa, Nak?" tanyanya khawatir.
William hanya diam sambil menangis sesenggukan.
"Harry! Dimana dia?" tanya Haira pada Lim, sang kepala pengawal.
"Tuan Harry masih berada di belakang, Nyonya."
Haira langsung bergegas menemui Harry. Disana, Harry masih memberi makan ikan-ikannya.
"Harry!" panggil Haira dengan nada agak meninggi.
Harry menoleh dan tersenyum. "Ya, Bu. Aku akan minta maaf setelah dia selesai mandi."
Haira berhenti tepat di depan Harry yang masih tersenyum.
"Kenapa kau melakukan ini, Nak?" Haira mengusap kepala Harry dengan lembut. Begitu mendengar Harry akan meminta maaf, seketika emosinya langsung mereda.
"Aku hanya kesal, Bu. Kenapa William kaku sekali. Kenapa dia sulit tertawa. Kenapa dia datar sekali? Kenapa dia bermulut besi, tidak mau berbicara? Apa dia tidak suka padaku?"
__ADS_1
Haira tersenyum mendengar penuturan putranya itu. "Dia tidak begitu, Nak. Dengar, sifat semua orang berbeda-beda. Tidak semua orang harus mempunyai sifat seperti dirimu. Lihat Ayah! Beliau juga pendiam dan jarang berbicara. Tetapi ibu maklum. Begitu juga dengan dirimu. Kau harus maklum dengan sifat kakakmu. Ibu yakin perlahan-lahan dia pasti akan berubah."
"Ibu benar. Maafkan aku, Bu. Aku akan meminta maaf pada William nanti."
"Anak pintar." Haira memeluk Harry.
Setelahnya, Harry pun segera menemui William. Ia meminta maaf dengan wajah penuh sesal. William yang baik, tentu saja langsung memaafkan.
Pada saat makan malam.
Aiden tampak mengendus-endus sejak ia sampai di ruang makan. Bahkan ia mencium semua menu ikan yang ada di atas meja makan.
"Bau amis darimana ini? Sepertinya ikan-ikan ini tidak berbau," ucap Aiden.
Mendengar ucapan Aiden, William langsung pergi ke kamar dengan wajah penuh kekesalan.
"Ayah, kenapa malah berkata seperti itu. Tadi kan Ibu sudah bilang agar jangan bicara soal bau amis."
"Memangnya kenapa, sayang? Permintaan mu aneh sekali."
Haira langsung menceritakan semuanya.
"Oh, jadi begitu. Kenapa tadi tidak cerita?"
"Bagaimana Ibu bisa cerita. Ayah sibuk dengan pekerjaan ayah sampai tidak mendengar apa yang Ibu katakan."
__ADS_1
"Oh iya, maaf, ya sayang. Ya sudah, ayah akan bujuk William lagi." Aiden pergi ke kamar William. Dan tak lama kemudian, William turun dengan wajah yang tersenyum.
"Bagaimana kau melakukannya?" bisik Haira pada Aiden.
"Kami ini orang yang memiliki sifat yang hampir sama. Jadi, mudah untukku membujuk William," sahut Aiden.
Haira hanya mengangguk. Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya diucapkan Aiden hingga William cepat baikan seperti itu. Namun, mata William masih memandang kesal kepada Harry. Sepertinya ia masih belum benar-benar memaafkan Harry.
Flashback Off
"William, maafkan aku, ya." Harry menatap William dengan wajah penuh sesal.
"Tidak!" William membuang muka.
"William, sayang. Ibu kira seorang kakak adalah pemimpin untuk adiknya," ucap Haira.
"Aku memang pemimpin, Bu."
"Jika kau seorang pemimpin, maka kau harus berbesar hati. Kau harus belajar ikhlas dan sabar. Ibu tidak membela Harry. Ibu hanya ingin kedua anak ibu akur dan berbaikan."
"Benar, William. Kau harus memaafkan aku." Harry menimpali.
"Baiklah! Aku maafkan. Tapi jangan pernah ceritakan ini pada siapapun."
"Siap, bos. Nanti kita main ular tangga lagi, ya," ucap Harry.
__ADS_1
"Tidak!" William dan Haira kompak menjawab.
Melihat hal itu Harry hanya bisa mengangguk pasrah.