
Aiden sudah memasuki kamar Harry begitu juga dengan Haira dan Harry.
"Harry, jika kamarmu seperti ini, bukan hanya hantu, raja hantu juga akan senang berkunjung kesini," ucap Aiden sambil melihat kamar Harry yang sangat berantakan.
"Mau bagaimana lagi, Yah. Ibu melarang pelayan membantu membersihkan kamarku dan William."
"Itu karena ibu ingin kalian menjadi anak yang mandiri." Haira menimpali.
"Pernahkah kau berpikir bahwa tikus pun akan senang datang kemari?"
"Tidak, Yah. Tidak ada tikus di rumah canggih ini."
"Siapa yang memberitahumu?"
"Oma buyut saat berkunjung kemari."
"Oma, selalu saja memanjakan mereka," gumam Aiden.
"Ayah, cepatlah usir hantunya." Harry masih bersembunyi di belakang Haira.
"Ya, Hantu. Dimana dia, ya. Hantuuuu. Oh Hantuuu. Keluarlah, aku tidak akan menyakiti hantu. Kalau kau mengganggu Harry karena dia nakal, baiklah aku akan menyerahkannya."
"Ayah, jangan berkata seperti itu. Bagaimana kalau dia benar-benar mengambilku." Harry tampak khawatir.
Aiden tersenyum tanpa menoleh.
Srekkk Srekkkk.
__ADS_1
Terdengar suara dari dalam lemari pakaian Harry.
"Ayah! Itu! Dia bersembunyi disana." Harry menunjuk lemari pakaiannya.
Aiden mencoba mendekati lemari itu. Ia pun segera membukanya dan,,,,,
"Hantuuuu!!!!!!" Aiden lari keluar kamar diikuti oleh Harry yang larinya lebih kencang sampai melewati Aiden.
Aiden berhenti dan tertawa melihat Harry yang lari ketakutan. Mendengar suara tawa ayahnya, Harry langsung berhenti berlari dan berbalik. "Ayah, kenapa tertawa, ayo kita lari!" seru Harry.
"Kau percaya bahwa itu hantu?" Aiden masih tertawa.
"Melihat ayah tertawa aku tidak percaya. Tapi sekarang aku takut, Yah." Harry menunjuk belakang Aiden.
Aiden pun menoleh dan melihat seorang wanita dengan rambut panjang menutupi wajah dengan baju putih super panjang.
"Ayah, bagaimana ini! Hantunya kuntilanak. Aku takut!" Harry memeluk Aiden.
"Jangan khawatir, Nak. Kau tidak sendirian. Ayah juga takut." Aiden juga memeluk tubuh Harry.
"Bagaimana dia bisa ada di rumah ini, Yah. Bukannya rumah ini sudah dilengkapi sistem keamanan."
"Sistem keamanan rumah ini tidak bisa diterobos tikus atau semacamnya. Tapi kenapa hantu bisa masuk?"
"Harry! Tikus tidak bisa menerobos rumah ini. Tapi hantu bisa menembus dinding."
"Menyeramkan sekali, Ayah. Tapi tunggu! Kata Ayah hantu bisa menembus dinding kan?"
__ADS_1
Aiden mengangguk.
"Kalau begitu,,,,,,," Harry menoleh ke belakang, diikuti oleh Aiden.
"Hantu!!!" Mereka berteriak bersamaan. Berlari menuju pintu namun pintu masih dikunci.
"Hantu! Jangan ganggu kami! Baiklah, aku mengaku! Sebenarnya yang bersembunyi di dalam lemari itu William. Aku membantunya menakuti Harry. Tolong jangan ganggu aku!"
"Apa?" Harry menoleh ke arah ayahnya. "Jadi Ayah ingin membantu William?"
"Ya mau bagaimana lagi, Nak. Kau sudah mengganggu Ayah dan Ibu malam ini. Makanya Ayah membalasmu."
"Aku hanya ketakutan, Yah."
"Ya sudah, Ayah minta maaf, ya."
"Iya, Yah. Aku juga minta maaf telah mengganggu Ayah dan Ibu yang sedang tidur." Mereka berdua pun berpelukan.
"Lihatlah William! Mereka ketakutan. Misi kita berhasil!" Haira menyibakkan rambutnya ke belakang dan menoleh ke belakang yang ternyata ada William disana.
"Haira! William!" Aiden terkejut melihat mereka.
"Kenapa kau melakukan ini, sayang? Dan kau William, kenapa kau ikut mengerjai Ayah. Sedangkan tadi Ayah sudah membantumu."
"Maaf, Yah. Tadi Ibu memaksaku. Jika aku tidak mau, maka Ibu akan menyuruh ku membersihkan kamar Harry yang berantakan seperti rumah tikus itu." William menggaruk belakang kepalanya.
"Ini balasan karena kau sudah membuat Harry takut. Ayah macam apa yang tega menakut-nakuti anaknya sendiri. Biarpun Harry itu sangat nakal dan usil, suka mengerjai orang, suka membuat huru-hara, suka berbuat onar, suka,,,,,,"
__ADS_1