
"Sayang, ayolah cepat." Aiden memanggil Haira yang sedang berdandan di depan cermin.
"Sabar, sayang."
"Sudahlah, tidak perlu dandan. Mau dandan atau tidak, kau tetap yang paling cantik."
"Tidak, aku ingin terlihat sempurna di matamu. Jangan sampai ada syaiton lagi yang berusaha menggodam mu. Memang, si Naumi itu pergi dari hidup kita. Tapi itu tidak menjamin kalau Naumi Naumi yang lain akan datang."
"Kau tau kan sayang, hanya kau yang aku cintai sejak aku kecil. Mana mungkin aku akan berpaling. Bersama mu saja aku sudah bahagia. Ayolah, kesini. aku sudah tidak sabar." Aiden menepuk sisi ranjang agar Haira segera datang mendekat.
"Kenapa jadi tidak sabaran, sih."
"Aku sudah berpuasa selama seminggu ini. Sekarang saatnya aku berbuka." Aiden mendekati Haira yang masih berdandan lalu memeluk tubuhnya yang masih duduk di depan cermin.
"Lepas, sayang. Nanti lipstik ku rusak."
"Kau ini kenapa jadi sangat peduli kecantikan, sih. Atau jangan-jangan ada adik si kembar disini, ya." Aiden mengelus perut Haira yang rata dan langsing itu.
"Tidak, jangan asal bicara. Aku tidak sedang hamil."
"Lalu kapan kau mau hamil lagi? Aku ingin anak lagi." Aiden mulai meraba bagian atas perut Haira.
__ADS_1
"Lepaskan! Dasar mesum!"
"Mana ada suami mesum pada istrinya sendiri. Ada-ada saja kau ini." Aiden mengusap pipi Haira lalu menciumnya.
"Aku tidak ingin punya anak lagi. Ya, bukannya aku menolak rezeki, tetapi aku sudah cukup mempunyai si kembar. Kau tahu 'kan sifat mereka itu berbeda jauh. Perlu perhatian ekstra agar kedua anak kita bisa saling menerima dan akur. Kalau aku punya anak lagi, pasti perhatian ku akan terbagi. Apalagi Harry senang sekali menjahili William. Kasihan William. Sudah punya adik usil, ditambah adik lagi."
"Kau ini, selalu memperhatikan kepentingan si kembar. Kau memang benar, ya William juga berkata begitu."
"Apa yang dia katakan?" Haira terlihat penasaran.
"Kemarin, saat aku membujuknya, aku berkata padanya 'jika kau terus begini, maka ayah dan ibu akan memberimu satu adik lagi. Kalau kembar lagi, berarti kau akan dapat dua adik lagi' itu yang aku katakan. Dan kau tahu apa katanya? 'Ayah, jangan. Sudah cukup aku mempunyai adik seperti Harry. Jangan ditambah lagi, aku mohon. Baiklah, Ayah, aku akan turun lagi ke bawah' mudah sekali membujuknya, bukan?"
"Jadi dia juga tidak setuju mempunyai adik lagi? Sebegitu besar traumanya pada adik sendiri, ya. Lagipula kenapa Harry bisa se-nakal ini? Padahal kau dulu tidak nakal." Haira tampak berpikir.
"Kan hanya itu?"
"Dan apa kau juga ingat? Kau pernah mendorongku ke selokan, menendang kakiku saat kesemutan, menyiram tubuhku dengan air laut saat aku sedang berjemur, dan yang terparah, kau pernah menaruh beberapa kerang di wajahku saat aku sedang berjemur. Dan setelahnya, wajahku seperti orang aneh. Oma sampai mendatangkan dokter terbaik dari luar negeri agar warna wajahku kembali normal dengan cepat."
Haira tertegun mendengar penuturan Aiden. "Benarkah aku seperti itu? Maaf ya, aku tidak ingat."
"Kau tidak ingat karena sangking banyaknya kenakalan yang kau buat."
__ADS_1
"Sudahlah, sayang kenapa terus diingat? Apa kau ingin berpuasa lagi?" Haira tersenyum penuh makna.
"Tidak, ya kita lupakan saja. Sekarang, ayo kita mulai pertempuran malam ini." Aiden menarik tangan Haira hingga ia berdiri dan menuntunnya ke atas ranjang.
Saat sudah berada di atas ranjang, ia langsung melakukan tugasnya. Hingga saat mereka hendak bersatu, suara gedoran pintu mengacaukan semuanya. Aiden memakai kembali pakaiannya begitu juga dengan Haira. Rasa kesal tengah menguasai hatinya saat ini.
Ia pun membuka pintu dan melihat ternyata itu Harry. Ia pun menarik nafas panjang lalu mengeluarkannya perlahan.
"Ada apa, Harry?"
"Ayah, bisakah aku tidur dengan ayah dan ibu?"
"Hah? Tidur bersama ayah dan ibu? Tapi kenapa? Kau kan punya kamar?"
"Tapi kamarku ada hantunya, Yah."
"Hah? Hantu? Dimana?" Haira menghampiri Harry.
"Di kamarku. Ayolah, Bu, Yah. Lihat sebentar. Aku takut."
"Ternyata anak ayah takut hantu, ya." Aiden mengusap kepala Harry.
__ADS_1
"Ayah, aku serius. Tolonglah, izinkan aku tidur di sini."
"Kita ke kamarmu dan melihat ada apa disana." Aiden melangkah menuju kamar Harry dan diikuti Haira dan juga Harry.