
Haira sudah kembali dengan peralatan melukisnya. Ia pun duduk di kursi dan memasang kanvas.
"Kania, kita mau melukis apa?" tanya Haira.
"Lukis saja diri kita."
"Mana bisa. Kita tidak ada fotonya. Jika melihat cermin, rasanya kurang bagus."
"Itu gampang, ayo kita ambil gambar dengan ini." Kania menunjukkan kamera polaroid yang entah sejak kapan sudah berada di pangkuannya.
"Dari Aiden, ya?"
Kania mengangguk. Mereka pun segera berfoto selfi.
Setelah foto tercetak, Haira menjepitkan foto tersebut di ujung atas sebelah kiri kanvas.
Ia pun mulai melukis foto mereka berdua. Kania hanya tersenyum melihat cara Haira melukis, apalagi ekspresinya yang sangat lucu. Ia seperti sedang melaksanakan ujian kelulusan saja.
"Maaf, Kania, lukisannya jelek, aku memang suka gugup kalau dilihat begitu." Haira meletakkan kuas terakhirnya. Lukisan telah selesai. Dan hasilnya tidak lebih bagus dari lukisan William, anaknya.
"Wah, ini cantik sekali. Bolehkah aku menyimpannya?" Kania berdecak kagum.
"Apa kau yakin? Aku tidak ingin kau bermimpi buruk setelah melihat lukisan ini."
"Aku yakin sekali. Ini adalah hasil tangan dari saudara kembar ku. Apapun yang dia buat pasti sangat indah."
"Kania, aku menyesal baru bertemu denganmu sekarang." Haira memeluk Kania dengan penuh kasih sayang. Ia berusaha untuk tidak menangis kali ini.
"Jangan menyesali apapun. Syukuri saja apa yang kita lewati sekarang ini." Bibir pucat Kania kembali menorehkan senyuman.
__ADS_1
Haira juga tersenyum melihatnya, namun tiba-tiba senyumannya menghilang saat hidung Kania mengeluarkan darah.
"Kania! Kau mimisan." Haira mengambil tisu dan melap darah yang keluar dari hidung Kania.
"Oh, ini terjadi jika aku kelelahan." Kania hanya tersenyum simpul. Padahal, kenyataannya, kini ia sedang menahan sakit yang teramat di tubuhnya.
"Ya sudah, ayo kita masuk saja." Haira pun mendorong kursi roda Kania.
"Tunggu! Lukisannya. Aku ingin lukisannya sekarang."
"Iya, aku ambilkan." Dengan perasaan heran, Haira mengambil lukisan dan memberikannya pada Kania.
Kania terlihat senang saat menerima lukisan tersebut. Ia langsung memeluk erat-erat lukisan itu.
Haira merasa heran melihat tingkah Kania. Seharusnya ia tidak perlu melakukan hal itu. Gelagatnya seperti takut kehilangan saja.
Ia kembali mendorong kursi roda Kania ke dalam rumah. Dokter Rika yang mengetahui bahwa kondisi Kania mulai memburuk, langsung membawanya ke kamar untuk beristirahat.
"Kania hanya perlu istirahat."
"Hanya istirahat saja?"
"Iya."
Haira merasa heran dengan ucapan Dokter Rika. Kenapa ia tidak mau memanggil dokter yang pernah menangani Kania saja.
"Haira, apa sudah selesai melukisnya?" tanya Aiden.
"Sudah, kenapa?"
__ADS_1
"Anak-anak menelepon." Aiden memberikan ponsel ke Haira.
Haira pergi membawa ponsel ke kamar karena mereka melakukan panggilan video Call.
"Ibu! Aku rindu! Awas, Will, aku sedang bicara." Harry dan William tampak berebut ponsel.
"Iya, Sayang, Ibu juga rindu. Tapi sabar ya, sebentar lagi Ibu akan pulang dengan Bibi Kania."
Tiba-tiba ponsel direbut Resya. "Kakak! Bagaimana keadaan Kak Kania?"
"Bibi! Berikan ponsel kami!" Terdengar suara Harry meminta ponsel dikembalikan.
"Nanti dulu, Harry! Diam dulu!" Resya memelototi Harry dan setelahnya, suara Harry dan William tidak terdengar lagi.
"Kau cerewet sekali." Haira menggelengkan kepalanya.
"Bukan aku yang cerewet, tapi anak-anak yang nakal. Lihat betapa hancurnya Dean saat ini." Resya mengarahkan ponsel ke Dean yang sedang terduduk lemas dengan wajah dan baju yang dicoret dengan spidol. Sepertinya itu dilakukan saat Dean tidur di sofa.
"Astaga, ternyata mereka juga melukis tapi di tempat yang salah. Kabar Kania baik-baik saja, jangan khawatir, aku akan membawanya ke kota setelah keadaannya membaik."
Resya memasang wajah penuh keraguan, namun ia tidak mungkin menghancurkan harapan kakaknya.
"Sampaikan salam ku padanya."
"Akan aku sampaikan. Mana anak-anak?"
"Itu." Resya kembali mengarahkan ponsel ke arah Harry yang asyik mencoreti jari-jari Dean.
"Astaga! Tangani mereka, Resya, kasihan Dean dianiaya."
__ADS_1
"Iya, Kak. Ya sudah, jaga dirimu, ya."
Panggilan video pun mati.