
Haira dan Aiden sudah sampai di bangunan kecil tersebut. Mereka langsung memasuki ruangan dengan disambut seorang wanita muda.
"Selamat datang, Tuan. Anda sudah ditunggu oleh Pak Ngatiran," ucap wanita muda itu dengan sopan.
"Baiklah, terima kasih," sahut Aiden.
"Mbah, ini ada Tuan Aiden dan Nyonya Haira."
"Oh, lagi-lagi," gumamnya. "Silakan duduk," ucap Pak Ngatiran.
"Anda Pak Ngatiran?" tanya Haira.
"Iya, kenapa? Kau tidak suka?" tanya balik Pak Ngatiran.
"Oh, tidak, Pak. Saya hanya terkejut saja melihat pria berumur hampir delapan puluh tahun masih sehat dan bugar seperti ini." Haira menatap penampilan Pak Ngatiran yang masih dibilang berpenampilan modern. Tidak seperti bayangannya tadi. Ia membayangkan Pak Ngatiran memakai sarung, tongkat, kacamata, dan pipa cerutu.
"Tentu saja kalian terkejut. Karena kalian yang masih muda ini pasti sudah merasakan tanda-tanda penuaan dini karena terlalu bekerja keras."
__ADS_1
Mendengar ucapan Pak Ngatiran yang asal ceplas-ceplos membuat Haira diam sejenak. Sedangkan Aiden yang sudah diperingatkan oleh Sevina sebelumnya, tentu ia sudah hapal bagaimana sifat Pak Ngatiran yang asal bicara tetapi tidak ada yang bisa mengalahkannya kecuali menakutinya dengan kekuatan fisik, hanya bisa diam mendengarkan Haira mulai berdebat hal yang tidak penting dengan kakek tua yang satu ini.
"Bapak pakai susuk, ya." Haira menyipitkan matanya. Menatap curiga pada Pak Ngatiran.
"Astaghfirullahalazim! Haira jaga bicaramu!" Aiden memperingatkan Haira. Jantungnya serasa mau copot mendengar tuduhan Haira kepada Pak Ngatiran.
"Hahaha, kau ini lahir tahun berapa, sih? Masih percaya dengan hal seperti itu." Pak Ngatiran tertawa sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa Bapak masih bugar seperti ini? Ayo, katakan apa rahasia Bapak?" Haira menatap serius kepada Pak Ngatiran.
"Oh, jadi istri Bapak sudah meninggal, ya? Saya turut berdukacita, ya." Haira menatap sedih.
"Terima kasih, kau seperti istri baru saya, selalu saja menyemangati saya." Pak Ngatiran melirik wanita muda yang membukakan pintu untuk Haira dan Aiden tadi.
"Dia istri baru Bapak?" tanya Haira dengan tatapan heran.
"Ya, dia istri ketiga saya. Yang pertama Almarhumah Mona, yang kedua Nyai Ratih, dan yang ketika Dek Marni." Menunjuk wanita muda yang ternyata bernama Marni.
__ADS_1
"Oh, hebat Bapak! Di umur segini masih kuat dengan dua istri!" Haira berdecak kagum.
"Tentu saja. Saya ini 'kan multitalenta," ucap Pak Ngatiran dengan bangga.
"Baiklah, Pak Ngatiran, mari kita bicarakan hal yang penting-penting saja. Bagaimana dengan perkembangan tempat wisata ini. Saya bermaksud menambah investasi di tempat ini agar penyediaan kolam ditambah lagi. Dan masih tetap tidak boleh menyentuh kolam tempat anak-anak kami mandi. Dengan begitu, saham saya disini berjumlah lima puluh persen." Aiden mengutarakan niatnya. Selain itu, ia merasa jengah mendengar obrolan absurd antara Haira dan Pak Ngatiran.
"Tentu saja bisa. Kita akan membuat apapun yang kalian inginkan," sahut Pak Ngatiran.
'Sepertinya ada yang salah. Kenapa dia langsung setuju, ya?' batin Aiden.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih, Pak. Saya akan segera buatkan surat-suratnya. Kita akan bertemu lagi besok. Saya tidak menyangka Bapak akan langsung menyetujuinya. Bapak sangat baik," puji Aiden.
"Istrimu sangat baik dan ramah. Baru kali ini saya menemukan lawan bicara yang cocok. Saya sangat menyukainya. Haira, jika suamimu ini tidak panjang umur, datanglah padaku, ya." Tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi palsu yang putih dan bersih.
"Astaghfirullah! Nyebut, Pak. Sudah tua, sudah uzur, bau tanah!" seru Aiden dengan wajah yang tegang.
Haira yang mendengar ucapan Aiden sontak terkejut. Bisa-bisanya Aiden yang kalem dan selalu legowo malah berkata seperti itu.
__ADS_1