Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Siuman


__ADS_3

Haira membuka matanya. Samar-samar ia lihat Aiden yang tengah berdiri tepat di ujung ranjang. Sedangkan si kembar duduk di kedua sisinya.


"Ibu! Ayah, Ibu sudah sadar!" seru Harry dengan perasaan senang. Begitu juga dengan William, ia langsung memeluk Haira yang masih belum berbicara.


Aiden menghapus air matanya yang jatuh berlinang sejak melihat Haira sadar. Ia mengucap Hamdallah dengan suara pelan sembari menghadap ke atas. "Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah."


Aiden menghampiri Haira lalu mencium keningnya. Setelah itu, ia keluar dan memanggil dokter guna memeriksa keadaan Haira.


"Alhamdulillah, kondisinya sudah stabil. Hanya saja, jangan diajak bicara terlalu banyak. Tenggorokan Nyonya Haira masih sakit," ujar sang dokter.


"Terima kasih, Dok."


Segera, setelah dokter itu pergi, Aiden menghampiri Haira yang masih diapit kedua anaknya di sisi kanan dan kiri.


"Harry, William. Ibu sudah sadar. Sekarang tidurlah, ibu belum boleh banyak bicara." Aiden tersenyum lembut pada mereka berdua.

__ADS_1


Harry dan William menoleh ke Haira yang kemudian mendapat anggukan darinya. Mereka pun mencium pipi Haira lalu berjalan ke sebuah sofa lebar nan empuk kemudian berbaring di atasnya. Menangis dengan kurun waktu yang lama membuat mereka kelelahan dan langsung tertidur dalam hitungan menit.


Aiden duduk di sisi kanan Haira. Memegang tangannya lalu mencium punggung tangan halus itu. Ia membelai kepada Haira dengan lembut sembari meneteskan air mata. Haira mengusap air mata Aiden lalu menggeleng.


"Telepon itu palsu. Aku sudah memastikan bahwa Dean dan Resya baik-baik saja. Kau tenang saja, aku sedang mencarinya. Dia akan menerima balasan setimpal atas perbuatannya."


Haira mengangguk mengerti. Berat rasanya mengucapkan sepatah katapun karena tenggorokannya masih sangat sakit.


"Lain kali makanlah dengan pelan meski kau dalam keadaan lapar. Jangan tertawa atau berbicara saat makan, atau aku bisa mati karena mu." Aiden mengusap pipi lembut istrinya itu.


"Kakak!" Resya masuk ke ruangan Haira lalu memeluknya.


"Kakak Ipar, kenapa bisa begini?" tanya Resya pada Aiden.


"Resya, pelankan suaramu. Anak-anak sedang tidur." Aiden menunjuk Harry dan William yang sedang tertidur lelap di atas sofa.

__ADS_1


"Oh, manisnya." Resya berdecak kagum melihat kedua anak tampan itu tidur dengan sangat nyenyak. "Oh ya sampai dimana tadi?" Kembali menatap Aiden.


"Kau tanya kenapa bisa begini, 'kan?" Aiden pun mulai menceritakan apa yang terjadi pada Haira. Mulai dari telepon misterius hingga tersedak yang hampir merenggut nyawa Haira.


Resya terdiam. Ia mulai berpikir. "Sepertinya orang ini sangat mengenal Kak Haira. Dia sampai tahu jika mendengar kabar buruk tentangku, maka Kak Haira akan syok. Dia sangat tahu betul jika kami saling bergantung."


"Kali ini kau sangat pintar, Resya. Tidak sia-sia Dean menjadi suamimu. Dia berhasil membuatmu menjadi lebih pintar," puji Aiden.


"Dean! Astaga! Aku melupakannya. Dia pasti masih berada di parkiran rumah sakit. Tadi aku meninggalkannya karena ingin ke kamar mandi. Pasti dia masih menungguku. Kakak Ipar, aku akan segera kembali." Resya pun bergegas keluar dari ruangan itu. Ia berjalan secepatnya menuju parkiran.


"Aduh kenapa aku bisa lupa. Seharusnya dari kamar mandi aku kembali ke parkiran dulu, bukan malah mencari ruangan Kak Haira. Dean, Mike, maafkan aku." Resya semakin mempercepat langkahnya.


"Lihatlah adikmu. Dia sama seperti dirimu yang pelupa. Hanya saja dalam versi yang berbeda. Kau sering lupa dengan barang-barang, sedangkan dia lupa dengan suaminya sendiri. Astaga, bagaimana bisa ada orang yang melupakan pasangannya sendiri." Aiden menggelengkan kepalanya sembari tertawa. Sedangkan Haira hanya tersenyum geli mendengar ucapan Aiden.


Ya, dia tak kan tahu jika perkataannya barusan mungkin saja akan terjadi pada salah satu anggota keluarganya kelak.

__ADS_1


__ADS_2