Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Masih Jadi Pelakor


__ADS_3

Sepulang dari acara konferensi pers, Aiden dan Haira pulang ke rumah.


"Sayang, bagaimana perasaan mu?" tanya Aiden sambil merangkul pundak Haira dan membimbing nya ke dalam rumah.


Pengawal tampak bertebaran di segala penjuru rumah. Ada yang di depan, samping kanan dan kiri, belakang, ujung setiap gerbang rumah mereka dan juga bertebaran di dalam rumah tepatnya di setiap sudut ruangan.


"Rasanya lelah," sahut Haira.


"Bukan perasaan tubuhmu tapi hatimu," ulang Aiden.


"Aku merasa senang telah mengetahui kebenaran tentangmu. Tapi aku rindu kehidupan kita sebelumnya. Aku rindu bergosip dengan para tetangga, aku rindu dangdutan di pesta orang, aku juga rindu naik motor." Haira terlihat sedih.


"Kau bisa dangdutan di ruang teater di rumah ini sayang. Soal ghibah bisa kau lakukan dengan para istri pejabat yang ada disekitar sini. Tapi kalau naik motor aku tidak bisa mengizinkanmu karena itu berbahaya untukmu yang sedang hamil," jelas Aiden.


"Mana bisa aku mengobrol dengan mereka. Mereka itu kan ibu-ibu sosialita. Beda halnya dengan bu Asih dan bu Evi. Mereka itu sederhana dan bahan ghibahnya itu orang-orang sombong. Kalau di sini pasti yang dibicarakan hanya barang mewah, berlian, traveling keluar negeri, aku tidak suka," keluh Haira.


"Ya sudah nanti sore kita ke rumah lama dan menginap disana ya. Ini kan hari sabtu. Tapi kita akan tetap membawa pengawal dan seorang pelayan agar mengurus makananmu," ujar Aiden.

__ADS_1


"Benarkah? Terima kasih sayang, tapi jangan pakai pelayan. Cukup kau saja yang memasak. Aku ingin makan masakan mu," ucap Haira sambil mengedipkan matanya berkali-kali pada Aiden.


Aiden menghela nafas pelan. "Oke baiklah. Apapun permintaan mu nona muda."


"Tuan," sapa Dean yang baru saja datang.


"Dean? Ada apa?" tanya Aiden.


"Be-gini tuan. Jika sekarang identitas tuan sudah diketahui, maukah nona Haira mencabut ucapannya tentang pelakor dan penyuka sesama jenis?" Dean berbicara dengan hati-hati.


"Maaf nona, tapi kata itu pernah nona ucapkan. Maukah nona menarik nya kembali?"


"Aku akan menariknya jika kau berkencan dengan seorang wanita. Selama kau masih jadi Jones alias jomblo ngenes, jangan harap aku akan mencabut ucapan ku." Menarik tangan Aiden dan merentangkan kedua tangannya di depan tubuh Aiden. "Jika kau tidak melakukannya, aku akan tetap mencurigaimu. Kau hanya asisten tapi perhatian mu melebihi aku." Haira menatapnya dengan tatapan sinis.


"Tapi nona."


"Sssssssstttttt. Tidak ada tapi-tapian. Jauhi suamiku sebelum kau berkencan dengan seorang gadis. Kau hanya boleh mendekati kami jika berada di luar. Tapi ketika kau berada di dalam rumah, aku akan mengawasimu." Haira menunjuk kedua matanya dengan jari tengah dan telunjuk lalu mengarahkannya ke mata Dean.

__ADS_1


Dean hanya bisa diam dengan perasaan kesal yang membuncah. "Saya permisi nona." Dean membungkukkan badan dan pergi meninggalkan mereka.


"Sayang, kenapa kau kejam sekali pada Dean?"


"Aku tidak kejam, aku hanya ingin dia memiliki seorang pendamping. Rasanya sangat aneh pria sepertinya hanya memikirkan dirimu saja," ucap Haira.


"Sejak kapan kau mengurusi percintaan orang?" tanya Aiden.


"Entah lah. Sudah lah, aku pusing. Ayo bersiap. Aku ingin memberikan baju dan makanan untuk bu Asih dan bu Evi," ucap Haira.


"Ya sudah tulis saja, biar pelayan yang akan membelikannya," ucap Aiden.


"Kenapa tidak kita saja yang belanja?" tanya Haira.


"Wajahku masih viral. Akan sangat sulit jika kita pergi ke tempat ramai."


"Oh ya sudah, aku mau nonton tv dulu." Haira pergi ke kamar dan menyalakan televisi. Dan terang saja, dia langsung kesal karena semua chanel menyiarkan berita tentang mereka. Seolah kemunculan Alexander menjadi berita paling hot yang sayang jika dilewatkan.

__ADS_1


__ADS_2