
Seminggu telah berlalu. Kini Aiden sudah pulih dan diperbolehkan pulang. Jelas saja lekas pulih, dia kan hanya pura-pura koma.
Haira sudah mengemas pakaian yang akan dibawa pulang.
"Sayang, sudah siap untuk pulang?" tanya Haira.
"Sudah, ayo," ajak Aiden.
Mereka pun segera pergi ke parkiran untuk mengambil mobil. Namun, yang terlihat malah Dean yang tengah berdiri di depan mobil mereka. Namun anehnya dia bukannya memakai seragam taxi melainkan pakaian seperti seorang direktur.
"Hei, Kenapa kau disini? Minggir kami mau pulang!" Haira berkacak pinggang.
"Saya yang akan mengantarkan tuan dan nona." Dean tersenyum ramah.
"Apa? Tidak bisa. Dia akan ikut bersamaku." Haira merentangkan tangannya seakan menghalangi Dean mengambil Aidennya.
"Sayang, biar saja dia mengantar kita. Kan sudah aku jelaskan bahwa dia bukan pelakor. Dia masih normal," jelas Aiden.
__ADS_1
"Aku masih belum percaya." Haira menatap sinis ke arah Dean.
"Nona saya tidak menyukai laki-laki. Saya masih menyukai wanita, saya ini normal," jelas Dean.
"Lalu mengapa penampilan mu seperti wakil Alexander yang botak itu!"
"Nona dia tidak botak. Rambut nya sudah mulai tumbuh," ujar Dean.
"Terserah aku. Mau aku menyebut dia botak saat rambutnya tumbuh gondrong pun itu terserah ku!"
Dean menghela nafas panjang. "Nona, mari saya antar," tawar Dean lagi.
"Ya sudah, tapi hanya kali ini saja kau menjadi supir suamiku."
Haira membukakan pintu mobil agar Aiden bisa masuk. Setelah semua masuk, mereka pun segera berangkat.
Namun di tengah perjalanan Haira melihat jalur yang diambil Dean berbeda dengan jalur rumah mereka.
__ADS_1
"Dean, kau mau bawa kami kemana? Kau mau menculik kami ya? Sayang, telepon polisi!"
"Tenang lah sayang, Dean akan membawa kita pulang ke rumah." Aiden berusaha menenangkan Haira yang sedikit panik.
"Rumah, jelas-jelas rumah kita itu ke arah sana. Kepalamu terbentur cukup keras sayang, mungkin kau lupa jalan pulang," ucap Haira sambil memegangi kepala Aiden.
"Tidak, rumah kita memang arah sini," sahut Aiden.
"Astaga aku rasa benturan di kepalamu membuat mu menjadi sedikit berhalusinasi sayang. Kemarin kau bilang kau Alexander dan sekarang kau bilang ini jalur menuju rumah kita. Apa kau sadar, jalur ini menuju perumahan mewah yang ayahku sendiri saja tidak akan mendapatkan nya meski sudah menjual perusahaan nya. Sadarlah sayang!" Haira terus berceloteh.
Aiden hanya bisa diam. Menjelaskan siapa dirinya hanya akan membuat Haira beranggapan bahwa dia sudah gila.
Sedangkan Dean terlihat mencengkram kemudi dengan kuat. Telinganya terasa panas mendengar celotehan Haira sepanjang jalan. Belum lagi segala tuduhan yang dilontarkan Haira kepada nya membuat nya ingin keluar dan menemui batu batangkup agar mau menelan dirinya.
Celotehan Haira mulai reda kala mereka sampai di sebuah rumah yang paling mewah di perumahan itu. Tepat di atas gerbang itu tertera ukiran nama Alexanser.
Tepat saat mereka sampai di depan gerbang yang menjulang tinggi itu, beberapa penjaga membukakan gerbang dan menunduk hormat kala mobil masuk melewati mereka.
__ADS_1
Kebingungan Haira tak sampai disitu saja. Dia melihat Dean turun dan beberapa orang berbadan kekar datang dan membukakan pintu untuk mereka.
Aiden mengajak Haira untuk turun. Setelah mereka keluar mobil, tampak jelas kemegahan rumah yang sangat luas itu. Penjaga ada dimana-mana. Dan lebih mencengangkan, Haira melihat baling-baling Helikopter di belakang rumah itu namun terhalang oleh tembok yang lumayan tinggi sebagai pembatas.