
Pagi hari, dalam perjalanan menuju kampung halaman orang tua Haira dengan sebuah mobil mewah.
Libur telah tiba
Libur telah tiba
Hore! Hore! Hore!
"William, ayo bernyanyi!" seru Harry.
"Kau saja yang bernyanyi. Kau tahu kan aku tidak suka bernyanyi, apalagi mendengar orang bernyanyi."
"Oh jadi kau tidak suka ya melihat ibu bernyanyi." Haira mendekatkan tangannya ke telinga William.
"Tidak, Bu. Kalau Ibu yang bernyanyi aku pasti suka. Jika orang lain, aku kurang suka."
Haira tersenyum puas mendengarnya. "Anak pintar." Mengusap kepala William dengan gemas.
'Pada anak pun dia tidak mau mengalah. Maunya dipuji terus. Untung kedua anak kami penurut.' batin Aiden.
"Ibu, di Villa banyak wahana bermain, 'kan?" tanya Harry.
"Ada, sayang. Bibi Resya dan Paman Dean membuatnya khusus untuk kalian," sahut Haira.
"Kalau ruang untuk meditasi ada, tidak, Bu?" tanya William.
__ADS_1
"Ada, sayang. Paman Dean, Ayah, dan Kau sangat membutuhkan ruangan itu." Haira mengusap kepala William.
"Benar juga, ya. Ini kali pertamanya kalian kesana setelah lima tahun, 'kan? Lalu kenapa kalian meminta liburan kesana padahal kalian belum tahu tempatnya. Disaat anak-anak lain meminta liburan ke luar negeri, kenapa kalian malah liburan ke desa?" Aiden menatap curiga. Pandangannya pun beralih ke Haira yang langsung membuang muka. Melihat ke luar jendela seakan tidak mendengar ucapan Aiden.
Suasana hening, namun Aiden tetap menatap Haira yang sesekali menoleh ke arahnya kemudian kembali menatap keluar jendela. Tampak jelas bahwa Haira menghindari tatapan Aiden.
Merasa Aiden tak berhenti menatapnya, Haira pun mengalah dan menatap Aiden dengan tatapan sinis. "Apa! Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau yang mengatur semua ini, 'kan?" Masih menatap curiga.
"Ya sudah kalau keberatan. Kita pulang saja!"
"Bukan, bukan itu maksud ku. Kenapa kau tidak lebih sabar barang seminggu lagi. Padahal aku sedang membangun ruang karaoke disana. Tetapi karena kita datang terlalu cepat, ruang karaoke itu belum seutuhnya selesai."
"Benarkah? Kenapa kau tidak bilang?" Haira menatap kesal.
"Yah, padahal ruangan itu sangat ku butuhkan." Haira menghela nafas panjang.
"Lagipula kenapa Resya tidak membangunnya saat itu!" Menyilangkan tangan ke dada.
"Dia sudah membangunnya. Tetapi Dean melarangnya. Katanya, anak-anak tidak boleh terlalu sering mendengar kau dangdutan atau mereka akan menjadi sepertimu."
"Dean bilang begitu? Awas kau Dean!" Haira mengepal tangan kanannya dan meninju tangan kirinya.
"Ya, tapi karena rasa sayangku padamu, maka aku membangunnya."
__ADS_1
"Terima kasih, sayang." Haira mengusap lengan Aiden.
"Bu, Yah. Jika besar nanti, apakah kami bisa menjadi pasangan sebahagia Ayah dan Ibu?" celetuk Harry.
"Pasangan? Sejak kapan kau peduli akan hal itu?"
"Kata William, jika aku terus usil padanya, maka saat besar nanti aku akan membuat pasangan ku kerepotan. Apa benar begitu?"
Aiden dan Haira menatap Wiliam secara bersamaan. William yang mendapat tatapan seperti itu langsung tertunduk.
"Apa anak Ayah dan Ibu yang satu ini sering menonton film romantis?"
"Tidak, Yah. Aku hanya mengikuti nasihat Oma buyut. Katanya, kalau anak baik akan mendapatkan pasangan yang baik."
"Astaga, Oma lagi." Aiden menepuk dahinya.
"Mungkin Oma tidak sabar menunggu cicitnya tumbuh dewasa." Haira tertawa.
"Ya mau bagaimana lagi, cucunya hanya aku seorang."
"Sudah cuma satu, kaku pula." Haira mencibir.
"Kaku begini, tapi akulah pendengar setia mu saat kau bernyanyi dimana pun itu, bahkan di kamar mandi sekalipun."
Sontak ucapan Aiden membuat seisi mobil tertawa kecuali sang sopir yang sejak tadi menahan tawa melihat kekocakan keluarga Cemara yang satu ini.
__ADS_1
Hingga mobil terus melaju menembus jalanan yang begitu jauh dan membuat satu keluarga itu tertidur dengan pulas saat sudah mencapai separuh perjalanan.