
Hari ini pun tiba. Haira dan Aiden pergi ke tempat dimana saudara kembar Haira berada. Mereka berada di sebuah desa yang tak lain adalah desa tempat mereka lahir. Seperti kata Aiden sebelum berangkat tadi, bahwa Kania meminta dirawat di desa tempat orang tuanya agar kelak jika ia meninggal, makamnya akan berada dekat dengan makam kedua orang tuanya.
Si kembar William dan Harry tidak ikut karena mereka harus sekolah. Dan mereka diasuh oleh Resya dan Dean selama mereka pergi.
Sepanjang perjalanan, Haira banyak diam. Ia terus memandangi keluar jendela. Pikirannya terus dibayangi sosok yang akan ia temui nanti. Dari foto itu saja, ia dapat melihat betapa memprihatinkan nya keadaan Kania yang sangat kurus karena penyakitnya.
"Haira, apa kau baik-baik saja?" Aiden mengusap punggung tangan Haira.
Haira menoleh ke arahnya. Ia menorehkan sedikit senyuman. Wajahnya tak lagi menunjukkan raut wajah seperti biasanya. Yang kini menghiasi wajahnya hanya ekspresi wajah yang redup dan sedih.
"Aku baik-baik saja," sahut Haira yang kemudian disusul air mata yang jatuh berlinang.
Aiden meraih Haira ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Haira menangis melepaskan kesedihannya.
'Inilah yang aku takutkan ketika kau mengetahui semua ini. Aku kehilangan sosok Haira ku yang ceria dan bahagia,' batin Aiden.
__ADS_1
"Terlalu menyakitkan untukku berkata bahwa aku baik-baik saja. Aku sedang tidak baik-baik saja. Aku sedang bersedih, aku terluka!" Haira memukul-mukul pelan dada Aiden sambil terus menangis. Rasanya memang menyesakkan dada.
"Haira, apa kau tahu sesuatu yang akan membuat Kania bahagia?"
"Apa?"
"Orang yang sedang sakit tidak suka melihat orang lain menangis melihatnya. Dia pasti akan berpikir bahwa dia telah membuat orang lain bersedih. Dan itu malah tidak bagus untuk mentalnya."
Haira melepaskan pelukannya, lalu menatap Aiden dengan serius. "Benarkah? Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kau berkata seolah dia akan pergi selamanya." Haira menunduk sedih.
"Dia hanya memerlukan kasih sayang, bukan kesedihan mu. Kita tidak bisa memprediksi hidup seseorang. Tapi setidaknya kita bisa membuatnya bahagia meski itu adalah saat-saat terakhirnya."
Haira kembali mengangkat wajahnya. Ia menghapus air mata dan juga ingus yang sudah memenuhi hidungnya dengan tisu, lalu membuangnya ke plastik yang dikhususkan untuk tempat sampah.
__ADS_1
"Aku mengerti. Aku tidak akan menunjukkan kesedihan ku padanya. Bahkan, aku akan mengajaknya karaoke dangdut dan juga berjoget." Haira terlihat antusias.
"Sayang, mungkin menyanyi bisa. Tapi berjoget, aku rasa tidak."
"Iya, aku baru ingat. Ya, menyanyi saja pun tidak masalah asal dia senang." Haira tersenyum kecil.
"Apa kau tidak ingin menanyakan apa yang disukai dan tidak disukainya?"
"Benar juga. Apa yang dia sukai dan tidak disukainya?"
"Dia suka melihat orang melukis pemandangan taman bermain. Sedangkan yang tidak disukainya adalah suara nyanyian yang memekakkan telinga."
"Tidak masalah, suaraku sangat merdu bukan?" Haira menatap Aiden dengan tatapan penuh harapan.
"Ya, kalau bagimu bagus, be-belum tentu bagi orang lain bagus. Sebaiknya kau bernyanyi tanpa musik saja. Orang sakit biasanya tidak bisa mendengarkan suara yang keras," ucap Aiden. 'Dan juga suara cempreng,' batinnya.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti. Aku juga tidak ingin dia kenapa-kenapa karena mendengar suaraku." Haira menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia merasa sedikit lega karena nasihat dari Aiden. Memang benar, menangis tidak akan membuat Kania lebih baik. Kenapa harus menangis, jika ia bisa membuat Kania tersenyum.