
Pesta telah usai. Haira dan Aiden pun segera pulang.
"Sayang, kita jadi 'kan ke hotel." Aiden terlihat sumringah.
Haira yang sedang memikirkan sesuatu tak mendengar dan menjawab ucapan Aiden.
"Sayang." Aiden menyentuh bahu Haira hingga membuat Haira terkesiap dari lamunannya.
"Eh, iya, tadi kau bilang apa?"
"Malam ini jadi 'kan?" Aiden mengulangi pertanyaannya.
"Kita mau apa?"
"Kita akan ke hotel, kau ingat?"
"Oh hotel. Iya, baiklah."
Aiden menangkap gelagat aneh pada Haira sejak di pesta tadi. Ia seakan ingin menghindar dari rekan-rekan kerja Aiden.
"Sayang, apa kau sedang tidak enak badan?" Aiden memegang dahi Haira untuk mengecek suhu tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja." Haira mencoba mengulas senyuman di wajahnya.
"Kita langsung pulang saja ya." Sepertinya Aiden mengerti jika ada sesuatu yang membebani pikiran Haira.
"Iya, aku rindu si kembar." Haira mengangguk.
Sejenak keduanya terdiam. Namun setelahnya, Haira kembali berbicara.
"Sayang."
Aiden menoleh. "Hmm, ada apa sayang?"
"Tentu saja sayang. Aku juga tidak ingin mati terlalu cepat. Aku ingin melihat mereka tumbuh dewasa dan membanggakan keluarga Alexander."
Haira kembali mengulas senyuman, namun wajahnya masih tampak sedih. Aiden bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Haira.
"Sayang, apa yang mengganggumu?" Aiden mencoba bertanya lagi.
"Tidak ada. Aku hanya bahagia menjadi istrimu." Haira bergelayut manja di lengan Aiden.
"Aku juga bahagia menjadi suamimu." Aiden mengusap kepala Haira dengan gemas.
__ADS_1
Lama kemudian, mereka sampai di rumah. Haira langsung bergegas menemui si kembar dan meninggalkan Aiden yang mendapat telepon penting. Haira melihat kedua anaknya yang tertidur di ranjang box mereka. Haira membelai pipi William dan Harry dengan perlahan.
"Ibu berjanji, kalian tidak akan mengalami nasib seperti ibu. Ibu akan selalu ada bersama kalian. Melihat kalian tumbuh dewasa dan menikah." Haira menyeka sudut matanya yang basah oleh air matanya.
Lama Haira memandangi kedua anaknya sampai langkah kaki yang datang mendekat membuatnya buru-buru menghapus bekas tangisannya.
"Sayang, mereka sudah tidur?" tanya Aiden setengah berbisik.
"Sudah. Aku mau ganti baju dulu." Haira pergi meninggalkan Aiden yang masih memandangi kedua putranya yang sudah tertidur pulas.
"Ibu tadi curhat apa? Tidak biasanya dia berlama-lama di sini jika kalian sudah tidur." Aiden berbicara sendiri sambil membelai kepala kedua anaknya secara bergantian.
Aiden melangkah pergi ke kamar dan melihat Haira sudah berganti baju dengan piyama. Ia sedang bersiap untuk tidur.
"Sudah mau tidur?" tanya Aiden.
"Aku sedikit lelah."
"Ya sudah, aku ada pekerjaan sebentar. Tidurlah duluan." Aiden pergi ke ruang kerjanya.
Haira membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Bulir air mata kembali membasahi pelipis matanya. Ia masih mengingat perkataan Naumi saat di pesta tadi. Ia sadar, jika diantara istri-istri rekan kerja Aiden, hanya dialah yang tidak memiliki orang tua dan malah dimanfaatkan oleh kakak kandung ayahnya sendiri sebagai alat untuk balas dendam. Tragis memang, dirinya dan Aiden sama-sama tidak memiliki orang tua sejak kecil. Bedanya, Aiden adalah seorang miliarder sehingga kekurangannya itu tidak terlihat oleh publik. Justru keberadaan Haira yang disorot karena pamannya sendiri adalah pembunuh orang tua Aiden juga orang tuanya.
__ADS_1