
"Halo."
"Halo kakak."
"Ada apa Resya?"
"Kak, darimana kau mendapatkan surat itu?"
"Sudahlah kau tidak perlu tau, yang penting kita punya bukti aibnya. Sekarang kau hanya harus fokus pada rencana kita untuk menjebaknya ke publik bersama si pelakor itu. Kakak akan berusaha mengeluarkan mu dari rumah laknat itu."
"Terima kasih kak, oh ya selamat atas kehamilanmu."
"Terima kasih, aku menyayangi mu."
Telepon pun mati.
Resya menatap ke langit kamarnya dan mengenang sesuatu.
Flashback On
Dua minggu yang lalu.
Resya sedang menangis tersedu di sebuah taman. Saat itu bertepatan Haira sedang lewat tanpa Aiden yang sedang ada pekerjaan dadakan. Haira turun dari taxi Dean dan mengusirnya untuk setengah jam.
Setelah Dean pergi
"Resya." Haira menyentuh pundak Resya saat sudah berada didekatnya.
__ADS_1
Resya mendongak dan terkejut melihat Haira. Dengan cepat dia beranjak dari duduknya dan berusaha pergi.
Haira menahan tangan Resya. "Katakan Resya," ucapnya.
Resya hanya diam tanpa menoleh.
"Aku kakakmu, aku tau wajahmu saat sedih ataupun senang."
Dengan mata berkaca-kaca, Resya langsung memeluk Haira dan menangis. Dia mulai bercerita mulai dari perselingkuhan Ziko hingga membawa istrinya ke rumahnya.
"Pantas saja saat berbulan madu, aku seperti melihat Ziko dengan wanita lain. Bagaimana dengan tuan Zen?" tanya Haira.
"Dia sama saja kak, dia bahkan menyuruhku diam saja."
"Astaga, mereka memang tidak tau diri!" Haira terlihat geram.
"Resya, sudahlah. Dengarkan aku. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu." Haira membimbing Resya berdiri kembali, setelah itu mereka berpelukan.
"Kakak, tolong aku. Ziko tidak mau melepaskan ku. Entah apa salahku hingga dia menyiksaku dengan cara seperti ini," ucap Resya.
"Kakak berjanji akan membebaskanmu. Sekarang kau harus tetap pada peranmu. Kakak akan segera mencari celah untuk menjebaknya agar kau bebas."
"Apa kakak yakin kalau kita bisa melawan nya? Dia itu Atmajaya kak. Kita hanya anak dari pengusaha biasa, tidak sebesar Ziko. Dia bisa melakukan apa saja untuk memutar balikkan fakta."
"Kita harus yakin, kebaikan akan menang melawan kejahatan," ucap Haira dengan penuh keyakinan.
"Terima kasih kak, kau masih mau memaafkanku meski aku sudah melukaimu." Resya kembali memeluk Haira.
__ADS_1
"Kau adikku. Selamanya akan tetap jadi adikku." Haira membalas pelukan nya.
"Kakak, apa yang harus aku lakukan setelah ini?" tanya Resya.
"Berpura-pura lah seakan kita masih bermusuhan. Kau bisa menelepon aku jika pria sialan itu tidak di rumah. Ingat, tetap lah pada peranmu sampai kita berhasil menjebaknya," jelas Haira.
"Baik kak, aku menyayangi mu."
Flashback Off
*****
Haira terlihat menaruh ponsel nya di dalam tas nya lalu pergi ke ruangan ayahnya.
"Bagaimana Haira? Apa kau sudah siap berangkat untuk rapat penting ini?" tanya Harsya.
"Sudah yah, aku juga sudah mempersiapkan semua berkasnya. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja," ujar Haira.
Harsya mengangguk. Mereka pun segera pergi bersama sekretaris Harsya. Perjalanan mencapai waktu empat puluh lima menit.
Sesampainya di lokasi, mereka langsung menemui klien dan melaksanakan rapat. Yaitu penayangan siaran secara langsung di stasiun televisi Harsya nonstop tanpa iklan karena mereka akan memperkenalkan produk digital terbaru mereka.
Haira juga diminta membuatkan sebuah iklan untuk produk mereka.
Satu jam kemudian rapat selesai dengan kesepakatan dan tanda tangan kerja sama. Mereka terlihat puas dengan ide yang diberikan Haira agar produk mereka lebih menarik. Yaitu dengan memakai artis yang sedang naik daun seperti Mik Thongraya dan kekasihnya Boy Maylada. Chemistry keduanya diyakini akan menarik perhatian publik, apalagi mereka sedang naik daun.
Selesai dengan rapat itu, mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan siang bersama. Harsya terus memuji-muji Haira karena daya tarik dari kemampuannya selalu membuat klien mereka puas.
__ADS_1