Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Penjahat


__ADS_3

"Menyerah lah Harysa. Kalian sudah dikepung. Tidak ada lagi ampunan untuk kalian," ucap Aiden.


Bukannya, takut Harsya dan Laras sama-sama tersenyum. "Silakan tangkap kami dan kalian akan melihat Resya mati sekarang juga!" Harsya menyeringai.


"Resya! Dimana dia!" Dean terlihat begitu panik.


"Dia ada ditempat yang aman bersama Sarah," sahut Laras.


"Sarah? Apa maksudmu? Jadi kau yang telah menculik Sarah karena dia adalah kunci rahasiamu?" Aiden terlihat sangat marah.


"Tentu saja. Kau begitu lugu menceritakan Sarah kepadaku. Secara tidak langsung kau sudah membocorkan rahasia mu pada musuhmu sendiri," ucap Harsya.


Aiden mengingat saat dia menceritakan perihal Sarah pada Harysa beberapa bulan lalu.


"Kalian benar-benar jahat. Katakan dimana Resya??" Aiden berteriak.


"Tanda tangani pengalihan hartamu kepada kami maka kami akan membebaskan Resya. Dan bebaskan tuntutan mu kepada kami!" ancam Laras.


"Kalian benar-benar licik. Kalian gila harta sehingga kalian tega membunuh orang tuaku!" teriak Haira.


"Salahnya sendiri kenapa tidak mau memberikan jatah warisannya kepadaku. Dia mendapat bagian yang banyak hanya karena merawat orang tua kami semasa hidup," jelas Harsya.


"Kau bilang Resya bersama Sarah, bukan?" tanya Dean.


"Untuk apa kau bertanya? Apa kau punya indera ke enam?" tanya Laras dengan tatapan mengejek.

__ADS_1


"Tidak, tapi aku mulai mengerti sekarang kenapa sejak beberapa bulan yang lalu kami tidak menemukan Sarah bahkan di seluruh penjuru kota. Karena sebenarnya Sarah ada di dalam rumah ini!"


Seketika Laras dan Harsya terdiam.


Dean memerintah sebagian pengawal untuk mencari letak ruang bawah tanah. Sementara Harsya dan Laras diikat dalam satu ikatan.


"Silakan cari, karena ketika kalian menemukan nya, Resya dan Sarah pasti sudah mati. Karena pintu itu mempunyai kata sandi. Jika pintu ruang bawah tanah di dobrak, maka ruangan itu akan langsung meluncurkan semua senjata tajam yang aku pasang di semua penjuru ruangan itu. Kalian bisa ucapkan salam perpisahan pada mereka," tutur Laras.


"Aiden, bagaimana ini. Aku tidak mau kalau sampai Resya kenapa-kenapa," ucap Haira sambil menangis di pelukan Aiden.


Aiden menatap Haira lalu berbisik. "Kita pasti bisa menemukan dirinya," ucapnya.


"Kenapa menangis? Berikan saja hartamu dan aku akan memberikan kode sandinya," ucap Harsya.


Dean memperhatikan Harsya dan Laras lebih detail lagi. Benar saja, mereka tidak bohong. Sementara Aiden sedang mengingat memorinya barangkali tersimpan di dalam ingatannya. Namun seketika dia teringat sesuatu.


"Kau mengenalku dengan jelas, nak," ucap Harsya.


"Andai saja orang tuaku masih hidup, tentu kalian akan menggunakan kode sandi tanggal pernikahan kalian bukan? Kalian kan orang yang jenius."


"Tentu saja, tanggal kematian orang tuamu sangatlah bersejarah. Itu saat-saat yang menyenangkan di hidup kami," ucap Harsya.


"Bingo! Dean, tanggal kecelakaan orang tuaku," ucap Aiden.


Wajah Harsya dan Laras langsung pucat, namun tidak ada yang melihat senyum kecil dibibir mereka.

__ADS_1


Dean mengangguk dan pergi ke ruang bawah tanah yang sudah ditemukan para pengawal. Dia memasukkan kode sandi berupa tanggal kematian orang tua Aiden.


Seketika pintu pun terbuka. Tampak Resya dan Sarah tengah diikat di tengah ruangan dalam keadaan pingsan. Artinya, Resya dibius dalam tidurnya.


Dean dan beberapa pengawal menghampiri mereka dan melepas ikatan pada tali yang mengikat mereka.


"Resya, bangunlah." Dean menyentuh pipi Resya pelan.


Samar-samar Resya terbangun dari pingsannya.


"Dean, dimana aku? Apa yang terjadi?" tanya Resya yang masih bingung.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ayo pergi. Kalian bawa Sarah keluar!" perintah Dean kepada para pengawal.


Dean membantu Resya berdiri namun, saat itu juga ada sebuah pisau mengarah di belakang Resya. Dengan sigap Dean memutar posisi dan pisau itu menancap di punggung Dean.


"Aaaaargggg." Dean berteriak kesakitan.


Para pengawal membantu membawa Resya dan Dean keluar dari ruangan itu.


Aiden terkejut melihat Dean yang sudah berlumuran darah.


"Cepat bawa mereka ke rumah sakit!" perintah Aiden.


Para pengawal langsung membawa mereka ke rumah sakit. Saat itu juga polisi pun datang hendak menangkap Harsya dan Laras. Mereka membuka ikatan tali yang mengikat tubuh Harsya dan Laras. Namun, ketika melewati Haira dan Aiden, Harsya memukul polisi dan menarik Haira serta mengarahkan pisau ke lehernya.

__ADS_1


"Mundur kalian semua!!! Atau aku akan membunuh penerus Alexander beserta ibunya!!" Harsya mengarahkan pisau ke arah mereka agar mereka semua mundur.


"Lepaskan dia!!" teriak Aiden yang saat itu sangat panik. Dia takut Haira dan calon anaknya kenapa-kenapa.


__ADS_2