
"Kau salah paham nak. Kejadiannya bukan seperti itu. Sebenarnya sepuluh tahun yang lalu ibu panti asuhan mendatangi kami dan mengatakan bahwa adik iparku menculik anakku dan memberikannya padanya. Mereka bersekongkol untuk membuat semua seperti kau di buang," ucap Allen.
"Kenapa adik iparmu melakukan hal itu?" tanya Grandma.
"Dia iri karena kami memiliki bayi sedangkan dia divonis mengidap kanker rahim sehingga tidak akan bisa punya anak. Dan saat ibu panti asuhan itu datang, adik iparku sudah meninggal karena penyakitnya. Jadi kami tidak punya jejak untuk mencarinya karena menurut pengakuan ibu panti, kau pergi saat berusia tiga belas tahun dan adik iparku mengejarmu. Yang ku dengar, adik iparku mengatakan pada ibu panti bahwa kau sudah meninggal. Dan setelah kejadian itu, ibumu sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal," terang Allen.
Dean terdiam cukup lama. Dia masih mencerna apa yang terjadi sekarang. "Apa yang membuat tuan yakin bahwa ini kalung mu?" tanyanya.
"Bolehkah aku melihat kalung itu?" pinta Allen.
Resya menatap Dean dan mendapat anggukan. Resya melepas kalungnya dan memberikan pada Allen.
Allen meneliti kalung itu dengan seksama. Dia memutar bagian belakang kalung itu dan terbuka. Maka terlihatlah sebuah foto yang sangat kecil. Yaitu foto Allen dan istrinya.
Dean terkejut melihatnya. Bahkan selama ini tak terpikirkan olehnya bahwa ada sebuah foto di dalam kalung itu.
"Ini memang kalung milik ibumu," ucap Allen lirih.
Dean terdiam cukup lama. Dia melangkah mendekati Allen dan memegang bahu Allen. "Ayah," panggil nya.
Allen mendongakkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Dia pun beranjak dari duduknya dan memeluk Dean sambil menangis. Dean juga ikut menangis dipelukan ayahnya.
"Aku tidak menyangka bisa memeluk ayahku. Dan sekarang aku tau kapan ulang tahunku."
__ADS_1
"Anakku, anakku telah kembali."
Semua yang ada disitu terharu melihat bersatunya anak dan ayah setelah puluhan tahun. Resya tampak menitihkan air mata karena harapan tunangannya menjadi kenyataan, begitu juga dengan Grandma.
Hingga tiba-tiba terdengar lagu dangdut dari ponsel Haira.
Kang, ku tak rela bila cintaku dibagi dua
Kang, ku tak rela bila akang mau kawin lagi
Judi dan minuman masih kumaafkan
Tapi mabuk janda, aku tak terima
Lebih baik kita bubaran saja.
"Oh, maaf itu nada alarm pengingat pemberian asi. Aku tinggal dulu ya, silakan dilanjutkan." Haira pun pergi ke kamarnya.
Aiden menepuk dahinya.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan makan malamnya," ujar Grandma.
Mereka pun melanjutkan makan malam tersebut.
__ADS_1
"Oh ya, aku dengar dari Grandma, kalau ayah mau melamar bibi Sarah ya?" tanya Dean tiba-tiba.
Seketika Allen terbatuk-batuk dan wajah Sarah semerah tomat.
"Iya, ayahmu ingin melamar bibi Sarah, tapi bibi Sarah masih ragu," ucap Grandma yang kini membuat Allen dan Sarah semakin salah tingkah.
"Kalau begitu, aku yang akan melamar bibi Sarah untuk ayah. Bibi, mau kah bibi menjadi istri ayah?" ucap Dean sambil memegang tangan Sarah dan menatap serius.
Sarah tampak semakin canggung.
"Bibi tenang saja, jika ayah menyakiti bibi atau melirik wanita lain, maka dia akan berhadapan denganku," timpal Dean.
"Nyonya, tampaknya didikan anda terhadap Dean sangat disiplin ya," ucap Allen.
"Hahaha, tentu saja. Lihat bagaimana dia tumbuh sekarang," ucap Grandma.
"Bagaimana bibi?" tanya Dean lagi.
Sarah tampak diam, namun setelahnya dia pun mengangguk menerima lamaran Dean.
Semua tampak sangat senang mendengarnya.
"Ayah, bisakah besok kita ke Australia dan menjenguk ibu. Aku ingin mengajak Resya dan meminta restu untuk menikah dengannya bulan depan," ucap Dean.
__ADS_1
"Tentu nak, kita akan ke makam ibu. Ayah juga ingin meminta restu untuk menikahi bibi Sarah. Sarah, ikutlah besok bersama kami," ucap Allen.
Sarah mengangguk dan tersenyum. Mereka pun melanjutkan makan malam hingga selesai. Dan malam ini Allen tidak perlu pulang ke hotel. Dia akan pulang ke rumah Dean. Menikmati saat-saat bersama antara ayah dan anak.