
Selesai berkeliling, mereka langsung menemui William dan Harry. Dan benar saja, mereka sedang berebut handuk dan sedang dipisah oleh empat orang yang berjaga.
Haira langsung mempercepat langkahnya memisah mereka. Bukan dengan sebuah teriakan, ia menjewer kedua telinga anaknya.
Kompak keduanya langsung berteriak kesakitan. "Aduuuuh. Ibu!! sakiiiit!" pekik keduanya sehingga membuat handuk William terlempar ke dalam air.
"Haira, lepaskan! Apa-apaan kau ini. Kenapa telinga mereka dijewer?" Aiden melepaskan tangan Haira dari telinga kedua putranya.
"Bagaimana? Sakit?" Haira berkacak pinggang di depan keduanya. Tanpa peduli apa yang Aiden katakan tadi.
William dan Harry kompak menunduk.
"Itu handuknya sudah bebas. Ayo, ambil." Haira menunjuk handuk yang sudah tenggelam di dalam kolam.
Keduanya masih diam dan menunduk. Aiden menghampiri mereka dan bertanya, "William? Kenapa kalian berebut handuk lagi? Gantian saja. 'kan bisa."
William dan Harry mendongak lalu saling berpandangan.
"Maaf, Yah. Aku tidak mengizinkan Harry memakainya. Dia belum membersihkan tubuhnya dengan sabun." Wiliam menjawab.
__ADS_1
"Harry, kenapa kau tidak mandi dengan sabun?" tanya Aiden.
"Bagaimana aku mandi dengan sabun, Yah. Sabun yang ibu bawakan adalah sabun cair dengan wangi mawar milik ibu." Harry sedikit berdecak kesal.
"William tidak keberatan." Haira menimpali.
"Dia terpaksa. Dan setelah aku mencium wangi tubuhnya, ternyata benar seperti wangi anak perempuan."
"Siapa yang peduli. Tidak ada anak perempuan yang akan mendekat dan mengendus tubuhku." William menyahut.
"Sudahlah." Aiden kembali berdiri dan menatap Haira. "Kenapa sabun dengan wangi mawar yang kau bawa?" tanyanya.
Aiden mengkode Haira agar berbicara kepada dua putranya.
"William, Harry, apa yang tadi sakit?" tanya Haira dengan tatapan penuh penyesalan.
Mereka kompak menggeleng. "Sekarang sudah tidak sakit, Bu."
"Maafkan ibu, ya. Ibu ingin sekali saja kalian akur. Kenapa untuk akur saja susah sekali. Ibu tidak ingin menjadi ibu se-galak singa. Ibu ingin kedua putra ibu akur. Hanya kalian berdua anak ibu. Kebanggaan ibu. Ibu tidak ingin saat besar nanti akan ada persaingan diantara kalian."
__ADS_1
Haira menatap kedua putranya dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya ia teringat akan Resya dan dirinya yang sempat berseteru karena sifat Resya yang iri padanya. Ia tidak ingin kedua putranya mengalami hal yang sama. Karena itu saat mereka tarik-menarik handuk tadi, Haira menjewer telinga keduanya. Karena jika ia hanya menjewer telinga salah satunya, maka akan timbul kecemburuan dan rasa ingin bersaing.
"Ibu, jangan menangis." Harry menghapus air mata Haira yang telah jatuh berlinang.
"Ibu, maafkan kami. Jangan menangis, Bu. Kami janji tidak akan bertengkar lagi," sambung William.
"Janji?" Haira menaikkan jari kelingking kanan dan kiri nya.
"Janji!" William dan Harry juga menaikkan jari kelingkingnya hingga bersatu dengan Haira.
"Terima kasih, anak-anak ibu memang sangat baik dan penurut." Haira memeluk kedua bocil itu. "Maafkan ibu, ya." Mengusap dua telinga yang tadi ia jewer.
Harry dan William kompak mengangguk dan tersenyum.
"Tapi bagaimana kami mengeringkan tubuh kami, Bu?" tanya William.
"Dengan itu." Menunjuk handuk Aiden yang besar dan berwarna pink bermotif kupu-kupu.
"Ya, pada akhirnya kami berdua memakai handuk yang tidak ingin kami pakai," celetuk Harry.
__ADS_1
Mereka pun kompak tertawa. Haira pun menemani mereka berganti baju dengan handuk besar berwarna manis itu.