Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Firasat


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu.


Aiden sekeluarga hari ini akan kembali ke kota. Tak lupa mereka berziarah ke makam orang tua Haira yang ada di desa itu.


"Sudah siap?" tanya Haira kepada dua anaknya.


"Sudah, Bu." Harry dan William menjawab dengan lesu.


"Kenapa kalian terlihat lesu?" Aiden menatap heran.


"Kami masih ingin disini, Bu, Ayah," sahut Harry.


"Sayang, Ayah harus bekerja. Dia tidak boleh meninggalkan kantornya dalam waktu yang lama. Kalian mengerti, 'kan?" Haira mencoba meyakinkan anak-anaknya.


"Tapi Ayah 'kan seorang bos, Bu. Kalau seorang bos 'kan boleh sesuka hatinya di kantor," ucap William.


"Siapa yang bilang begitu?" tanya Aiden.


"Bibi Resya."


"Tidak, William. Meskipun Ayah seorang bos, tapi Ayah tidak boleh melepas tanggung jawab di kantor. Lalu, apa gunanya Ayah sekolah jauh-jauh kalau ujung-ujungnya rebahan di rumah. Itu namanya pemalas." Aiden memberi penjelasan.


"Oh, begitu. Jadi Bibi Resya itu pemalas ya, Ayah." Harry berpendapat.


"Bukan, bukan begitu. Bibi Resya tidak pemalas. Dia hanya berpendapat dari sudut pandangnya saja," terang Aiden.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo kita berangkat." Haira berjalan menuju mobil mereka diikuti Aiden dan kedua anak mereka.


Mobil pun berangkat. Seperti biasa, mereka akan tertidur saat sudah separuh perjalanan. Namun, Aiden tidak bisa tidur. Entah kenapa hari ini perasaannya menjadi tidak enak tentang Haira. Ia pun memutuskan untuk tetap terjaga agar firasat jeleknya tidak terjadi.


"Pir, jangan lewat dari jalanan sepi, ya. Dan suruh pengawal menjemput kita di persimpangan kota," ujar Aiden.


"Baik, Tuan. Sopir pun segera menelepon Lim, sang kepala pengawal untuk menjemput mereka di persimpangan kota. Tempat dimana jalur tanah terjal dari desa berakhir.


Hingga saat mereka tiba di persimpangan kota, mobil para pengawal sudah setia menunggu mereka. Aiden pun bisa bernafas lega.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan dikawal dua mobil pengawal. Yang satu berada di depan, dan satunya berada di belakang mobil mereka.


Haira terbangun dari tidurnya saat merasakan laju mobil yang semakin kencang. Sedangkan si kembar masih nyenyak tertidur di bangku tengah. Sedangkan Haira dan Aiden duduk di bangku paling belakang.


"Sudah bangun?" tanya Aiden sambil mengusap pelan kepala Haira.


"Kenapa ada mobil pengawal? Dan sudah jam segini tapi kenapa baru sampai sini?" tanya Haira sambil melihat arlojinya.


"Tidak apa-apa. Aku hanya menyuruh mereka menjemput kita. Dan aku menyuruh sopir menggunakan jalur yang ramai makanya perjalanan jadi semakin lama."


"Oh, aku kira kenapa. Apa kau tidak tidur sejak kita berangkat tadi, sayang?" Haira memperhatikan wajah Aiden yang tidak menunjukkan tanda-tanda habis bangun tidur. Belum lagi rambutnya yang masih rapi. Sedangkan rambut Haira sudah acak-acakan. Terlebih lagi ada sedikit air liur di sudut bibirnya.


"Tidak, aku ingin menyaksikan semua pemandangan selama perjalanan. Lagipula siapa yang bisa tidur nyenyak di jalan yang terjal?"


"Aku, William, dan Harry." Haira menunjuk kedua anaknya yang masih tertidur.

__ADS_1


"Aneh, 'kan. Ketika kau berada di jalanan mulus, kau malah bangun."


"Aku tidak bisa tidur jika laju mobilnya kencang."


"Aku tahu." Aiden mengusap pipi Haira.


"Kau kenapa, 'sih. Aneh sekali. Kalau mau bucin, nanti saja di rumah." Haira melepas tangan Aiden dari pipinya. "Lagipula air liurku masih ada, kau tidak jijik?" Haira mengambil tisu lalu mengelap air liur yang hampir mengering itu.


"Kapan aku merasa jijik padamu? Kau yang selalu jijik padaku."


"Oh iya, ya." Haira tersenyum simpul.


Aiden hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang, nanti kita berhenti makan dulu, ya. Aku lapar."


"Iya, sayang. Aku juga lapar. Pir, kita berhenti di restoran milik Paman Sean, ya."


"Baik, Tuan."


"Kenapa harus disana? Bukannya itu artinya kita harus menunggu setengah jam lagi untuk sampai sana?" tanya Haira.


"Di restoran Paman Sean, kau tidak akan meragukan keamanan makanan disana," ujar Aiden.


"Baiklah, aku menurut. Setidaknya jika kita yang datang, mereka akan menyajikan makanan dengan cepat." Haira mengangguk setuju.

__ADS_1


'Aku tidak akan membiarkan firasat buruk ku benar-benar terjadi. Tidak boleh ada yang menyakiti Haira ku,' batin Aiden.


__ADS_2