Pengantin Yang Ditukar

Pengantin Yang Ditukar
Bonus Chapter - Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Haira sudah diperbolehkan pulang.


"Hati-hati, Bu." Harry ikut membantu menuntun Haira berjalan ke dalam rumah. Sedangkan William berjalan di belakang sambil membawa bungkusan plastik berupa obat-obatan milik Haira.


"Duduk dulu, sayang." Aiden membimbing Haira untuk duduk di sofa.


"Ibu sudah tidak apa-apa. Jangan khawatir." Haira mengusap kepala William dan Harry secara bergantian.


"Ingat yang dikatakan dokter, kau tidak boleh berteriak sampai tenggorokan mu tidak merasakan nyeri lagi," ujar Aiden.


"Kami berjanji akan terus akur supaya Ibu tidak perlu berteriak pada kami," ucap Harry penuh keyakinan.


"Iya, Ibu percaya, sayang." Haira mengusap pipi Harry.


"Sebaiknya kau istirahat saja di kamar. Aku dan anak-anak akan membuatkan bubur untukmu," ujar Aiden.


"Tidak perlu, sayang. Kalian temani Ibu istirahat saja. Ibu tidak ingin sendirian."

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita ke kamar." Aiden kembali menuntun Haira menuju kamar dengan diiringi si kembar.


Sesampainya di kamar, Haira langsung berbaring di atas ranjang. Sedangkan William dan Harry berada di sisinya dan Aiden duduk di sofa menunggu sang istri istirahat. Tidak, sebenarnya dia yang istirahat. Karena beberapa menit kemudian, ia tertidur di sofa tersebut. Tak hanya ia, kedua anaknya pun juga langsung tertidur.


Haira tersenyum melihat mereka. "Ya, sekarang kita tahu siapa yang sebenarnya butuh istirahat. Kasihan mereka, pasti lelah dan kurang tidur karena menjagaku di rumah sakit."


Ia pun mengambil ponselnya. Berselancar di sosial media. Mencari sesuatu yang menarik hatinya untuk dilihat atau ditonton. Di rumah sakit ia sudah puas istirahat. Tentu saja saat itu matanya sulit untuk terpejam.


Saat asyik melihat aplikasi berwarna biru, tanpa sengaja ia melihat berita soal buronan yang telah kabur beberapa minggu yang lalu.


Namun, saat sudah mencapai handle pintu, tangannya dipegang oleh seseorang yang sangat ia kenal.


"Ziko. Lepaskan!" Haira mencoba melepaskan tangannya sembari menutup pintu. Nihil, tenaga wanita yang sedang sakit pasti kalah dengan pria yang sehat dan segar bugar.


Tanpa berkata apa-apa, Ziko langsung menarik Haira keluar. Haira terkejut saat melihat semua pengawalnya dalam keadaan pingsan. Mungkin Ziko telah memberi mereka obat bius.


"Lepas Ziko, Ai,,,,," Tenggorokan Haira tercekat saat ingin berteriak.

__ADS_1


"Aku memang sengaja membuatmu tersedak. Dengan begitu kau punya dua kemungkinan. Yang pertama mati, dan yang kedua seperti ini, tak berdaya. Dengan begitu, aku akan sangat leluasa melakukan apa saja padamu." Ziko mengusap pipi Haira dengan lembut. Membuat Haira merasa jijik dan ngeri.


"Haira, aku menyesal telah menyia-nyiakan dirimu saat itu. Andai saja aku tidak tergoda dengan Resya, pasti saat ini kita sedang berbahagia sebagai pasangan suami istri," bisik Ziko.


"Ziko, sadarlah. Lepaskan aku."


"Tidak, sayang, aku akan membawamu pergi. Setidaknya, sebelum polisi kembali menangkap ku, aku sudah menikmati tubuh mu yang sejak dulu ingin aku nikmati."


"Ziko, jangan. Kau tidak bisa melakukan ini." Haira mencoba berontak namun tenaganya kalah kuat dengan Ziko.


"Jangan berontak, sayang. Kau bisa melukai dirimu sendiri. Ayo, kita cari kamar untuk menikmati hari yang indah ini. Kau tenang saja, mereka mendapat obat bius yang hebat. Sedangkan suami dan anak-anakmu sudah aku beri obat tidur melalui minuman saat mereka masih di rumah sakit tadi."


"Apa kau yakin kami semua telah meminumnya?"


Suara seseorang mengagetkan Ziko. Ia pun berbalik. Matanya membulat saat melihat siapa yang berdiri tepat di depan pintu kamar Haira.


"Aiden!"

__ADS_1


__ADS_2