
Selesai makan, Resya memberikan piring bekas makannya kepada Dean.
"Terima kasih ya, mi nya enak. Suatu hari nanti setelah kau menikah, istrimu pasti akan punya tangan dan kuku yang halus meski kalian hidup kere," ucap Resya.
'Apa dia sedang menyumpahiku menjadi orang miskin?' Batin Dean.
"Sama-sama Nona, apa yang akan anda lakukan setelah ini?" tanya Dean.
"Tidak ada. Aku akan bermain dengan ponselku. Dari kemarin aku belum memegangnya," sahut Resya.
"Sebaiknya nona istirahat saja," ujar Dean.
"Apa aku perlu mengingatkan mu bahwa kau adalah asisten pribadiku, bukan baby sitter ku," ucap Resya.
"Maaf, saya akan menaruh piring ini dulu lalu kembali ke sini." Menunjuk tempatnya berdiri.
"Terserah, siapa yang peduli." Resya menutup pintu kamarnya. Dia mengambil ponselnya yang terletak di laci nakas.
Begitu banyak pesan yang masuk dari teman-temannya dan juga para mantannya. Namun bukanlah sapaan atau ajakan jalan-jalan. Melainkan cacian mantan yang terksakiti dan ejekan dari para teman yang bahkan sudah dia anggap seperti keluarga sendiri. Dan dia juga melihat bahwa dia dikeluarkan dari grup chat oleh teman terdekatnya.
__ADS_1
Dari para mantan semasa SMA :
"Aku tidak menyangka, ternyata kau begitu liar. Untung aku tidak jadi dengan mu."
"Bisakah aku memakai mu secara gratis? Dulu kau begitu munafik saat aku mengajakmu ML."
"Cantik, tapi sayang tidak bisa jaga diri."
"Kau bahkan lebih rendah dari seorang pel*cur."
Dari para teman :
"Aku tidak mau menjadi temanmu lagi. Aku malu punya teman seperti dirimu. Aku tau aku juga sepertimu, tapi setidaknya semua orang tidak tau."
"Anak pengusaha Harsya Pramana ternyata liar juga semasa gadis. Maaf ya pertemanan kita sampai disini. Bagiku kau adalah aib."
"Meskipun berita tentangmu sudah terhapus dari jagat internet, tapi ingatan semua orang saat wawancara langsung kemarin masih tersimpan rapi. Maaf, aku tidak mau berteman denganmu lagi. Aku malu."
Mata Resya berkaca-kaca melihat isi pesan tersebut. "Aaaaaaaaaaaa." Dia melempar ponselnya ke dinding dengan sekuat tenaga hingga ponsel itu hancur berserakan.
__ADS_1
Tak sampai disitu, Resya melempar semua benda ke lantai dan terus berteriak.
Dean yang mendengar itu langsung mengetuk pintu kamar Resya.
"Nona, kau tidak apa-apa? Buka pintunya."
Resya tidak menghiraukan ucapan Dean. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan kalung lalu berteriak kepada kalung tersebut.
"Dasar pria berengseeekkk!!!! Kalau bukan karenamu pasti aku tidak akan mengalami semua ini!!!"
Dean terlihat mendobrak pintu kamar Resya. Pada dobrakan kedua, pintu pun terbuka. Dia melihat Resya yang tengah memelototi sebuah kalung dengan penuh amarah.
Dean terdiam memucat. Ternyata benar, Resya lah gadis yang Ia tiduri pada malam itu.
Resya mencampakkan kalung itu dan meringkuk membenamkan kepalanya diantara dua lutut sambil terus menangis.
Dean melangkah perlahan mendekati Resya. Dengan perlahan dia berjongkok agar posisi nya sejajar denga Resya. Hati-hati Dean memegang tangan Resya.
"No-nona tenang lah."
__ADS_1
Resya mengangkat kepalanya. Dan dengan segera dia menghambur ke pelukan Dean. "Buang kalung itu. Aku mohon. Aku tidak sudi kalung itu mengotori kamarku."
Dean terdiam. Sebegitu fatalnya kesalahan yang dulu pernah dia buat kepada Resya. Bahkan kini dia bisa melihat sendiri kebencian Resya padanya begitu besar.