
"Mobil mbak dimana?" Tanya Pria itu pada Risa.
"Disana mas." Tunjuk Risa pada sebuah mobil sederhana.
Sesampainya dimobil Risa Pria itupun membantu Risa membawa Aditya masuk kedalam masuk kedalam mobil.
"Terimakasih mas" Ucap Risa tulus.
Risa memandang pria itu yang sudah menolongnya.
"Risa, namaku Risa." Ucap Risa mengulurkan tangannya kearah Pria itu.
"Gue Kevin" Jawab Kevin menyambut uluran tangan Risa.
Ya Kevinlah yang membantu Risa membawa Aditya ke mobilnya.
"Permisi, aku harus pergi," Ucap Kevin pergi meninggalkan Risa yang masih berdiri disamping mobilnya.
Masuk kedalam mobilnya dan mengendarai menuju kerumah sakit membawa Aditya.
Sampainya di rumah sakit Aditya langsung dibawah UGD untuk ditangani oleh dokter.
Ceklek
Risa menghampiri dokter. dan dokter itu bernama Dokter Arya
"Dok bagaimana keadaannya, apa dia baik-baik saja?"
__ADS_1
dokter Arya menghela nafas panjang. "Ayo ikut keruanganku"
Dokter Arya berjalan lebih dulu dan diikuti Risa dibelakang.
"Bagaimana dok keadaannya?" Tanya Risa lagi ketika melihat Dokter Arya duduk di kursinya. Karena Risa sudah tidak sabaran mengetahui kondisi Mantan suami sahabatnya.
"Begini bu kondisi tuan Aditya sangat memprihatinkan. Apa lagi seluruh badangnya terdapat banyak luka-luka. dan lukanya seperti luka cambuk. Aku khawatir tuan Aditya bisa mengalami trauma berat.
Risa menghela nafas panjang. " Tolong dok lakukan apapun untuk kesembuhan Aditya." Ucap Risa pada dokter Arya yang menangani Aditya.
"Walaupun kamu sudah menyakiti sahabatku, tapi aku tidak tega melihatmu terluka." Lanjut Risa dalam hati.
"Pasti Bu, aku akan lakukan terbaik untuk kesembuhan tuan Aditya." Jawab dokter Arya mantap.
"Dok apa aku bisa menemuinya?" Tanya Risa pada Dokter Arya.
"Kamu baru bisa menemuinya ketika dia di pindahkan di ruang rawat."
Risa pun keluar dari ruangan Dokter Arya dan kembali duduk di depan UGD menunggu Aditya dipindahkan ke ruang rawat.
15 menit Risa menunggu ia melihat brangkar Aditya didorong keluar dari UGD.
"Sus keruangan VIP saja." Ucap Risa pada suster yang mendorong brangkar Aditya.
"Baik bu"
Risa hanya memandang nanar kondisi Aditya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa memberitahu orang tuamu, aku tidak tahu dimana kamu tinggal bahkan aku tidak tahu no telpon orang tuamu." Ucap Risa dalam hati sambil menatap Aditya yang terbaring belum sadarkan diri karena masih pengaruh obat.
Risa masih setia menunggu Aditya sadar. Risa melihat Aditya mulai menggerakkan tangannya dan tak lama iapun membuka matanya.
"Dit kamu sudah sadar, kamu butuh apa?" Tanya Risa senang melihat Aditya sudah sadar.
"A... i.. r" Ucap Aditya pelan nyaris tidak terdengar.
Dengan cepat Risa mengambilkan air untuk Aditya yang ada dimeja.
"Ini di minum" Ucap Risa meyodorkan pipet kemulut Aditya.
"Teri.... maka.. sih.. " Lirih Aditya.
"Dit ku panggilkan dokter dulu ya."
Risa keluar dari ruangan Aditya untuk memanggil dokter untuk mengecek kondisi Aditya.
Tak lama dokter Arya menghampiri Aditya yang menatapnya. .
"Jangan mendekat, pergi, pergi..." Usir Aditya yang mulai histeris melihat dokter Arya yang mendekat kepadanya.
"Pergi, jangan mendekat. pergi." Teriak Aditya sehingga Infusnya terkepas dari tangannya.
"Dit tenang." Risa mencoba menenangkan Aditya namun Aditya semakin memberontak tak terkendali.
Dokter Arya pun dengan cepat menyuntikkan obat penenang pada Aditya.
__ADS_1
"Dok, kenapa dia seperti itu?" Tanya Risa pada Dokter Arya.
Dokter Arya menghela nafas panjang. "Seperti aku katakan tadi, Aditya trauma apa yang Menimpanya. Mungkin ia mengalami kekerasan yang sulit ia lupakan.