
Ibu Aditya Bingung, kemana ia harus mencari Aditya yang sudah hilang selama seminggu.
Ibu Aditya terus berjalan mencari anaknya tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
Bruk...
"Sayang hati-hati" Ucap Chandrick memegang pinggang istrinya yang hampir jatuh. "Ibu kalau jalan itu hati-hati, bagaimana kalau saya tidak menangkap istri saya. Ibu mau mencelakai anak dan istriku." Omel Chandrick yang membuat ibu itu terbangun dari lamunannya.
"Maaf Tuan." Ucap Ibu Aditya yang masih memandangi Cahaya. "Apa dia Cahaya yang dikatakan Aditya. Tapi kok dia bisa hamil, bukankah Cahaya mandul." Ucap Ibu Aditya sambil memperhatikan Cahaya mulai dari atas sampai bahwa dan ia lebih fokus melihat perut Cahaya.
"Eheeem" Cahaya berdehem membuat Ibu Aditya kaget. "maaf Bu, kenapa Ibu liatin daya kayak gitu?" Tanya Cahaya pada Ibu Aditya.
"Maaf nak, kalau Ibu boleh tahu. Apa bener kamu Cahaya Aditama." Tanya Ibu Aditya ragu.
__ADS_1
"Iya bener, saya Cahaya Aditama. tapi sekarang namaku Cahaya Alexander." Ucap Cahaya aditama santai.
Ibu Aditya langsung memeluk Cahaya dengan senyum bahagia. " Ibu sangat senang bisa ketemu sama kamu lagi nak. Sekarang kamu hamil, bisakah kamu kembali bersama dengan anak Ibu.' Ucap Ibu Aditya tak tahu malu bahkan ia tidak memperdulikan Suami Cahaya yang masih berdiri disamping istrinya yang memasang muka kesal.
"Dia istri saya, dan selamanya akan menjadi istri saya." Ucap Chandrick sambil memelul istrinya dengan erat.
"Ayo sayang, kita pergi." Chandrick menarik tangan Cahaya dengan lembut sedangkan Cahaya hanya pasrah mengikuti suaminya.
Sedangkan di balik pohon besar tanpa sengaja ada seseorang mendengar pembincaraan mereka Siapa lagi kalau bukan Kevin.
"Ternyata kamu masih hidup aya, tapi kenapa kamu menikah dengan orang lain. Kamu menghianati cintaku ya.Bahkan kamun pura-pura tidak mengenalku..Pantas setiap saya menatapmu dadaku selalu berdebat." Ucap Kevin dengan air mata menetes di pipinya dan terus menatap Cahaya yang semakin menjauh dari pandangannya. "Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu." Ucap Kevin lagi dan pergi meninggalkan tempat itu yang membuat dadanya terasa sesak.
Sedangkan Ibu Aditya terus mengejar Cahaya yang digandeng oleh Chandrick.
__ADS_1
"Tunggu Cahaya." Ucap Ibu Aditya ngos-ngosan mengejar Cahaya. Bahkan dengan beraninya Ibu Aditya memegang tangan Cahaya dengan keras.
"Ibu apa-apan si." Ujar Cahaya dengan menghempaskan tangan Ibu Aditya dengan keras. "Ibu jangan kurang ngajar. kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, saya bukan menantu Ibu atau Istri dari anak Ibu. Kita hanya bagaikan orang asing bu." Amuk Cahaya yang sudah diatas kesabarannya apa lagi semenjak ia hamil. ia mudah sekali marah dan emosinya tidak terkendali.
"Sayang sudah ya, ingat kamu sedang hamil." Ujar Chandrick berusaha menenangkan Cahaya.
"Tapi, Hubby dia keterlaluan." Ucap Cahaya yang masih kesal. "Dan Ibu menjauh darimu, saya tidak mau dekat sama Ibu ataupun dengan keluarga Ibu." Amuk Cahaya pada Ibu Aditya yang menurutnya tak tahu malu.
"Aa aaaakkk adu Hubby." Teriak Cahaya yang merasakan sakit perutnya yang membuat Chandrick panik.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Chandrick panik melihat istrinya kesakitan lalu ia beralih menatap tajam Ibu Aditya yang masih berdiri yang syok melihat Cahaya kesakitan.
"Kalau istri saya kenapa-kenapa kamu akan tanggung akibatnya." Marah Chandrick pada Ibu Aditya. Chandrick menggendong Cahaya alah bridal Style dan membawanya ke mobil.
__ADS_1