
"Mas kapan kita bermain sama penghianat itu." Tanya Cahaya yang sudah tidak sabar memberikan pelajaran pada kedua penghianat itu.
"yakin, mau ikut." Tanya Chandrick pada Cahaya untuk memastikan.
"Yakin, saya mau ikut mas." Ujarnya yakin tanpa ada keraguan.
Chandrick hanya menghela nafas panjang, mau tidak mau dia harus tetap keinginan pujaan hatinya.
"Siap-siap kita berangkat sekarang." Ujar Chandrick yang diangguki Cahaya. Lalu Cahaya berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Tak lama Cahaya turun dengan memakai kaos polos putih dan celana jeans panjang.
"Chandrick berdiri menghampiri Cahaya ketika melihat dia menuruni tangga. Tak lama Cahaya sudah berada di depan Chandrick lalu Chandrick mengulurkan tangannya kearah Cahaya yang disambut baik oleh Cahaya.
Cahaya dan Chandrick sudah berada dalam mobil menuju ke markas Chandrick.
Hampir satu jam berkendara Chandrick dan Cahaya sampai ke markas. Lalu Chandrick menghampiri Hanz yang sudah menunggunya dari tadi.
"Dimana kedua penghianat itu?" Tanya Chandrick.
__ADS_1
"ada di ruang bawah tanah tuan." Ujar Hanz.
"Ayo sayang kita ke ruang bawah tanah menemui kedua penghianat itu." Chandrick menggandeng tangan Cahaya menuju ruang bawah tanah dan diikuti Hanz dibelakang.
"Bagaimana apakah tempat barumu ini bagus." Ujarnya dengan nada mengejek.
"Maafkan kami tuan, tolong bebaskan kami." Ujar Jerry yang sudah gemetar ketakutan.
"Seharusnya Lo itu berfikir sebelum menjual data-data perusahaan." Timpal Cahaya yang berada di belakan Chandrick. Lalu Cahaya berjalan menuju Jerry yang sudah gemetar ketakutan.
"Mas ini bagianku, saya ingin bermain dengan dia." Ujar Cahaya tersenyum manis kearah Chandrick. Chandrick hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Cahaya.
"Mas sakit." Rengek Cahaya yang dicubit hidungnya oleh Chandrick sedangkan Hanz hanya menggelengkan kepalanya melihat kebucinan mereka.
"Dasar bucin." Guman Hanz namun masih didengar oleh mereka berdua.
"Makanya cari pacar, udah tua masih ajah jomblo." Cibir Cahaya membuat Hanz tersenyum kecut karena sudah membawa status.
Cahaya lalu melirik Jerry yang terikat di kursi.Lalu Cahaya memanggil anggota Chandrick yang tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Iya Nona, apa Nona butuh sesuatu." Ujar Anggota itu sambil menunduk tidak berani menatap calon istri dari tuannya.
"Apa ada pisau.?" Tanya Cahaya polos. Sedangkan Jerry yang mendengar Cahaya meminta pisau membuatnya bergidik ngeri.
"Tunggu Nona, saya ambilkan." Ujar anggota Chandrick menunduk lalu pergi mengambil apa yang diminta calon istri tuanya.
Takl lama Anggota Chandrick menghampiri cahaya dengan membawa koper kecil ditangannya. Didalam koper itu terdapat alat-alat untuk menyiksa musuh yang berani menganggu ketenangan seorang Chandrick.
Cahaya membuka koper itu, dia tersenyum melihat isi koper itu yang begitu lengkap untuk menyiksa orang didepannya.
Cahaya maju berberapa langkah dan menjambak rambut Jerry yang memeng agak panjang. Jerry mendongak mentap Cahaya yang tersenyum mengerikan.
Sssssssttt.. .. aaaaaaaarrrrgg..
Teriakan jerit kesakitan terdengar didalam ruangan saat Cahaya menyayat Bibir Jerry. Jerry hanya bisa berteriak kesakitan karena tangan dan kakinya terikat di kursi. Darah Jerry menetes dilantai sangat banyak.
"Pada siapa kamu jual data-data perusahaan." Tanya Cahaya pada Jerry. Namun Jerry masih belum mau buka mulut. Begitupun nando yang juga dapat penyiksaan dari Chandrick.
"Cepat katakan, atau pisau ku ini akan bermain lagi di tubuhmu yang lain." Ujar Cahaya memainkan pisaunya dibagian mukan Jerry. Jerry hanya bisa menahan nafas karena takut pisau itu mengenai dia lagi.
__ADS_1
...***Bersambung***...