
Keesokan harinya Cahaya sudah berada di markas tanpa ditemani oleh Chandrick. Karena Chandrick akan Meeting secara online dengan kliennya.
Cahaya masuk kedalam markas dan menemui Leo yang berada diruang tengah.
"Mana dia?" Ujar Cahaya datar dan Leo bisa melihat dimata Cahaya ada kemarahan.
Tanpa menjawab pertanyaan Cahaya Leo berdiri.
"Ayo saya akan tunjukkan." Ucap Leo berjalan kedepan dan diikuti Cahaya dibelakang.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dimana Keyla ditahan.
Cahaya menatap tajam Keyla yang masih terlelap pada hal jam sudah menujukkan jam 10 pagi.
"Bangunkan dia." Perintah Cahaya pada anggotanya yang khusus menjaga Keyla.
Anggota Cahaya membangunkan Keyla dengan menyiram air ke mukanya yang membuat Keyla terbangun sampai ia terbatuk-batuk.
Keyla mengernyitkan Alisnya ketika melihat wanita cantik didepannya yang ia tidak kenal.
"Puas tidurnya, Kamu kayaknya sangat nyaman tidur dikamar ini, kasurnya empuk ya." Ujar Cahaya lalu duduk di kursi yang sudah disiapkan anggotanya.
"Siapa kamu, kenapa kamu menculikku bahkan kita tidak saling kenal." Keyla menatap wanita cantik itu sambil mengingat-ngingat apa iya pernah bertemu dengan wanita didepannya itulah pikirnya.
__ADS_1
"Apa mantan sahabatku sudah melupakanku." Ujar Cahaya sinis.
"Tidak mungkin, Tidak mungkin. Bukankah Cahaya sudah mati karena kecelakaan." Guman Keyla kecil namun masih didengar oleh Cahaya.
Sedangkan Leo dan anggotanya hanya diam memperhatikan Cahaya sekaligus menjaga bos mereka.
"Apanya yang tidak mungkin. Kamu berapa kali ingin menyingkirkan ku.. kamu sampai menyuruh seorang Mafia menculikku untuk melenyapkan ku. Tapi sayang Mafia yang kamu suruh itu bodoh. Sehingga ia tidak bisa melenyapkan ku karena kebodohannya sendiri. Ketika ia tidak berhasil melenyapkan ku, kamu menyuruh preman lagi untuk membunuhku. Akhirnya preman itu berhasil membuat saya celaka kamu tau karena apa, karena rem mobilku dirusak oleh seseorang sehingga saya terjatuh kejurang dan membuat wajahku rusak, itu semua karena kamu dan juga wanita itu. Ucap Cahaya panjang lebar lalu beralih menatap Keyla tajam.
"Ambilkan saya cambuk." Perintah Cahaya pada anggotanya.
"Maafkan saya Ya, bukankah kita sahabat. Tolong ampuni saya, jangan siksa saya lagi." Ucap Keyla mengibah pada Cahaya namun Cahaya tidak memperdulikan perkataan Keyla.
Tak lama anggota Cahaya membawa cambuk dan memberikan Cahaya yang langsung menerimanya.
Aaahhhh
a aaaahhhhhh
Sakit..
Hentikan
ke.. na.. pa.. kamu... kejam se.. sekali..
Ucapan Keyla gagap.
__ADS_1
"Saya kejam karena ulah kamu dan perempuan itu." Ucap Cahaya lalu berhenti mencambuk Keyla lalu ia keluar dari kamar yang Keyla tempati.
"Obati dia dan jangan sampai ia mati." Ucap Cahaya lalu pergi meninggalkan markas dan kembali kerumahnya.
Cahaya sudah berada dirumah, ia tersenyum melihat suaminya berada diruang keluarga.
Cahaya mengendap-ngendap masuk dan langsung memeluk suaminya.
"kenapa tidak kaget.' Ujar Cahaya cemberut.
Chandrick hanya terkekeh dan mengangkat istrinya ke pangkuannya.
" Sayang saya harus kembali ke Jerman." Ucap Chandrick membelai pipi Cahaya lalu mengecup bibir istrinya yang terasa manis. Sedangkan Cahaya cemberut lalu memeluk suaminya dengan erat.
"Mas, saya tidak mau ditinggal." Manjah Cahaya yang masih setia memeluk suaminya seakan takut ditinggalkan.
Chandrick tersenyum. "Kamu ikut saja ke Jerman bersamaku." Ucap Chandrick yang membuat Cahaya terdiam. Tak lama ia mengangguk menyetujui permintaan suaminya.
Urusan Keyla dan Clara biar anggotanya yang membereskannya begitulah pikiran Cahaya.
...***Bersambung***...
Jangan Lupa Like, Coment dan Vote.
Maaf kalau masih banyak kesalahan dalam Novel yang saya buat. Baru belajar dan ini Novel perdanaku.
__ADS_1