
Cahaya terbangun pagi-pagi untuk menyiapkan keperluan suaminya. Chandrick akan kembali kejerman jam 10 Pagi karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Cahaya mengantar Chandrick ke bendara. Sesampainya di Bandara Chandrick menatap istrinya penuh dengan kasih sayang.
"Jaga baik-baik diri mu ya sayang. Kalau ada apa-apa cepat hubungi saya atau kamu bisa hubungi arsya." Ujar Chandrick lalu memeluk Cahaya menghirup wangi tubuh Istrinya yang sudah jadi candunya.
Chandrick melangkah menuju pesawat pribadinya sebelum pintu pesawat tertutup Chandrick melambaikan tangannya kearah Istri tercintanya.
Setelah pesawat suaminya sudah tidak terlihat, ia kembali ke mobilnya.
Cahaya mengendarai mobilnya menuju kekantornya. Tapi bukan ke perusahaan Drick melainkan perusahaan Aditama.
Sesampainya dikantor ia melihat-lihat lalu turun dari mobil mewahnya.
Cahaya tidak langsung naik karena karyawan tidak ada mengenalnya akibat perubahan wajahnya.
"Cahaya menghampiri resepsionis."
"Permisi Mba.?" Ucap Cahaya yang sudah berada di meja Resepsionis.
__ADS_1
"Iya Bu, ada yang bisa kami bantu." Ucap Resepsionis itu dengan sopan.
"Tuan Arganya ada." Ucap Cahaya pada resepsionis itu sambil melihat-lihat situasi kantor yang sudah lama ia tinggalkan.
"Apakah kamu sudah memiliki janji pertemuan."
"Tidak, Tapi kamu bisa memberitahunya namaku. Cahaya ingin bertemu dengannya, ini penting."
"Baiklah, Tunggu sebentar saya akan menghubungi dulu sekretarisnya."
Cahaya tetap berdiri didepan mejah Resepsionis sambil menunggu resepsionis itu selesai menelpon.
"Ibu langsung naik saja keruangan Pak Arga yang berada di... "
Sesampainya diruangan Arga, Cahaya langsung masuk tanpa mengetuk pintu membuat Arga menoleh. Ia mengernyitkan Alisnya bingung karena ia tidak kenal orang yang berada didepannya.
"Apa kamu tidak ingin menyapaku." Ujar Cahaya sok kenal. Namun Arga tetap diam memperhatikan orang yang ada didepannya yang sama sekali ia tidak kenal.
Cahaya menghela Nafas panjang.
__ADS_1
"Gimana mau kenal wajahku sudah berubah, ini semua gara-gara Clara sehingga wajahku seperti ini." Ujar Cahaya dalam hati.
"Kamu siapa, kalau tidak ada keperluan silahkan keluar, saya masih banyak kerjaan." Ujar Arga kembali melanjutkan pekerjaannya sempat tertundah karena ulah orang yang tidak ia kenal
"Apa kamu tidak mengenal Cahaya.?" Tanya Cahaya pada Arga. Arga menghentikan pekerjaannya lalu ia menatap Cahaya tajam.
"Jelaslah saya kenal Cahaya, dian pemilik perusahaan ini. Dan saya masih menunggu kedatangannya." Ujar Arga lalu berjalan kearah Cahaya.
"Kenapa kamu tidak ambil alih saja perusahaan Cahaya. Dia juga sudah mati Tinggal membalikan nama kepemilikan atas namamu, perusahaan Aditama resmi jadi milikmu." Cahaya mencoba mengetes kejujuran Arga, Walaupun ia tahu Arga adalah Asisten yang setia.
"Maaf, saya tidak akan pernah lakukan itu, karena firasat ku mengatakan Cahaya akan kembali sebentar lagi." Arga meneteskan air matanya ketika ia menyebut nama Cahaya. Itu semua tak lepas dari pantauan Cahaya.
Cahaya tersenyum karena asistennya tetap menjaga semua asetnya dan membuat perusahaannya semakin maju.
"Kalau Cahaya sudah ada didepanmu bagaiman."
"Saya akan sangat bersyukur kalau dia ada didepanku.
" Arga.. Saya Cahaya Aditama." Ujar Cahaya memberitahukan identitasnya pada Arga.
__ADS_1
Arga diam mencerna ucapan orang asing yang berada didepannya. Tak lama suara Arga yang tertawa terdengar nyariin ditelinga Cahaya. Untung ruangan ia tempati kedap suara jadi tidak kedengaran sampai diluar.
...***Bersambung***...