
Hari ini adalah hari yang ditunggu bagi setiap pasangan. Namun Cahaya hanya terlihat murung di hari pernikahannya dan itu tak lepas dari penglihatan seorang MUA.
"Apakah Nona tidak bahagia mau menikah sama orang terkaya seperti tuan Chandrick." Ujar MUA itu yang sedang merias Cahaya.
"Ntahlah, Cuma hati ini sudah ada yang memiliki. Berapa kali saya mencoba melupakan dia tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan saya berusaha membalas perasaan Chandrick namun hati ini selalu menolak." Cahaya mengungkapkan isi hatinya kepada MUA yang selama ini ia pendam. Namun setetes air mata Cahaya menetes di pipinya.
"Nona jangan menangis Make Up Nona akan luntur." Ujar MUA itu yang kembali merias wajah Cahaya.
"Air mataku tidak mau berhenti menetes." Ujar Cahaya yang semakin deras mengalir. Dan tidak mungkin juga dia membatalkan pernikahannya begitulah pikirnya. dia juga tidak mau melukai seseorang yang sudah berbuat baik kepadanya.
Namun tanpa Cahaya sadari seseorang mendengar ceritanya dibalik pintu. Orang itu mengepalkan tangannya ketika dia mendengar cerita Cahaya yang tidak menginginkan pernikahan ini dan dia hanya menerimanya karena balas budi.
Kembali lagi di Cahaya.
"Nona seharusnya bahagia, karena Nona mendapatkan pria yang begitu menyayangi Nona. Nona jangan menangis lagi. tersenyumlah sambut kebahagiaanmu." Ujar MUA itu memberikan pengertian pada Cahaya.
"Terimakasih karena kamu telah mendengar keluh kesahku." Ujar Cahaya tersenyum.
Tok Tok Tok
"Boleh saya masuk." Ujar orang itu di depan pintu yang sudah terbuka.
Deg
Cahaya meremas tangannya gugup karena takut kalau Chandrick mendengar perkataannya dengan MUA.
__ADS_1
"Ma.. Masuklah." Ujar MUA gugup."
"Saya juga sudah selesai meriasnya." Ujar MUA itu lagi dan keluar dari kamar yang ditempati oleh calon pengantin itu.
Setelah MUA keluar Chandrick menutup pintu dan menguncinya lalu dia mendekati Cahaya.
"Apa kamu bahagia bersama ku." Tanya Chandrick yang seperti biasa dia akan bersikap lembut pada Cahaya.
"I.. iya Mas, saya bahagia bersamamu." Ujar Cahaya menunduk dan tangan masih meremas tangannya karena gugup.
"Tatap mataku, kalau kamu tidak berbohong." Chandrick terus menatap Cahaya namun Cahaya tidak berani menatap mata Chandrick, Dan Cahaya juga tidak menjawab pertanyaannya.
Lalu Chandrick mendekat kearah Cahaya yang masih diam lalu dia mengangkat dagu Cahaya agar menatapnya.
"Jangan Mas, kita tetap melanjutkan pernikahan ini." Ujar Cahaya tegas.
Chandrick hanya tertawa membuat Cahaya bingung.
"Buat apa kita melanjutkan pernikahan kalau kamu tidak bahagia bersamaku, bahkan hatimu masih ada nama orang lain."
Deg
"Apa mas mendengar yang saya katakan bersama perias itu." Cicit Cahaya merasa bersalah.
"Iya saya dengar semua, kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak mencintaiku. Seharusnya kamu katakan dari awal." Marah Chandrick dan mengacak rambutnya prustasi.
__ADS_1
"jangan Khawatir saya akan mengumumkan pada orang yang hadir kalau pernikahan ini batal." Chandrick bersiap melangkah pergi. Namun sebelum Chandrick mencapai Pintu Cahaya berlari memeluk Chandrick dari belakang membuat Chandrick menghentikan Langkahnya.
"Maafkan saya mas kalau saya mengecewakanmu. Tapi kumohon jangan pernah batalkan pernikahan ini." Ujar Cahaya yang air matanya sudah membasahi kemeja Chandrick. Namun Chandrick tetap diam, mendengar apa Cahaya katakan kepadanya.
Cahaya membalikan Badan Chandrick, Lalu Cahaya mencium bibir Chandrick, Namun Chandrick tetap diam tidak membalas ciuman Cahaya.
Cahaya menatap mata Chandrick. Cahaya semakin bersalah karena menyakiti seseorang yang begitu baik padanya.
Cahaya kembali mencium Chandra bahkan ******* bibir Chandrick, Namun Chandrick tetap diam tidak membalas yang membuat Cahaya kecewa.
"Maafkan saya mas Cup" Cahaya kembali mengecup bibir Chandrick dan bersiap melangkah ke kursi tempatnya tadi dirias namun Chandrick memegang tangannya dan menarik Cahaya dalam pelukannya.
Chandrick melepas pelukannya dan menatap Cahaya. Lalu Chandrick mencium bibir Cahaya dan **********. Tangan Chandrick melingkar dipinggang Cahaya agar semakin mendekat. Namun bibir mereka masih bertautan dan Chandrick semakin memperdalam Ciumannya dan memasukkan lidahnya kedalam mulut Cahaya mengabsen gigi putih Cahaya. Chandrick merasa Cahaya hampir kehabisan nafas diapun menghentikan Ciumannya. Lalu dia menghapus salivanya yang berada di bibir Cahaya
Cahaya mengambil nafas dengan rakus lalu memukul dada Chandrick dengan pelan.
"Mas ingin membunuhku." Rajuk Cahaya. Sedangkan Chandrick hanya terkekeh melihat orang dicintainya kesel.
"Tunggu ya, saya panggil MUA Memperbaiki riasanmu yang sudah berantakan.
Chandrick pun keluar dari kamar memanggil penata rias untuk memperbaiki riasan Calon istrinya yang berantakan.
Tak lama MUA memasuki kamar lalu dia memperbaiki riasan Cahaya yang sudah berantakan.
...***Bersambung***...
__ADS_1