
Keesokan harinya Cahaya mulai masuk kantor sebagai Sekretaris Chandrick.
"Sayang kita berangkat bareng ya kekantor."
Cahaya melotot kan matanya mendengar ucapan Chandrick.
"Apa kata orang kantor kalau kita berangkat baraeng." Disaat Chandrick mau membalas ucapan Cahaya. Cahaya mengangkat tangannya agar Chandrick diam. "Dan satu lagi, saya tidak ingin kita terlalu dekat dikantor, kita jaga jarak."
"Tapi sayang... " Cahaya langung memotong perkataan Chandrick.
"Tidak ada tapi-tapi, kalau kamu melanggar itu, saya tidak akan membantumu mencari orang yang menghianatimu. Mending saya kembali kenegaraku." Chandrick melotot kan matanya mendengar perkataan Cahaya. dia tidak ingin Cahaya meninggalkan nya.
"Baik, Tapi kamu tetap disini dulu ya." Ujar Chandrick pasrah mengikuti kemauannya Cahaya daripada ditinggal.
Cahaya menadakan tangannya pada Chandrick, Lalu Chandrick memberikan ATM ke cahaya.
"Saya tidak minta ATMmu Drick." Ujar Cahaya kesel.
"Lalu" Jawab Chandrick bingung apa kemauan wanita didepannya ini.
"Kunci motor, kamu punya motor kan." Chandrick melotot kan matanya mendengar permintaan Cahaya, masa cewek bawa motor.
"Bawa mobil ajah ya sayang, kalau bawa motor kan panas. motorku tidak cocok untukmu sayang. Atau nanti saya suruh Hanz belikan motor Khusus buatmu." Ujar Chandrick lembut.
"No, saya ingin motor keluaran terbaru yang ada garasimu, Itu keren." Tanpa mendengar Jawaban Chandrick, Cahaya langsung masuk di garasi mengambil motor yang ia mau."
__ADS_1
Sesampainya di garasi Cahaya menemukan motor yang pertama kali dia lihat sudah tertarik untuk mengendarainya.
"Yakin, Kamu mau pakai motor ini." Ujar Chandrick khawatir.
"Drick naik ke mobilmu, saya akan ikuti mobilmu dari belakang." Ujar Cahaya dan mulai menstater motornya.
Chandrick hanya menghela nafas dan langsung naik ke mobilnya dan bersiap mengendarainya. dan diikuti Cahaya dari belakang.
Sesampainya dikantor Chandrick memasuki kantor dan tak lama juga Cahaya sudah turun dari motornya bersiap memasuki kantor Drick Company. Cahaya berjalan ke lift khusus untuk Ceo namun dia dihadang oleh resepsionis.
"Mba mau kemana, Mba tidak boleh menaiki lift itu, Lift itu hanya Khusus Ceo dan asistennya." Ujar Resepsionis itu sopan.
"Maaf saya tidak tau kalau lift itu khusus Ceo dan Asistennya, Perkenalkan saya Cahaya sekretaris barunya tuan Chandrick." Ujar Cahaya tersenyum ramah pada resepsionis itu.
"Kalau tidak percaya silahkan kalian hubungi tuan Chandrick." Ujar Cahaya santai.
"Tidak perlu dihubungi, kamu keluar dari sini. Saya tau kamu pasti mau ngerayu Tuan Chandrick kan." Usir Lina sedangkan Cindy bingung mau bela siapa.
"Kalau saya tidak mau, kamu mau apa." Tantang Cahaya pada Lina.
Lina mengangkat tangannya untuk menampar Cahaya, Namun Cahaya memegang Tangan Lina sebelum sampai ke pipinya.
"Saya paling tidak suka seorang tikus menyentuhku. Dan saya peringatkan jangan pernah macam-macam sama saya atau kamu akan tau akibatnya." Bisik Cahaya dengan nada mengancam pada Lina yang membuatnya bergetar ketakutan.
"Ada apa ini, kenapa ribut-ribut disini." Ujar Chandrick dan membuat semua yang ada di depan Lift tersentak kaget.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks Tuan dia dia hiks hiks mengaku sebagai sekretaris tuan. Saya saya melarang dia masuk ke lift itu. Hiks hiks dia malah mengancam saya tuan." Akting Lina dengan menangis tersedu-seduh agar pemilik perusahaan merasa iba kepadanya. Namun tanpa mereka sadari Lina tersenyum miring.
"Apa betul itu kamu mengancamnya." Ujar Chandrick menatap Cahaya begitu dalam.
"Betul saya mengancamnya, Tapi... "
Lina langsung memotong perkataan Cahaya.
"Itukan Tuan dia sendiri mengaku, kalau dia mengancamku." Ujar Lina yang masih mengeluarkan air mata buayanya dan merasa tersakiti.
Cahaya tersenyum smirk mendengar perkataan Lina.
"Dengar baik-baik dan pasang kuping kalian. Saya memeng mengancamnya karena dia mau menampar pipi saya, dan saya tidak Terima dia menamparku." Ujar Cahaya lantang dan menujuk kearah Lina. Lina mulai Cemas dan meremas tangannya.
"Tuan dia bohong, Mana mungkin saya mau menamparnya."
"Kalau kalian tidak percaya, kita cek CCTV Saja." Ujar Cahaya santai.
"Apa yang dikatakan Nona ini bener tuan, tadi bu Lina mau menamparnya." Ujar Chindy yang dari tadi melihat perdebatan antara Cahaya dan Lina.
"Cin, kamu jangan bohong ya, mana ada saya mau menampar dia." Ujar Lina Sewot pada Cindy.
"DIAM." Teriak Chandrick, pusing mendengar perdebatan Karyawan dan sekretarisnya. "Kalian bertiga keruanganku sekarang." Ujar Chandrick lagi dan melangkah untuk kembali ke ruangannya.
...***Bersambung***...
__ADS_1