
"Kita makan dulu, sebentar baru kamu lanjut lagi marahnya sayang." Ucap Chandrick menggendong istrinya yang membuat cahaya memekit kaget dan langsung mengalungkan tangannya dileher Chandrick.
Sesampainya dimeja makan, Cahaya menyantap makanan yang sudah tertata rapi dimejah. Sedangkan Chandrick tersenyum melihat pola makan istrinya semakin meningkat semenjak kehamilan istrinya.
Setelah selesai makan cahaya dan Chandrick berbincang-bincang diruang keluarga. Namun pandangan Cahaya tertuju pada sosok perempuan yang berdiri memandang tajam kearahnya.
Cahaya tersenyum smirk. '
"Kamu mau bermain-main denganku. Lihatlah apa yang saya lakukan untuk hidupmu.'
"Sayang, apa sih yang kamu lihat" Tanya Chandrick?
"Tidak ada hubby. Ayo kita kekamar Hubby ngantuk." Cahaya mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ayoh sayang." Chandrick berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya dengan senang hati caha menerima uluran tangan.
Skip
Cahaya dan Chandrick berada dikamarnya. Cahaya yang bersandar di dada Chandrick sambil berbincang-bincang.
"Hubby...'
" Iya sayang"
"Hubby pasti punya markas disini kan." Ucap Cahaya yang membuat Chandrick mengerutksan alisnya.
__ADS_1
"Iya sayang, bahkan saya juga punya orang kepercayaan dimarkas. emangnya ada apa sayang?"
"Begini Hubby, saya merasa curiga dengan pelayan rumah Hubby kayaknya ia seorang mata-mata dari musuh Hubby. Karena sudah berberapa kali saya perhatikan, diam-diam dia selalu memandang kita dengan tatapan tajam bahkan kayak ada kilatan kemarahan dimatanya." Ucap Cahaya menjelaskan.
Chandrick hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Sayangku mau langsung eksekusi dia dulu atau kita keIndonesia dulu."
"Suruh saja anak buah Hubby tangkap dia, Setelah kita pulang dari Indonesia baru kita eksekusi Hubby.
" Baiklah., Ayo kita tidur, saya mau hubungi anggota yang ada dimarkas." Ucap Chandrick bangun untuk menelpon seseorang yang berada di markas untuk menangkap Lisa yang berada didalam rumahnya. Sedangkan Cahaya sudah memejamkan matanya.
Skip Keesokan harinya Cahaya sudah berada di pesawat pribadi suaminya. Mereka dalam perjalanan ke Indonesia.
15 jam 43 menit Cahaya dan Chandrick sudah sampai di Bandara. Chandrick menggandeng tangan Cahaya menuju mobil yang menjemputnya.
"Arsya, berapa kali saya bilang kalau bukan Area kantor jangan memanggilku tuan. Kita ini teman." Ucap Chandrick kesel sedangkan Cahaya hanya terkekeh melihat kekesalan suaminya.
"Baiklah Chandrick, ayo masuk, saya antar kerumahmu dengan selamat."
Chandrick membukakan pintu Istrinya dan ia juga. ikut masuk duduk di samping istrinya.
Di dalam mobil.
"Ar, singga direstoran untuk mengisi perut."
"Baiklah"
__ADS_1
"Sayang besok sebelum kekantor kita periksa dulu ya kandunganmu." Ucap Chandrick dengan mengelus perut Cahaya yang agak membuncit.
"Iya Hubby."
Skip mobil yang dikendarai Arsya sudah sampai dirumah yang biasa ditempati Cahaya.
"Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya." Sapa pelayan yang menyambut Tuan Rumah.
"Iya Bi" Ucap Cahaya sedangkan Chandrick hanya berdehem.
"Selamat datang juga Tuan" Sapa pelayan itu pada Arsya.
Arsya hanya berdehem lalu mengikuti langkah Chandrick dan Cahaya keruang tamu.
"Kukira kamu tidak kembali lagi kesini" Ucap Arsya menatap pasangan pasutri yang duduk santai.
"Ada masalah di kantorku." Jawab Cahaya yang membuat alis Arsya mengernyit bingung.
"Maksudmu kantor yang mana?" Tanya Chandrick.
"Kantor Aditama" Ucap Cahaya yang diangguki Arsya mengerti.
Jadi kapan kamu kekantor Aditama?" Tanya Arsya lagi.
"Besok, Tanpa mereka ketahui saya akan muncul dipertemuan mereka." Ucap Cahaya tersenyum licik membuat Arsya ngeri melihat senyum Cahaya tidak seprti biasa.
__ADS_1