Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku

Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku
Bab 76


__ADS_3

"Iya Saya anaknya Deon Dirgantara. Saya yang akan menggantikannya untuk membahas kerjasama sekaligus tanda tangan kontrak dengan perusahaan Drick." Ujar Kevin masuk kedalam Lift, Cahaya tetap berdiam kaku, bingung ikut masuk atau tidak.


Mau tidak mau Cahaya juga ikut masuk kedalam Lift bersama Kevin.


Kevin melirik Cahaya Namun Cahaya cuek saja tidak memperdulikan Kevin yang berada di dekatnya.


Cahaya dan Kevin sudah berada di lantai yang sama. Sedangkan Cahaya berjalan kearah ruangannya tanpa menyapa Kevin ataupun meliriknya.


Cahaya memijit pelipisnya agak pusing.


Tok tok tok (Suara ketukan pintu diluar)


"Masuk" Ujar Cahaya dalam ruangan.


Arsya masuk kedalam ruangan Cahaya. Ia melihat Cahaya yang sedang memijit pelipisnya.


"Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Arsya khawatir.


"Kepalaku sedikit pusing Ar." Ujar Cahaya sambil memijit kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Nona mau diantar ke rumah sakit, Biar nanti aku yang handel mengenai pembahasan kerja sama dengan perusahaan Dirgantara.


"Baiklah, saya akan pulang dulu. Kepalaku bener-bener sangat pusing" Cahaya berdiri meninggalkan ruangannya, namun sebelum sampai didepan pintu, Cahaya terjatuh pingsan tak sadarkan diri yang membuat Arsya sangat panik.

__ADS_1


Arsya menggendong Cahaya alah bridal Style. Arsya sudah keluar dalam ruangan Cahaya dan dia bertemu dengan Kevin yang masih ada diluar duduk sambil menunggu dipanggil oleh pemilik perusahaan.


Kevin menghampiri Arsya yang menggendong Cahaya yang sedang menunggu Lift terbuka.


Setelah Lift terbuka Arsya dengan cepat masuk diikuti Kevin dari belakang.


Semua karyawan kaget melihat bos mereka dalam gendongan Arsya dalam keadaan pingsan. Semua karyawan bertanya-tanya kenapa bos mereka bisa pingsan.


"Bu Cahaya kenapa ya."


"Iya, tidak seperti biasanya sakit begitu."


" Semoga Bu Cahaya cepat sembuh."


Arsya sudah berada dalam mobil yang dikendarai Kevin sedangkan Arsya berada disampingnya agar Cahaya tidak terbentur di mobil.


"Ini sudah cepat Pak Arsya." Jawab Kevin sesekali melirik kebelakang melihat Cahaya yang masih dalam keadaan pingsan.


30 Menit mereka sudah sampai di rumah sakit Medika. Kevin keluar dari mobil memanggil dokter. Tanpa menunggu Kevin ia menggendong Cahaya masuk kedalam rumah sakit.


"Dokter.... Dokter... " Teriak Arsya panik.


Arsya membaringkan Cahaya keberangkar lalu Cahaya masuk dalam ruangan UGD untuk periksa.

__ADS_1


"Dokter selamatkan dia, kalau tidak Dokter akan tau sendiri akibatnya." Ancam Arsya yang sangat panik dengan kondisi Cahaya.


Arsya merogoh sakunya dan mengambil Handphonenya untuk menghubungi seseorang.


"Hallo Chandrick." Ucap Arsya.


"Ada apa, apa ada masalah." Tanya Chandrick penasaran, tidak seperti biasa temannya menelponnya disaat jam kerja.


"Chandrick maaf, saya tidak bisa menjaga Kaka Ipar. " Ujar Arsya merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Cahaya dengan baik.


"apa yang terjadi dengan istriku." Ucap Chandrick yang mulai Khawatir dengan keadaan istrinya.


"Kaka Ipar pingsan di kantor dan sekarang Kakak Ipar masuk rumah sakit."


Chandrick mematikan telpon sepihak setelah mengetahui tentang kondisi di istrinya.


Sedangkan dirumah sakit Arsya mengumpat seseorang.


"Kebiasaan." Gerutu Arsya lalu Arsya menatap Kevin yang bersandar ditembok.


"Pak Kevin, maaf. Lain kali kita membahas mengenai kerja sama kita, sekaligus tanda tangan kontraknya." Ujar Arsya.


"Tidak apa-apa, Saya ngerti apa lagi Nona Cahaya sedang sakit." Ujar Kevin.

__ADS_1


"Kenapa ketika saya melihat dia sakit, kenapa hatiku merasakan nyeri. Tidak mungkin saya menyukai istri orang." Ujar Kevin dalam hati yang masih menatap pintu UGD yang masih tertutup rapat .


...***Bersambung***...


__ADS_2