
"Kenapa ketika saya melihat dia sakit, kenapa hatiku merasakan nyeri. Tidak mungkin saya menyukai istri orang." Ujar Kevin dalam hati yang masih menatap pintu UGD yang masih tertutup rapat .
Ceklek
Arsya berdiri menghampiri dokter yang baru keluar dari UGD.
"Bagaimana keadaan Nona Cahaya." Ujar Arsya panik sedangkan Kevin hanya diam melihat kepanikan Arsya yang hanya seorang Asisten.
"Ada hubungan apa Arsya dengan Cahaya sehingga dia begitu panik." Ucap Kevin dalam hati sambil melihat Arsya berbicara dengan dokter.
"Nona Cahaya tidak apa-apa." Ujarnya menenangkan Arsya. "Suaminya Nona Cahaya mana?" Tanya dokter itu mencari suami pasiennya.
"Suaminya belum datang dok. Mungkin masih diperjalanan menuju kesini." Ujar Arsya.
"Kalau suaminya sudah datang suruh dia keruanganku." Ujar dokter itu pada Arsya.
"Baik Dok. Oh iya Dok boleh kami menjenguknya." Ucap Arsya pada dokter itu.
"Setelah Nona Cahaya dipindahkan diruang rawat baru bisa menjenguknya." Ucap Dokter itu yang diangguki Arsya. Dokter itupun melangkah masuk keruangannya.
Tak lama suster datang dan masuk keruangan Cahaya.
"Ruangan VVIP ya sus." Ujar Arsya yang diangguki suster itu yang mendorong brangkar Cahaya.
Cahaya sudah berada dalam kamar VVIP yang lengkap pasilitaanya didalam.
Malam harinya Chandrick sudah berada dalam rumah sakit. Chandrick mengeluarkan Handphonenya untuk menghubungi Arsya.
__ADS_1
Sedangkan Kevin sudah pulang ya setelah melihat keadaan Cahaya.
Arsya berlari keluar menemui Chandrick.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Chandrick kesal (Chandrick berbahasa Jerman ya.)
"Maaf Chandrick, saya kan menjaga istrimu." Ujar Arsya santai.
"Antarkan saya keruangan istriku." Ujar Chandrick masih kesel dengan sahabatnya.
Arsya menghela nafas lalu berjalan lebih dulu untuk kembali keruangan Cahaya.
Tak lama mereka sudah sampai dikamar Cahaya.
Chandrick mendekati istrinya yang tertidur pulas, setelah ia selesai makan.
Chandrick menoleh kearah Arsya.
"Antarkan saya keruangan dokter yang tangani istriku." Ucap Chandrick berjalan lebih dulu.
Chandrick melihat anak buahnya yang menjaga Cahaya didepan pintu.
"Wo, ternyata kamu sudah mempersiapkan beberapa orang untuk menjaga kaka ipar." Ucap Arsya repleks menepuk pundak Chandrick yang membuat Chandrick menatap tajam Arsya.
Arsya dengan cepat berjalan menuju ruangan dokter yang memeriksa Cahaya.
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Masuk" Ucap dokter dari dalam.
Arsya dan Chandrick masuk kedalam ruangan dokter dan Chandrick langsung duduk dihadapan dokter itu. Dokter gemetar ketakutan ketika Chandrick menatap tajam dokter yang ada didepannya.
"Bagaimana keadaan istriku." Ucap Chandrick menatap tajam dokter itu.
Dokter itu menelan salivanya. "No.. Nona Cahaya baik-baik saja." Ucap dokter itu gugup dan berkeringat.
Brak
Chandrick menggebrak meja keras membuat Arsya dan Dokter itu kaget.
"Apanya baik-baik istriku masih lemes begitu." Bentak Chandrick pada dokter itu yang menurutnya terlalu bertele-tele.
"Sabar Chandrick, kita dengarkan dokter dulu bicara.' Ucap Arsya berusaha menenangkan sahabatnya yang mulai emosi.
Dokter itu menarik nafas panjang sebelum menjelaskan orang didepannya.
" Tuan Selamat Nona Cahaya mengandung. lebih jelasnya lagi sebaiknya tuan bawah Nona Cahaya di dokter kandungan." Ucap Dokter itu yang membuat Chandrick mematung.
"Baiklah dokter." Ucap Arsya bicara dengan cepat sebelum sahabatnya berbicara.
Arsya keluar dari ruangan dokter itu diikuti oleh Chandrick dibelakang.
"Arsya buatkan janji dengan dokter kandungan." Ujar Chandrick yang diangguki Arsya.
...***Bersambung***...
__ADS_1