
Aditya mondar-mandir di depan pintu UGD. Dia begitu cemas dengan keadaan Kayla dan anak dikandungnya.
Sedangkan di lorong rumah sakit seorang paru baya berlari menghampiri anaknya.
"Dit Kenapa Kayla bisa jatuh, bukankah kamu bilang kalau Kayla ada di apartemen, kenapa Dia bisa berada di persidangan kamu." Tanya Ibu Aditya bertubi Tubi.
"Aditya tidak tau, kenapa Kayla berada ditempat itu." Ujarnya sendu sambil menatap pintu ruangan UGD.
"Kenapa dokternya lama sekali." Gumamnya terus menatap pintu itu.
Ceklek
Pintu terbuka, Aditya langsung menghampiri dokter yang menangani Kayla.
"Dok bagaimana keadaan istri dan anak dalam kandungannya."
"Alhamdulillah istri dan kandungannya, baik-baik saja, untung bapak cepat membawanya kerumah sakit sehingga dia dapat tertolong."
"Dok boleh saya melihat kondisi istriku."
"Bapak baru bisa melihatnya, setelah istri bapak dipindahkan di ruang rawat."
"Baiklah dok, Terima kasih."
Dokter itupun berlalu meninggalkan Aditya yang masih berdiri didepan pintu UGD.
"Maaf Pak Ibu Kayla kami akan memindahkannya di ruang rawat." Ujar Suster itu dan diangguki Aditya.
"Sus" Panggilnya dan membuat suster itu menoleh kepadanya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu."
"Sus, diruangan biasa saja ya"
__ADS_1
"Baik Pak."
Kayla sudah dipindahkan dikamar rawat seperti permintaan Aditya.
"Mas kenapa saya ditempatkan disini bersama mereka.mas tidak dikamar VIV ajah si mas, Mupet tau nggak mas" Ujar Kayla kesel dan menatap sekiling dengan pandangan jijik.
"Kayla, tolong don ngertiin mas. Mas tidak punya uang untuk tempatkan kamu kamar yang bagus." Ujarnya lesu dan membuat Kayla mendengus kesel.
"Saya ingin pulang aja, saya nggak suka tempat seperti ini.' Ujarnya marah lalu membalikan badangnya.
" Kay, apa kamu tidak bisa mengerti. saya juga begini karena kamu. Cahaya ninggalin saya juga karena kamu." Ujarnya emosi dan sedikit membentak Kayla.
"Mas menyalahkan saya, Salahkan saya terus. Mas dan orang tua mas itu selalu menyalahkanku." Ujarnya tak kalah emosi.
"Kau... " Aditya mengangkat tangannya untuk menampar Kayla. Namun itu tidak terjadi karena mengingat Kayla yang sedang hamil.
"Mas mau menamparku, silahkan tampar, ni tampar mas, silahkan tampar." Ujar Kayla mendekatkan pipinya kearah Aditya.
Aditya meninggalkan Kayla tanpa mengucapkan apa apa.
"Cari anging bu." Ujarnya lalu pergi tanpa mendengar jawaban ibunya.
Ibu Aditya menghampiri Kayla yang sedang baring membelakanginya.
"Kay... " Panggil Ibu Aditya."
"Apa si bu, ganggu orang tau ngga lagi istirahat." Ucapnya ketus tanpa menoleh ke Ibunya Aditya.
"Kamu itu ya tidak ada sopan santunnya sama orang tua."
"Bu saya ini lagi hamil cucu Ibu. saya ini butuh istirahat bu."
Menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat kelakuan Kayla.
__ADS_1
"Belum saja jadi menantuku sudah kurang ajar sama orang tua, apa lagi kalau dia sudah jadi menantu atau istrinya Aditya, mungkin dia semakin kurang ajar. ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa dia yang akan menjadi nyonya besar dirumahku. Lamunan Ibu Aditya berhenti karena teriakan Kayla.
" IBU..... " Teriak Kayla melengkin sehingga kedengeran di lorong rumah sakit.
"Maaf Bu, ini rumah sakit. Ibu jangan teriak-teriak menganggu pasien lain." Tegur suster yang menjaga di rumah sakit.
"Maaf Sus" Ujar Ibu Aditya menahan malu. Lalu dia menatap tajam Kayla.
"Kay kamu apa-apaan si teriak ngga jelas." Ujarnya emosi melihat kelakuan Kayla.
"Ya salah Ibu sendiri, dipanggil dari tadi tapi Ibu malah asik melamun. ntah apa yang Ibu pikirkan." Ujarnya tanpa rasa bersalah.
"Kamu itu ya..... "
"Kay, kamu kenapa si teriak-teriak sampai kedengeran diluar." Ujar Aditya.
"Mas, kapan nikahin saya, kalau mas tidak nikahin sayansecepatnya. saya akan ninggalin mas dan membawa anak ini pergi bersamaku." Ancamnya serius dan menatap tajam Aditya.
"Kay, tunggu ya sampai masalah mas dengan Cahaya selesai." Ujarnya lembut berharap Kayla luluh.
"Itu terlalu lamah, mas harus nikahin saya minggu ini." Tegas tidak terbantahkan.
"Tapi Kay."
"Itu sih terserah mas, kalau mas masih mau saya berada disisi mas atau saya akan pergi dari kehidupan mas bersama janin yang ada di dalam perutku."
"Baiklah minggu ini kita menikah." Ujarnya pasrah.
"Kay, tapi kita nika sirih dulu ya."
"Ok, itu nggak masalah. yang penting mas nikahin saya dulu." Ujarnya dan diangguki Aditya.
...***BERSAMBUNG***...
__ADS_1
"