
Sudah satu minggu bayi Cahaya dirawat akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Ini bayinya bu." Ujar dokter itu menyerahkan bayinya pada Cahaya.
Dengan cepat Cahaya mengambil bayinya dan menciumnya. Ia begitu bahagia menggendong bayi yang selama ini yang ia idamkan.
"Terimakasih dok, kami permisi."
Chandrick dan Cahaya langsngung pulang kerumahnya membawa bayi mungilnya.
Di Dalam Mobil.
"Hubby ketika Tari sudah genap 1 bulan kita kembali ke Jerman, saya ingin hidup damai tanpa orang-orang masa laluku dan tanpa dendam.
"Iya sesuai keinginanmu."
Cahaya tersenyum bahagia. "Hubby lepaskan saja Aditya, biarkan dia kembali ke orang tuanya, sejujurnya aku kasian sama Ibu Aditya yang mencari anaknya. Aku hanya ingin hidup tenang bersama keluarga kecil kita hubby.
Chandrick tersenyum lalu mengelus kepala Cahaya. Chandrick mengambil handphonenya menghubungi seseorang.
"Lepaskan dia, biarkan ia kembali pada orang tuanya. tapi pastikan ia tidak melapor kepolisi. karena aku tidak ingin berurusan dengan polisi." Ucap Chandrick pada sebrang telpon Setelah ia mendengar jawaban anggotanya ia mematikan telponnya.
"Sudah sayang" Ucap Cahaya yang diangguki Chandrick.
__ADS_1
Tak terasa mereka sudah sampai di kediamannya. Cahaya menatap heran wanita yang duduk santai di teras rumahnya.
"Kamu kenal perempuan itu sayang?" Tanya Chandrick pada istrinya yang masih menatap perempuan itu.
"Iya Hubby aku mengenalnya." Jawab Cahaya dan langsung keluar dari mobilnya sambil menggendong putri kecilnya.
"Tolong Hubby gendong Tari dulu." Ucap Cahaya.
Cahaya terus melangkah dengan mata berkaca-kaca.
"RI.. sa.." Panggil Cahaya pada teman lamanya yang baru ia temui.
"Iya ini aku," Jawab Risa.
"Kenapa kamu tidak pernah menemuiku, kalau kamu masih hidup?" Tanya Risa menuntut.
"Ayo kita masuk didalam, kita bisa ngobrol di dalam." Ucap Cahaya menarik tangan Risa.
Sedangkan Chandrick hanya menggelengkan kepalanya sambil mengikuti istrinya.
"Sayang, Hubby keatas dulu ya bawah rita ke kamar."
"Iya Hubby."
__ADS_1
"Itu suami kamu?" Tanya Risa pada Cahaya.
"Iya, dia suamiku." Jawab Cahaya apa adanya.
"Ayo duduk sambil ngobrol dan kamu mau minum apa?" Tanya Cahaya antusias.
"Apa saja."
"Bibi, tolong buatkan minum buat tamuku." Teriak Cahaya.
"Baik Nona."
"BTW, Kamu tau dari mana, aku tinggal disini. Dan kenapa kamu bisa tahu kalau aku masih hidup.?" Tanya Cahaya beruntung.
"aku pernah lihat kamu masuk dikantor Aditama. dan tanpa sengaja aku lihat Aditya marah-marah dan diusir dari kantor Aditama. Dia sampai mengumpat kamu lo. Aku mencoba mencari tahu tentangmu Sampai-sampai aku mendatangi Arga dikantor dan mendesaknya memberitahukan aku tentangmu."
Risa tersenyum bahagia melihat sahabatnya masih hidup walaupun dengan wajah berbeda.
"Kamu tahu, aku bener-bener sedih ketika tahu kamu kecelakaan mobil. Tapi akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi." Ucap Risa lagi sambil memeluk Cahaya untuk melepaskan rindu.
"Terimakasih, karena kamu sudah mengawatirkanku. yang menolongku adalah suamiku. dia begitu baik dan merawtku sampai aku sembuh." Ucap Cahaya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu mendapatkan suami yang baik dan memcintaimu dengan tulus dan sekarang impianmu mempunyai seorang baby juga terwujud." Ucap Risa bahagia melihat sahabatnya juga berbahagia.
__ADS_1
"Kapan kamu akan menikah, umur kita itu tidak bedah jauh?" Tanya Cahaya pada sahabatnya, karena ia tahu sahabatnya itu belum pernah menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Belum ada calon, dan belum ada seseorang pria yang bisa menggetarkan hatiku." Jawab Risa singkat karena ia paling membalas laki-laki yang hanya bisa menyakiti hati seorang perempuan.