
Chandrick memeluk istrinya yang berada di dapur yang sedang memasak sarapan untuk suaminya.
"Sayang... kok ditinggal sendirian dilamar." Ujar Chandrick manja yang masih memeluk istrinya.
"Hubby, lepas dulu. Nanti masakanku hangus." Cahaya mencoba melepaskan pelukan suaminya yang sangat erat.
"Baiklah, saya duduk ya tungguin masakan kamu." Chandrick melepaskan pelukannya. dan ia duduk dimejah makan sambil menunggu Cahaya selesai memasak.
Setelah masakannya masak. Ia pun langsung menata diatas mejah makan dan ia menyisahkan sebagian untuk pelayan yang bekerja dirumahnya.
"Ayo makan Hubby." Ujar Cahaya yang sudah ia ambilkan makanan untuk Suaminya.
Mereka sudah selesai makan dan Chandrick kembali ke kamarnya untuk mengganti bajunya karena ia akan kemarkas.
"Sayang, saya keluar dulu ya." Pamit Chandrick yang diangguki Cahaya. Sebelum Chandrick keluar ia mencium kening istrinya.
"Hubby.. " Panggil Cahaya yang membuat langkah Chandrick berhenti. "Saya mau ke perusahaan Hubby." Ucap Cahaya lagi.
"Mau bareng atau naik mobil sendiri."
"Biar sendiri ajah Hubby.'
Chandrick hanya mengangguk menyetujui permintaan Istrinya lalu ia melanjutkan langkahnya menuju kemobil mewahnya.
...****************...
__ADS_1
"Brengsek..." Marah Aditya yang masih dikurung diruang gelap.
"Siapa si yang menculik ku. Bahkan saya tidak mengenal mereka." Guman Aditya dengan perasaan campur aduk.
Ceklek
Pintu terbuka dan pandangan Aditya belum jelas siapa yang masuk kedalam ruangan tempat yang ia disekap.
Pria itu terus berjalan dengan Cool.
"Nyalakan lampunya." Ujar pria itu dengan suara tegasnya seperti biasa siapa lagi kalau bukan Chandrick.
Semua lampu menyalah dan tampaklah pria tampan yang berdiri didepan Aditya yang penampilannya berantakan.
"Kamu... " Kaget Aditya karena yang menculiknya adalah suami dari mantan istrinya.
"Kenapa kamu menculitku. kita tidak saling kenal bahkan saya tidak pernah menganggumu."
Chandrick terkekeh mendengar perkataan Aditya yang menurutnya sangat bodoh.
"Kamu berani mengancam istriku. jadi kamu harus Terima akibatnya." Ujar Chandrick menatap tajam Aditya yang membuat nyalinya menciut.
"Urus dia, jangan biarkan dia mati. saya ingin dia tersiksa." Bisik Chandrick pada anggotanya lalu pergi meninggalkan markas."
Aditya pun disiksa dan dicambuk sampai baju yang ia kenakan sudah robek bahkan darah mengalir dari tubuhnya. Diruangan itu hanya jeritan Aditya terdengar sangat menyenangkan pada keempat lelaki yang menyiksanya.
__ADS_1
Aaaaaakkkhh
Kali... an..
ke.. ja. . m
"Ha ha ha Kita memeng kejam."
"Kalian Psikopat"
Aditya kembali disiksa dengan mencabut kuku tangan dan kakinya yang membuat Aditya pingsan tak sadarkan diri.
"Cuih lemah." Anggota Chandrick meludahi Aditya dan pergi meninggalkan Aditya yang tergeletak diruangan gelap itu.
"Kamu periksa tawanan bos didalam." Ujar Anggota Chandrick yang bernama Reno.
Tanpa bertanya dokter itu memasuki kamar Aditya tempat yang ia sekap.
Dokter itu adalah dokter kepercayaan Chandrick yang berada di markas.
"Sungguh malang nasibmu harus ketemu dengan malaikat Maut.' Ucap Dokter itu dengan mengobati Aditya yang sudah di penuhi luka-luka ditubuhnya.
"Bagaimana, apa kamu sudah memeriksanya" Tanya Reno ketik ia melihat dokter keluar dari kamar penyekapan Aditya.
"Sudah, aku pergi dulu. saya ada urusan." Jawab dokter itu lalu pergi meninggalkan markas.
__ADS_1
satu jam Aditya baru sadar dari pingsannya ia melihat-lihat sekelilingnya ternyata ia masih ada dikamar yang sama.
"Saya harus bagaimana. Seharusnya saya bisa mengikhlaskan Cahaya bersama dengan orang lain. Ini tidak akan terjadi sama saya." Ujar Aditya yang meneteskan air matanya yang penuh penyesalan.