
Hari berlalu, Tepat Hari ini Cahaya satu bulan bekerja di perusahaan Chandrick. Dan hari ini dia akan bekerja lebihbkeras lagi untuk menyelidiki siapa yang berkhianat dikantor Chandrick.
Cahaya duduk dikursinya sambil menatap layar komputer didepannya. Cahaya sedang menyelidiki orang-orang yang patut dicurigai.
Cahaya berdiri dari kursinya, karena merasa mengantuk Cahaya ke pantry untuk membuat Kopi.
Namun sebelum dia sampai di pantry dia melewati satu ruangan yang ditemapti Jery dan Nardo. Cahaya yang curiga dengan orang yang berada dalam ruangan itu.ia langsung mendekat kearah pintu yang tidak tertutup rapat. Lalu Cahaya mengeluarkan Handphonenya untuk merekam percakapan orang yang ada di dalam. .
"Bagaimana kalau kita sampai ketahuan menjual data-data perusahaan pada saingan Tuan Chandrick, Jer bisa tamat riwayat kita di tangan Tuan Chandrick." Ujar Nando ketakutan.
"Bagaimana ni jer, kalau sekretaris baru tuan Chandrick sampai tau kalau kita pelakunya. Kita tidak bisa meremehkan sekretarisnya tuan Chandrick." Jerry mengacak rambutnya prustasi karena takut ketahuan kalau dia dalam membocorkan data-data penting perusahaan.
"Diam.. Kita tidak akan ketahuan, kalau kamu tidak buka mulut. Dan berapa kali saya bilang jangan pernah bahas masalah ini dikantor. Bagaimana kalau ada orang mendengar percakapan kita." Ujar Nandomenatap sekeliling untuk memastikan tidak ada mendengar percakapan mereka. Tanpa mereka sadari ada seseorang menguping bahkan sampai merekam pembicaraan mereka.
Cahaya tersenyum smirk setelah mendapatkan rekaman yang menurutnya bagus. Lalu Cahaya lanjut jalan ke pantry untuk membuat kopi yang sempat tertunda karena menguping percakapan Jerry dan Nando.
Cahaya bersenandung senang sambil mengaduk kopinya. Cahaya kembali ke kursinya. Namun semua Karyawan heran melihat Cahaya yang tersenyum tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Cahaya meminum kopinya. "Nikmat yang mana lagi kau dustakan." Cahaya bersandar di kursinya memikirkan rencana untuk menangkap jerry dan Nando atau dia memberitahu Tuan Chandrick.
"Nona Cahaya." Panggil Hanz, Namun Cahaya tetap diam.
"Nona Cahaya." Panggil Hanz lagi, namun Cahaya tetap tidak merespon panggilan Hanz. karena Cahaya masih sibut dengan pemikirannya sendiri.
BRAK.
Hanz memukul keras meja Cahaya. Cahaya terjingkat kaget.
Plak..
"Maaf Hanz, saya tidak sengaja menamparmu, Saya repleks karena kaget." Ujar Cahaya merasa tidak enak sama Hanz.
"Tidak apa-apa Nona, Cuma tenaga nona lumayan besar sampai pipi saya merah." Jawab Hanz agak meringis karena sakit akibat tamparan Cahaya.
"Kenapa kamu menggebrak mejah saya, sampai tangan saya melayang ke pipimu karena kaget." Tanya Cahaya pada Hanz. Karena gara-gara Hanz rencana di otaknya yang sudah dia susun hilang seketika.
__ADS_1
"Nona lagi mikirin apa si sampai beberapa kali saya memanggil nona tidak menjawab." Bukan menjawab pertanyaan Cahaya. Malah Hanz bertanya kembali pada Cahaya.
Cahaya hanya terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tidak usah kepo Hanz, Buat apa kamu mencariku." Ujar Cahaya mengalihkan pembicaraan.
Hanz menepuk keningnya. "Hampir lupa, Nona tuan Chandrick memanggil anda keruangannya."
"Kenapa dia tidak menelpon saja, kenapa dia menyuruhmu.
" Dari tadi Tuan menelpon, cuma Nona tidak mengangkat telponnya."
Cahaya manggut lalu berjalan melewati Hanz. Namun Hanz memanggilnya.
"Nona mau kemana?" Tanya Hanz menghampiri Cahaya.
"Mau ketemu Tuan Chandrick, Hanz." Ujar Cahaya geram.
__ADS_1
Hanz hanya membulatkan mulutnya, Hanz Hanya melihat Cahaya berjalan kembali menuju keruangan Chandrick.
...***Bersambung***...