Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku

Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku
Bab 50


__ADS_3

Mereka bertiga sudah berada di ruangan Ceo. Lina dan Cindy begitu tegang sedangkan Cahaya hanya santai berdiri tanpa ada rasa takut. Berbeda dengan Cindy dan Lina mereka suda gemetar ketakutan. Karena mereka tau Chandrick tidak akan mentolerir orang yang berbuat kesalahan.


"Chandrick masih diam dan menatap ketiga orang yang berada dalam ruangannya.


"jelaskan, apa permasalahan kalian, Sampai kalian berani berkelahi dikantor." Ujar Chandrick tegas. Lalu dia menatap tajam ketiga wanita yang berada dalam ruangannya.


"Maaf tuan, ini kesalahan dia. Dia mengaku sebagai sekretaris tuan. Namun saya melarang dia naik memakai lift khusus untuk Ceo Namun dia marah-marah sama saya, dia juga mengamcam saya tuan. Bohong Lina, walaupun tidak sepenuhnya dia berbohong.


" Bener itu" tanya Chandrick pada Cahaya.


Cahaya hanya memutar bola matanya malas. Cahaya sudah capek berdiri dia menarik kursi lalu duduk dengan santai yang membuat Cindy dan Lina melongo melihat kelakuan Cahaya. Sedangkan Chandrick hanya tersenyum tipis.


"Tuan Cek CCTV saja. kalau mau lihat kebenarannya. lagi mager untuk menjelaskan."


Lina mendengar perkataan Cahaya membuatnya cemas.


"Kamu juga berada di tempat kejadian itu kan" Tanya Chandrick yang dianggukinya Cindy. "Coba kamu jelaskan kejadian sebenarnya yang terjadi didepan Lift."


"Sebenarnya.. Sebe.. narnya.." Cindy terbata bicara karena dia dipolotoki oleh Lina agar Cindy tidak berkata yang sebenarnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa, Cepat katakan atau kalian mau Sayan pecat." Bentak Chandrick pada karyawannya yang sudah membuang-buang waktunya.


"Jangan pecat saya tuan, saya akan ceritakan yang sebenarnya yang terjadi didepan Lift." Ujar Cindy memohon pada Chandrick agar dia tidak dipecat. dia tidak peduli lagi dengan ancaman Lina. Cindy pun mulai menceritakan semua tanpa ada yang dia tutupi atau kurangi.


Setelah Chandrick mendengar cerita Cindy, dia menatap tajam Lina yang sudah gemetar ketakutan.


"Kamu mau mengundurkan diri atau saya pecat secara tidak terhormat."


"Jangan pecat saya tuan, saya masih butuh pekerjaan ini. Saya mempunyai ade yang harus saya biayai sekolahnya tuan." Lina terus memohon pada Chandrick agar dia tidak di pecat.


Chandrick menghela Nafas. "Baik saya beri kamu kesempatan. Tapi ingat jika kamu membuat kesalahan 1 kali lagi. Kamu akan saya pecat langsung dan kamu tidak akan diterima kerja diperusahaan manapun."


"Kalian berdua keluar dan kamu tinggal, saya ingin bicara sama kamu."


Setelah kedua karyawan Chandrick keluar. Chandrick menghampiri Cahaya yang masih duduk dengan santai di dalam ruangan.


...****************...


"KEVIN..." Teriak Clara pada Kevin yang jarang tinggal dirumah karena Kevin kebanyakan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

__ADS_1


"Tidak perlu teriak, saya tidak budek." Kevin menatap tajam Clara yang berteriak padanya.


"Kevin kau anggap saya apa si, saya ini istri kamu. tapi kamu malah kebanyakan main diluar."


"Clara Clara, saya enikah sama kamu karena paksaan orang tuaku dan sekaligus desakan dari keluargamu. Jadi kamu jangan pernah menuntut apapun sama sama."


Kevin tidak menghiraukan Clara yang sudah meneteskan air mata. Bukanya merasa Iba, Kevin hanya tersenyum mengejek melihat Clara meneteskan air mata.


"kamu tidak perlu merasa tersakiti, Karena kamu sendiri kan yang mau nikah sama saya.Jadi Terima nasib ajah.


Clara hanya menatap Kevin yang pergi dengan mengendarai motornya.


" Brengsek... Brengsek..." Marah Clara dan berlari kekamarnya.


"Dia pasti masih memikirkan janda mandul itu, sudah mati masih nyusahin."


"Aaaaahhh brengsek kamu Cahaya." Ujar Clara mengacak rambutnya prustasi.


"Bahkan kamu sudah mati, Kevin tetap selalu memikirkanmu. Aaahhhh, saya benci kamu Cahaya." Teriak Clara di dalam kamarnya seperti orang tidak waras. Karena terlalu marah.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2