Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku

Penghianatan Suamiku Dan Sahabatku
Bab 38


__ADS_3

"Brengsek..." Marah Keyla dengan membanting barang-barangnya yang ada dikamar.


Keyla berusaha menghubungi Daniel, Namun nomor Daniel tidak aktif. Saking keselnya Keyla membanting Hpny dengan keras. Layar HPnya retak akibat lemparan Keyla yang keras.


Brak


Aditya membuka pintu dengan kasar dan melihat kamarnya yang seperti kapal pecah lalu dia menoleh ke istrinya yang duduk dipinggir kasur.


"Key kamu apa-apan si, Marah-marah ngak jelas." Marah Aditya.


"Apa mas, mau marahin aku juga. Aku sudah tau mas, kalau kamu itu masih mencintai istri mas yang mandul itu." Ujar Keyla marah dengan menunjuk dada Aditya.


"Maksud kamu apa Key, mas tidak mengerti."


"Alah mas, jangan sok tidak tau. aku dengar mas, disaat mas bilang kalau masih mencintai si mandul itu."


"Kamu salah paham sayang, tidak seperti itu." Elak Aditya dan mencoba merayu Keyla.


"Aku benci kamu mas, Kamu menikahi ku cuma karena anak yang aku kandung ini q hiks hiks." Ujar Keyla menangis.


Aditya memeluk Keyla dengan mengucapkan Maaf. Namun Keyla melepaskan pelukan Aditya dan berlari keluar ke apartemen. Ketika pintu lift terbuka Keyla langsung masuk tanpa memperdulikan teriakan Aditya yang terus memanggilnya.


Sesampainya Keyla di loby, Keyla cepat-cepat pergi ke mobilnya dan mengendarainya dengan Kecepatan tinggi. Sedangkan Aditya mengacak rambutnya prustasi karena tidak berhasil mengejar Keyla


Keyla berhenti di pinggir jalan dekat penjual Kue. Namun dia tercengang melihat Cahaya yang masih baik-baik saja.

__ADS_1


"Brengsek, ternyata dia masih hidup, ternyata dia berbohong padaku kalau dia sudah membunuh Cahaya." Ujar Keyla Marah menatap tajam Cahaya yang memasuki mobil.


Keyla mengikuti mobil Cahaya dengan jarak agak jauh supaya tidak ketahuan. Mobil Cahaya berhenti di parkiran rumah sakit sedangkan Keyla hanya mengamatinya dari jauh.


"Kalau Daniel tidak bisa membunuhmu, saya sendiri yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Seringai Keyla dengan tersenyum Jahat. Keyla terus berada di dalam mobil terus mengamati pergerakan orang di dalam.


Sedangkan Cahaya sudah berada di ruangan Arga yang dirawat.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Cahaya menatap Arga yang masih memar di bagian mukanya. Lalu Cahaya menarik kursi dan duduk disamping brankar Arga.


"Baik Nona." Jawab Arga agak meringis karena rahangnya masih terasa sakit.


"Baik, mana baik kalau bicara saja seperti itu." Cibir Kevin yang baru masuk dan langsung duduk disofa di dekat dicky.


"He he he" Arga terkekeh dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terima kasih Nona." Ujar Arga dan mengambil kue pemberian dari Cahaya lalu dia membukanya.


Arga mulai makan kue yang diberikan Cahaya padanya. Namun ketika dia mengunya dia meringis menahan sakit di rahangnya.


"Masih sakit?" Tanya Cahaya kawatir dengan memegang pipi Arga.


Kevin mendengus kesal melihat Cahaya memegang pipi Arga. Lalu dia berdiri bersiap untuk pergi.


"Mau kemana Vin?" Tanya Cahaya ketika dia melihat Kevin sudah berada didepan pintu.

__ADS_1


"Kantin." Jawab Kevin datar yang membuat Cahaya mengerutkan dahinya bingung melihat perubahan Kevin.


"Dia kenapa si, kayak perempuan saja yang lagi mens." Gerutu Cahaya yang membuat orang didalam ruangan terkekeh geli.


"Nona Cahaya tidak tau, Kenapa tuan Kevin tiba-tiba berubah dingin seperti itu.?" Tanya Arga gemas dan diangguki Cahaya.


"Non Dia itu lagi cemburu, karena Non memegang pipi tuan Arga. Timpal Dicky yang masih duduk disofa sambil memainkan Handphonenya.


Cahaya melotot mendengar perkataan Dicky. dia baru sadar ternyata Kevin cemburu melihat perlakuannya dengan Arga.


15 Menit kemudian Kevin datang dengan menenten makanan dari kantin.


"Ini kalian makan dulu, pasti kalian belum ada yang makan kan." Ujar Kevin datar tanpa menoleh kearah Cahaya karena masih kesel.


Kevin mulai membagikan makan siang yang ada di dalam ruangan Dan terakhir dia membagikan pada Cahaya. walaupun dia kesel dia tetap perhatian dengan orang yang dia sayang.


"Vin... "


Keving memotong perkataan Cahaya.


"Makanlah, nanti kita bicara." Ujar Kevin datar, Namun masih terkesan lembut dan diangguki Cahaya. Cahaya mulai menyantap makanan yang diberikan Kevin.


"Vin Kamu tidak makan?" Tanya Cahaya ketika dia melihat Kevin duduk santai di sofa.


"Saya sudah makan." Jawabnya datar dan Cahaya menghela nafas mendengar jawaban Kevin.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2