
Rumah Sakit.
Cahaya sudah sadar beberapa jam yang lalu.
"Terima kasih sayang, saya sungguh bahagia. Kamu telah memberikanku putri kecil yang cantik. Ujar Chandrick mencium tangan istrinya.
Cahaya hanya tersenyum menatap suaminya. " Hubby, saya ingin melihat putri kecilku."
"Jangan dulu ya sayang, Kamu harus banyak istirahat." Jawab Chandrick sambil mengelus kepala istrinya dan mencoba memberi pengertian agar mau istirahat dan bekas operasinya tidak terbuka kalau banyak gerak.
"Tapi Hubby... "
"Tidak ada tapi-tapi, kamu harus banyak istirahat, saya tidak ingin kamu kenapa-napa." Ucap Chandrick memotong perkataan Cahaya yang membuat Cahaya manyung.
"Hubby, sudah memberikan nama si kecil.?" Tanya Cahaya.
"Belum sayang. Saya tunggu kamu sadar dulu baru kita beri nama." Jawab Chandrick yang masih mengenggam tangan istrinya.
"Bagaimana kalau kita beri nama Mentari Alexander."
"Nama yang cantik, kita bisa panggil Tari." Balas Chandrick. "Kamu istirahat dulu, biar besok kita bisa melihat putri kecil kita.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
Seseorang mengetuk pintu diluar.
Setelah dipersilahkan masuk. kedua pemuda itupun masuk keruangan Cahaya.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Arga yang baru datang karena sebelum Cahaya sadar ia kembali kekantor untuk mengerjakan pekerjaannya yang harus ia selesaikan.
"Alhamdulillah, saya sudah baikan."
"Ini pesananmu." Ucap Arsya menyerahkan paper bag pada Chandrick.
"Simpan dimejah." Ujar Chandrick datar tanpa menoleh.
"Nona, ketika saya kesini. Saya berpapasan Keyla, Ia kelihatan pucat dan lemas." Ucap Arga.
Sedangkan Cahaya hanya diam tanpa berkomentar mengenai Keyla.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Arga khawatir karena Cahaya hanya diam tanpa berkomentar.
Arsya dan Chandrick berbalik menatap Cahaya.
"Sayang.. " Panggil Chandrick lembut.
Cahaya tersenyum lalu mengelus pipi suaminya. "Saya tidak apa-apa Hubby. Kalian tenang saja saya tidak apa-apa." Ucap Cahaya menghela nafas panjang. "Kalau mengenai Keyla, saya tidak peduli tentang dia. Hatiku terlanjur sakit atas perlakuannya, ia berapa kali mencoba membunuhku." Ucap Cahaya yang air matanya menetes mengingat orang yang sudah biasa anggap saudara menyakitinya begitu dalam.
__ADS_1
Chandrick menghapus air mata istrinya lalu mengecupnya. "Sayang jangan nangis, tidak usah dipikirkan yang sudah lalu. Kita hanya perlu membesarkan anak kita dan setelah kamu pulih kita kembali ke Jerman. dan disana juga kita akan adakan Aqikah untuk putri kecil kita." Ucap Chandrick yang diangguki Cahaya.
Cahaya menatap kedua pemuda itu yang masih berdiri didekatnya. "Kalian harus datang ya, ketika kami mengadakan Akikah kelahiran anak kami."
"Iya Nona." Ucap mereka secara bersamaan.
"Apa kalian juga tidak mengundangku." Ucap Leo yang baru datang dan mendekat kearah Cahaya.
"Kamu dari mana saja. Tiba-tiba menghilang.?" Tanya Chandrick ketika melihat Leo yang sudah berdiri didekatnya sedangkan kedua pemuda itu sudah duduk disofa.
"Ada masalah sedikit, tapi kalian tenang ajah saya bisa mengatasinya."
Leo menatap Cahaya yang masih terbaring.
"Jangan menatap istriku terlalu lama." Ucap Chandrick yang mulai posesif.
"Dasar bucin." Cibir Leo. "Bagaimana Keadaanmu." Leo kembali menatap Cahaya. ia tidak peduli tatapan suami Cahaya terhadapnya.
Cahaya tersenyum. "Saya sudah baikan Leo."
"Sayang, jangan tersenyum kepadanya. Kamu hanya boleh tersenyum padaku saja." Rengek Chandrick pada Cahaya.
Leo hanya memutar bola matanya malas. lalu ia pergi duduk disofa bersama kedua pemuda yang sedari tadi duduk sambil memakan buah yang ada di atas mejah.
__ADS_1