Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Mood tidak baik


__ADS_3

Yie Er terdiam memandang datar cermin di depannya. Membiarkan Yu Are dan Yie Er menghias dirinya. Sama sekali tidak memiliki mood baik dengan hari ini. Dengan siapa Yie Er akan melampiaskan mood jeleknya ini? 


Sampai pagi tadi Yuan datang kepada Yie Er mengeluh sakit pinggang. Dan dengan teganya lagi Yie Er mengabaikan Yuan. Menyuruh pria itu kembali bekerja, sampai pekerjaan Yuan benar- benar selesai Yie Er baru mengizinkan Yuan untuk kembali mengunjungi kediamannya. Membuat Yuan menderita, dari mood tidak baik Yie Er.


Dan sekarang siapa? Ah Yie Er rasa dirinya tahu siapa itu. Selir Pertama. Ya Selir Pertama, memang menjadi pembuangan mood tidak baik Yie Er hari ini. 


"Permaisuri, apakah anda sudah merasa baik?" Tanya Rei Rei sedikit meringis.


"Ya Rei Rei. Kapan aku merasa tidak baik?" Yie Er menarik salah satu alis hitamnya ke atas. Menatap Rei Rei dari pantulan cermin di depannya.


"Tidak Permaisuri. Mungkin Rei Rei merasa suasana hati anda sedang tak enak pagi ini!" Jelas Yu Are, melirik Rei Rei dari ekor matanya.


"Ya, perasaanku sedikit kurang baik. Tapi sekarang sudah kembali baik!" Yie Er tersenyum sampai pada kantung matanya.


"Syukurlah!" Hembusan nafas penuh kelegaan terdengar dari bibir Yu Are dan Rei Rei.


Yie Er tersenyum melihat itu. Berjalan menghampiri jendela di kediamannya. Jika dilihat-lihat hari masihlah pagi, mungkin jika dulu, waktu seperti ini adalah jam 07:30. Sangat cocok meminum teh melihat pagi.


"Yu Are!"


"Iya Permaisuri!" Jawab Yu Are cepat.


"Buatkan racikan teh untukku, Permaisuri ini ingin sedikit lebih bersantai melihat pagi!" Yie Er tersenyum menatap Yu Are di depannya. 


"Baik Permaisuri!" Angguk Yu Are dengan sedikit kerutan di dahinya.


"Permaisuri, bukankah hari ini anda membuat janji dengan Selir Pertama?" Tanya Rei Rei penasaran.

__ADS_1


"Iya, Permaisuri ini membuat janji." Angguk Yie Er santai.


"Lalu apa Permaisuri tidak membuat Selir Pertama menunggu?!" 


"Kau ini banyak sekali bertanya Rei Rei. Biarkan Selir Pertama sedikit menunggu!" Kekeh Yie Er menatap Rei Rei di sampingnya.


"Maaf Permaisuri!" Ucap Rei Rei tersipu malu.


Tidak ada suara dari Rei Rei lagi. Membuat Yie Er tersenyum tipis. Cukup lama Yie Er menunggu, Yu Are datang membawa racikan teh. Penuh aroma, sampai racikan teh itu terus dihirup oleh Yie Er. Setelah puas Yie Er baru meminumnya, terus berulang- ulang seperti itu. Sampai mentari juga sudah sedikit terang, teh milik Yie Er baru habis diminumnya.


"Ayo, kita pergi ke dapur Istana!" Yie Er berjalan anggun di depan Yu Are dan Rei Rei. Sepertinya suasana hati Junjungan mereka lebih baik berkali lipat.


Cukup lama Yie Er berjalan, mengingat dapur Istana sedikit berjarak dengan kediamannya. Sampai beberapa saat Yie Er dan kedua wanita di depannya berhenti di depan dapur Istana. Sekaligus di depan Selir Pertama yang sekarang berwajah masam.


"Salam Permaisuri!" Selir Pertama sedikit menunduk, tersenyum paksa sebagai formalitas. Diikuti pelayan- pelayan di belakangnya. 


"Salam kembali Selir Pertama. Apa Permaisuri ini terlalu datang di waktu belakang?" Balas Yie Er tersenyum sampai pada kantung matanya.


"Permaisuri ini rasa tidak. Mungkin Selir Pertama terlalu bersemangat! Permaisuri ini sangat mengerti!" Kekeh Yie Er anggun.


Membuat para pelayan diam, menatap sang junjungan mereka masing-masing. 


"Anda benar Permaisuri. Selir ini terlalu bersemangat!" Selir Pertama ikut terkekeh.


"Jika begitu mari Selir Pertama. Mengapa masih berdiam diri?" Tanya Yie Er lebih tepatnya seperti memerintah. Membuat Selir Pertama hanya bisa tersenyum, diam-diam meremas kuat pakaiannya di dalamnya.


Yu Are dan Rei Rei berjalan mengikuti Yie Er. Bersisian bersama para pelayan sombong Selir Pertama. Sedikit acuh, mereka berdua kembali menatap punggung sang junjungan. 

__ADS_1


"Permaisuri dan Selir Pertama memasuki dapur Istana!" Ucap prajurit penjaga pintu sedikit keras.


Yie Er dan Selir Pertama melangkah masuk. Membuat pelayan dapur menunduk menyambut Permaisuri juga Selir Pertama di Dinasti Han.


"Kalian bisa kembali bekerja! Permaisuri ini hanya akan mengambil sedikit tempat bersama Selir Pertama." Ucap Yie Er, tak lupa dengan senyuman manisnya.


"Baik Permaisuri!" Jawab para pelayan dapur Istana serempak. Kembali mengerjakan pekerjaan mereka, tanpa canggung dengan keberadaan Yie Er.


"Ayo Selir Pertama. Permaisuri ini akan mengajarkanmu bagaimana cara membuat kue cantik dengan baik!" Yie Er menggulung pakaian nya sampai pertengahan lengan. Diikuti Selir Pertama di sebelahnya.


"Selir Pertama, ambil tepung itu. Dan tuangkan di sini!" Pinta Yie Er meletakan mangkuk besar di depan Selir Pertama.


Selir Pertama hanya bisa menurut, menahan kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubunya.


"Sudah Permaisuri. Lalu apa lagi Permaisuri!" Tanya Selir Pertama terdengar manis, kontras dengan wajahnya.


"Terima kasih Selir Pertama. Rupanya Selir Pertama sudah cukup pandai!" Jawab Yie Er.


"Sekarang tolong aduk ini Selir Pertama! Permaisuri ini akan mengiris sedikit buah apel." 


Yie Er mengambil satu apel dalam keranjang. Mengirisnya cepat, dan satu apel lagi. Terus seperti itu, sampai tersisa satu apel di keranjang. Yie Er tersenyum miring, mengiris apel itu lebih cepat.


'Sret… !'


Tanpa bisa dicegah, darah segar merembes keluar dari celah celah daging jari telunjuk Yie Er. Membuat kedua pelayan setia dan para pelayan istana panik. 


"Permaisuri!" Panik Yu Are dan Rei Rei menghampiri Yie Er. Melupakan Selir Pertama disamping Yie Er.

__ADS_1


'Bruk…!' 


Semua terjadi dalam kejapan mata. Tepung dalam mangkuk itu terjatuh diatas pakaian indah Selir Pertama.


__ADS_2