Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Barang Bekas


__ADS_3

"Mengapa Yang Mulia berada di kediaman Permaisuri ini?" 


"Zhen sudah menyelesaikan persoalan di perbatasan!" Yuan bersenderi ria pada Yie Er di sebelahnya yang tengah bersungut tak suka. 


"Yang Mulia, Permaisuri ini akan mengunjungi kediaman Selir Pertama, bersama Ibu Suri Agung dan Ibu Suri!" Yie Er beringsut. Menjauhi Yuan begitu saja. 


"Zhen dengar akhir-akhir ini kau sering berkunjung ke kediaman Selir Pertama?" Tanya Yuan, kembali mendekati Yie Er.


"Ya, memangnya mengapa?" Tanya Yie Er menaikan sebelah alisnya.


"Tidak papa. Ternyata Permaisuri ini begitu baik!" Yuan tersenyum lebar menatap Yie Er. Kontras dengan wajah dingin tanpa ekspresi itu.


Yie Er terdiam. Menatap Yuan lamat-lamat, sampai tangannya perlahan-lahan mendorong Yuan menjauh dari tubuhnya.


"Yang Mulia. Permaisuri ini harus segera pergi! Ibu Suri Agung dan Ibu Suri mungkin sudah menunggu!" Yie Ee berdiri, bergerak menjauhi Yuan.


"Tidak. Zhen sudah memberitahu keduanya jika hari ini Permaisuri akan menghabiskan waktu dengan Zhen!" Yuan tersenyum jahat. Menatap wajah Yie Er yang sekarang berdecih tak suka. Sungguh, Yuan sangat suka melihat raut wajah Yie Er sekarang.


"Baiklah Yang Mulia. Permaisuri ini akan dengan senang hati menghabiskan waktu bersama anda!" Ucap Yie Er tersenyum lebar penuh paksa. Membuat Yuan tergelak menatap ekspresi dari Yie Er.


"Mmm, omong-omong Yang Mulia. Apakah tugas Panglima Besar Zilong juga akan selesai?" Tanya Yie Er. Membuat tawa bahagia Yuan terhenti, berganti wajah masamnya.


Yuan terdiam, rahangnya mengeras, tatapan mata merahnya menajam. 


"Jangan berbicara apapun mengenai Panglima Besar Zilong di depan Zhen. Dan Mengenai itu, Zhen rasa mungkin beberapa hari lagi!" Yuan berucap dengan seringainya, membuat Yie Er mendengus mendengar penuturan suaminya. Kasihan sekali Gegenya, mendapatkan ipar seperti Yuan.

__ADS_1


"Kau curang Yang Mulia. Disaat Gege Permaisuri ini tahu, dia pasti sedang menyumpah serapahi Yang Mulia!" Dengus Yie Er.


"Haha…! Biarkan saja. Dia selalu mengganggu waktu Zhen denganmu!" Tawa Yuan terdengar puas.


"Kasihan sekali Gege Permaisuri ini!"


Yie Er berucap kosong, menatap Yuan dengan tawa di depannya. Sangat mempesona.


"Biarkan saja dia menderita!" Sungut Yuan.


"Nyatanya Yang Mulia begitu jahan ternyata!" Yie Er merenggut menyilangkan tangan di dadanya. Mengubah raut wajah nya menjadi marah kepada Yuan.


"Haha…! Zhen memang jahat!" 


Dengan tawanya Yuan memeluk tubuh Yie Er, membawanya berguling di atas peraduan. Diam- diam Yie Er tertawa, menelusupkan wajahnya pada dada bidang Yuan. 


Kemudian kembali menenggelamkan wajahnya kembali. Memeluk Yuan erat- erat. Waktu luang seperti ini memang tidak bisa di sia- siakan. 


"Ibu Suri Agung dan Ibu Suri memasuki ruangan!" Seorang penjaga berucap.


Dari dalam kediaman Selir Pertama memberengut, ada apa dengan kedua wanita tua itu?


"Salam Ibu Suri Agung! Salam Ibu Suri! Tidak biasanya kalian mengunjungi kediaman Selir ini di waktu pagi benderang?!" Selir Pertama sedikit membungkuk, tersenyum ramah menyambut Ibu Suri Agung dan Ibu Suri.  


"Salam kembali Selir Pertama! Ibu Suri Agung membawa ramuan lagi untukmu. Agar tubuhmu juga semakin membaik!" Ucap Ibu Suri Agung. 

__ADS_1


Selir Pertama menatap ramuan di depannya. Ditelan ludahnya dalam- dalam. Apa- apa an wanita tua di depannya ini. Rasa pahit kemarin baru saja hilang, dan sekarang? Cih, menjengkelkan sekali.


"Terima kasih atas perhatian Ibu Suri Agung!" Selir Pertama tersenyum lebar, menatap lamat-lamat Ibu Suri Agung.


"Bukan Ibu Suri Agung ini Selir Pertama, tapi Ibu Suri. Berterima kasihlah kepada Ibu Suri! Dia mengingatkan untuk memberimu ramuan ini kembali!" Ibu Suri Agung menatap Ibu Suri di sampingnya.


"Ibu Suri?" Selir Pertama menatap Ibu Suri penuh ketidak percayaan. Pupil matanya melebar.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah Selir Pertama?" Ucap Ibu Suri merasa tersinggung.


"Ah tidak Ibu Suri. Seli ini hanya terlampau senang. Jika begitu Selir ini akan meminumnya segera!" Balas Selir Pertama dengan cepat menggeleng. Mengambil ramuan di depannya, lalu meminumnya cepat.


Cih, pahit sekali rasanya. Bahkan semakin pahit, rupanya sangat mendendam wanita tua di depannya. Dasar guangfu tidak beradab! Tunggu saja pembalasannya nanti! 


"Tubuhmu akan lekas merasa baik Selir Pertama. Dan kau bisa kembali menghabiskan waktu dengan Permaisuri!" Seru Ibu Suri Agung tersenyum senang.


"Iya Ibu Suri Agung. Dan omong- omong kemana Permaisuri, tidak biasanya Permaisuri tidak berkunjung?" Tanya Selir Pertama. Raut wajahnya dibuat- buat semakin penasaran.


Padahal nyatanya dirinya sama sekali tidak sesudi itu untuk bertanya. Lebih baik Permaisuri tak tahu malu itu lenyap dari hadapannya.


"Permaisuri sedang menghabiskan waktunya dengan anakku. Selir Pertama tahu bukan, akhir- akhir ini Kaisar tengah mengatasi masalah di perbatasan. Membuatnya rindu dengan Permaisurinya!" Sela Ibu Suri cepat. Mencuri star dari Ibu Suri Agung.


Dia tersenyum puas melihat raut wajah tak suka Selir Pertama selama beberapa nol detik. Sayang sekali, Ibu Suri Agung tidak melihat itu.


"Begitukah Ibu Suri? Selir ini yakin, Permaisuri juga merindukan Yang Mulia. Selir ini sudah terlalu sering menghabiskan waktu dengan Yang Mulia. Sekarang giliran Permaisuri!" Selir Pertama berucap manis. Disetujui Ibu Suri Agung dengan anggukannya.

__ADS_1


Membuat Ibu Suri terdiam, menatap tak suka Selir Pertama. Perkataannya mengatakan jika menantunya mendapatkan bekas. Dasar Selir tidak tahu diuntung! Menantu biadab!


__ADS_2