Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Siapa dia?


__ADS_3

"Apa-apa an Permaisuri menyebalkan itu. Hei dia berani memprovokasi Selir ini. Dan apa-apa an  bingkisan ini?" Selir Pertama menggeram marah menendang bingkisan dari Yie Er. Sampai bingkisan itu mengenai salah satu pelayan di depannya. 


Bisa hancur semua seluk beluknya jika Permaisuri itu ikut campur tangan dengan semuanya. Selir Pertama menyeringai, dirinya akan menjadi tuan dengan pion-pion bodohnya itu.


"Buka bingkisan itu, dan perlihatkan kepadaku!" Perintah Selir Pertama.


"Ini kue Permaisuri." 


"Kue?!" Kejut Selir Pertama, menatap kue di depannya. Kue cantik pedas kemarin, beraninya Permaisuri itu bermain kedok dengan dirinya? Selir Pertama tersenyum, menatap kue cantik di depannya.


"Cepat kemas kembali dengan bingkisan baru. Dan kirim kue cantik itu ke kediaman Ibu Suri Agung. Tapi cicipi kue itu lebih dulu!" Selir Pertama menyeringai menatap kue cantik di depannya.


"Kue ini enak Selir Pertama." Jawab salah satu pelayan.


"Bagus!"


"Jika begitu. Kirimkan segera ke kediaman Ibu Suri Agung. Katakan kepadanya, jika kue ini dari Selir Pertama. Jangan lupa, tambahkan racikan teh yang sudah kubuat!" Perintah Selir Pertama.


"Baik Selir Pertama." 


Dua pelayan pergi dari kediaman Selir Pertama. Menyisakan beberapa pelayan bersama Selir Pertama.


Selir Pertama terdiam, menatap tajam beberapa pelayan di depannya.


"Apa Permaisuri itu sudah tahu?" 


"Saya rasa belum Selir Pertama." 


"Bagus. Kau memang bisa diandalkan, dan sekarang pergilah beli rempah-rempah lebih menyakitkan dari kemarin. Agar orang tua menyusahkan itu segera tiada. Selir ini sudah muak dengan Permaisuri tak tahu diri yang selalu ingin ikut campur!" Geram Selir Pertama menatap tajam pelayan setia di depannya. Membuat pelauan lain merasa takut menatap Selir Pertama di depan mereka. 


"Pergi. Kembalilah sebelum besok!" Lanjut Selir Pertama. 


Sebentar lagi. Semua akan berada di genggamannya. Selir Pertama menatap diam ruangan kosong di depannya. Dirinya harus kembali memisahkan wanita tua dan yang lebih tua satu nya lagi agar tidak bersama. Ibu Suri memang sangat menyebalkan. Jika bisa, Selir ini sudah memenggal kepala Ibu Suri menyebalkan itu. 

__ADS_1


Dan Yang Mulia. Mengapa pria itu sangat terpikat dengan Permaisuri tak tahu malu itu. Selir Pertama, menggeram. Ingatannya kembali mengingat perkataan Yie Er. Dirinya berjanji, akan kembali merebut Kaisar dari tangan Permaisuri tak tahu malu itu. Dan menjadi Permaisuri dengan melahirkan pangeran mahkota selanjutnya. 


"Kalian semua pergi. Bagikan koin ini kepada rakyat. Katakan kepada mereka koin ini dari Selir Pertama!" Selir Pertama melempar dua kantong koin emas.


Dengan cepat, salah satu pelayan mengambil kantong itu. "Baik Selir Pertama." Ucap sang pelayan.  


 


Menjalankan tugas dari Selir Pertama. Membuat gosip akan nama Selir Pertama Dinasti Han beredar. Para rakyat membicarakan kemurahan hati Selir Pertama. Membuat berita itu bahkan sampai ke istana. Ke telinga sang Permaisuri mereka, Yie Er. 


"Jadi, gosip semacam itu sudah tersebar?" 


"Iya Permaisuri, mereka terus mengelu-ngelukan Selir Pertama." Angguk Rei Rei, sedikit berdecak tak suka.


"Bagus, terus awasi itu. Buat Selir pertama semakin ingin memberikan koin nya. Kediamannya terlalu menumpuk dengan koin!" Yie Er mendenggus, menatap jendela di sampingnya.


"Mengapa Permaisuri?" Tanya Yu Are melebarkan pupil penasaran.


"Agar Selir Pertama semakin berbesar diri dengan apa yang dimilikinya sekarang." Yie Er tersenyum tipis. Membuat Yu Are dan Rei Rei ikut tersenyum melihat itu.


"Hmm… apakah Ibu Suri dan Ibu Suri Agung juga tengah menghabiskan waktu mereka?"


"Iya Permaisuri."


"Ah, suasana sudah lebih baik sekarang. Dan bilang kepada pelayan di depan sana untuk mengantar kain ini ke kediaman Ibu Suri Agung! Permaisuri ini dengar Ibu Suri Agung dan Ibu Suri dengan menenun." Pinta Yie Er menyerahkan kain sutra putih kepada Yu Are.


"Permaisuri, mengapa tidak saya dan Yu Are saja?!" Heran Rei Rei.


"Kalian akan ikut dengan ku ke kota. Segera ganti pakaian kalian menjadi pakaian rakyat!" Jawab Yie Er.


"Baik Permaisuri!" Angguk Yu Are dan Rei Rei. Melaksanakan perintah Yie Er. Diam-diam mereka juga mengutus dua prajurit untuk menjaga Junjungan mereka dari jauh. Sesuai dengan perintah Kaisar mereka waktu lalu.


"Kami sudah bersiap Permaisuri." Yu Are dan Rei Rei datang dibelakang kediaman Yie Er. Lengkap dengan pakaian rakyat mereka saat ini.

__ADS_1


"Ayo, Permaisuri ini juga sudah bersiap!" Balas Yie Er tak menutupi kecantikannya meski memakai pakaian khas rakyat Dinasti Han diluar sana. Sangat sederhana namun cantik.


"Anda begitu mempesona Permaisuri!" Kagum Rei Rei.


"Jangan memuji lagi Rei Rei. Tapi terima kasih!" Yie Er bergumam memimpin langkah nya di depan.


"Permaisuri, apa yang akan Permaisuri lakukan di kota?" Tanya Yu Are.


"Hanya beberapa barang yang kuperlukan." Jawab Yie Er, membuat suasana menjadi hening.


Mereka berjalan, dan sampailah Yie Er di pasar kota yang ramai. Berdiri di kerumunan rakyat Dinasti Han, yang rupanya tidak menyadari jika Permaisuri mereka berada di tempat yang sama dengan mereka. 


Yie Er berjalan pelan, mencari barang yang dibutuhkannya. Dan apa itu, Yie Er melihat sesuatu,,, seorang prajurit yang sedang mengintainya. 


"Yu Are, lain kali jangan biarkan Yang Mulia mengutus prajurit untuk mengawalku. Permaisuri ini tak suka!" Gumam Yie Er berdesis, menundukan badannya diikuti Yu Are dan Rei Rei.


"Maaf, Permaisuri. Tidak akan saya ulangi lagi!" Sesal Yu Are.


Yie Er mengangguk, kembali berjalan diikuti Yu Are dan Rei Rei dengan sedikit rasa sesal.


"Kalian tunggu di sini. Jangan ikuti Permaisuri ini ke dalam toko!"  Perintah Yie Er di depan toko tanaman obat juga rempah-rempah.


"Baik Permaisuri. Kami berdua akan menunggu di sini!" Angguk Yu Are dan Rei Rei.


Yie Er berjalan memasuki toko itu, dengan Yu Are dan Rei Rei yang diam tak bergerak di depan pintu tokok memperhatikan Yie Er.


Netra tajam Yie Er menelusuri tanaman-tanaman di sekelilingnya. Sangat hening, tanpa aktivitas di sekitarnya, hanya ada dirinya disini. 


Yie Er terus berjalan, lebih dalam. Nyatanya semakin memasuki toko, semakin banyak tanaman langka. Sampai satu tanaman menarik perhatian Yie Er. Sepertinya hanya ada satu, dan Yie Er membutuhkannya dengan tanaman juga rempah-rempah lainnya. 


Tangan Yie Er terulur, hendak memegang daun kehitaman tanaman itu. 


"Jangan dipegang Permaisuri!" 

__ADS_1


Tangan Yie Er terhenti, fokusnya lebih memilih siapa pemilik suara di belakangnya.  


"Anda!" 


__ADS_2