Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Suara siapa?


__ADS_3

"Ibu Suri dinyatakan bersalah atas kematian Ibu Suri Agung!" 


"Tidak Yang Mulia! Mungkin semua ini adalah jebakan, Permaisuri ini bisa menjaminnya!" Yie Er berterik, menatap Yuan marah dengan mata berkaca- kaca.


"Dan karena itu. Ibu Suri dijatuhi hukuman mati, menggantungkan diri setelah 7 hari berkabungnya Ibu Suri Agung." Lanjut Yuan. Tanpa mempedulikan Yie Er. 


Berlalu pergi, bangkit dari kursi kebesarannya. Meninggalkan Ibu Suri dengan tatapan kosongnya.


"Yang Mulia!!!" Yie Er berteriak, satu tetea air mata mengalir melewati celah tulang pipinya.


Dibelakang sana, Rei Rei menangis menatap iba Junjungannya. Bersama Yu Are yang sesekali menyeka air matanya. 


"Ibu Suri, Selir ini tidak begitu menyangka Ibu Suri sejahat itu!" Tangisan Selir Pertama terdengar, menatap terluka Ibu Suri di depannya.


"Bukan aku. Tapi kau pelaku sebenarnya!" Ucap pelan Ibu Suri, menatap penuh kebencian Selir Pertama.

__ADS_1


"Ibu Suri bahkan tidak menyesal?!" Ucap Selir Pertama, mengundang bisik-bisik orang yang masih berada di sana.


"Pergi Selir Pertama. Permaisuri memerintahkanmu pergi…!!!" Yie Er berteriak marah, menunjuk pintu keluar di depan sana. 


Selir Pertama memegang dadanya, mantap Yie Er terluka. Air mata masih menetes di pelupuk mata Selir Pertama. Membuat pelayan iba menatap Selir Pertama.


Beberapa hari berlalu setelah keputusan itu. Gosip- gosip sampai saat ini masih belum mereda. Rakyat Dinasti Han bahkan dengan terang-terangan berani menghujat Ibu Suri. Istana kini tidak lagi sama, semuanya berjalan hampa. Setiap waktu Yie Er mengunjungi Ibu Suri di kediaman barat. Melihat bagaimana Ibu Suri hari ke harinya, sangat terlihat kurus dan kurang tidur. 


Membuat Yie Er merasa sesak melihatnya. Sampai kemarin Yie Er dengan beraninya menyelinap di tengah malam di kediaman Selir Pertama seorang diri. 


"Bagaimana dengan Permaisuri tak tahu malu itu? apakah dia terus menyelidiki Selir ini?" 


Suara itu, Yie Er seperti mengenalnya. Siapa dia? 


"Permaisuri terus menyelidiki anda. Hanya saja, tidak ada satupun bukti yang ditemukannya." 

__ADS_1


"Bagus. Biarkan Permaisuri tak tahu malu itu terus berputus asa seperti itu!" 


"Ya Selir Pertama!"


Yie Er berdiam diri di sisi lain rungan. Dia kenal dengan suara itu. Suara itu seperti suara pelayannya. Bagaimana mungkin, Pelayannya tidak mungkin berkhianat. Pelayan yang berbicara dengan Permaisuri adalah orang lain. Karena jelas, Pelannya saat ini tengah berada di dapur istana. Membuat sesuatu seperti yang diperintahkan. 


Kejadian malam itu terus membekas di dalam benak Yie Er. Meskipun Yie Er dengan penuh keyakinan mempercayai pelayannya. Namun tetap, Yie Er acap kali merasa curiga kepada kedua pelayannya. 


"Dari mana saja kalian?" Tanya Yie Er memicing. 


"Permaisuri, kami membawa makanan, sudah beberapa hari anda tidak makan!" Jawab Yu Are. Bersama Rei Rei meletakan makanan di depan Yie Er.


"Bawa kembali. Permaisuri ini akan mengunjungi Ibu Suri Agung!" Perintah Yie Er manatap tak berminat makanan di depannya. 


"Permaisuri, makan sedikit saja. Saya khawatir dengan kesehatan permaisuri!" Ucap Rei Rei menatap Yie Er khawatir.

__ADS_1


"Tidak Rei Rei. Bawa kembali semua itu. Sekarang bukan saatnya untuk makan. Permaisuri ini akan menemani Ibu Suri Agung!" Balas Yie Er menatap tajam Rei Rei. 


Berlalu pergi meninggalkan kedua pelayannya. Dengan cepat pula Yu Are dan Rei Rei mengikuti Yie Er. Junjungannya sangat terlihat lelah, dengan cekungan mata, dan tulang pipi yang terlihat. 


__ADS_2