Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Luka ditabur Garam


__ADS_3

"Selir Pertama, apa kau sudah merasa baik? Permaisuri ini datang berkunjung bersama Ibu Suri Agung dan Ibu Suri!" 


Yie Er tersenyum, menatap Selir Pertama di depannya. Kasihan sekali Selir Pertama, mungkin karena terlalu bersemangat kemarin. Membuat paginya yang indah sekarang menjadi sakit. Lain kali mungkin Yie Er akan lebih menaruh perhatian kepada Selir Pertama. 


Melihat Selir Pertama hanya diam tersenyum tanpa bicara. Sangat jelas, Selir Pertama begitu menyimpan gerutu hatinya di depan Yie Er.


"Selir Pertama. Ibu Suri Agung ini membawa ramuan untukmu, minumlah!" Ucap Ibu Suri Agung. 


Pelayan di sampingnya meletakan ramuan Ibu Suri Agung di depan Selir Pertama.


"Terima kasih Ibu Suri Agung, Ibu Suri, dan Permaisuri. Karena sudah begitu menaruh perhatian kepada Selir ini!" Balas Selir Pertama.


"Ya Selir Pertama. Permaisuri sepertinya begitu 


menaruh perhatian padamu. Ibu Suri Agung dengar kalian menghabiskan waktu kemarin?!" Sahut Ibu Suri Agung, menatap Yie Er di samping Ibu Suri agung yang sedari tadi asik meminum racikan teh di depannya.Tanpa berniat ikut berbicara. 


"Iya Ibu Suri Agung, kemarin Selir ini menghabiskan waktu dengan Permaisuri!"


Angguk Selir Pertama, tersenyum sampai kedua tonjolan pipinya bergerak ke atas. Melirik Yie Er dari ekor matanya.


Diam- diam Yie Er terkekeh, Selir Pertama rupanya sangat ingin kembali menghabiskan waktu dengannya. Jika itu keinginan Selir Pertama? Sebagai Permaisuri Yie Er akan mengabulkannya sebisa mungkin.

__ADS_1


"Selir Pertama, mari kita habiskan waktu lagi dilain waktu!" Ajak Yie Er. 


"Ya Selir Pertama, Ibu Suri Agung ini rasa kalian begitu mengikat tali persaudaraan. Biarkan seperti Ibu Suri Agung ini dan Ibu Suri, kami juga sering menghabiskan waktu bersama!" Ibu Suri Agung menyela Selir Pertama, membuat Selir Pertama mengatupkan bibirnya kembali.


"Benar Selir Pertama. Perkataan Ibu Suri Agung memang benar adanya. Belajarlah menjadi pandai dari Permaisuri. Dan omong-omong, kemana kue buatanmu itu?!" Tanya Ibu Suri berkeliling mata. Ia sengaja menyinggung itu. Lihatlah Selir Pertama, sangat mencari muka! Membuat Ibu Suri sampai kapanpun tidak ingin mengakuinya sebagai menantu.


"Kue itu. Maaf, Selir ini berpulang terlebih dahulu karena tidak enak badan!" Selir Pertama menunduk, tersenyum penuh rasa sesal.


"Tidak apa Selir Pertama. Lagi pula kue buatan Selir Pertama terlalu manis untuk dimakan. Permaisuri ini takut akan berimbas pada Ibu Suri Agung dan Ibu Suri jika memakannya." Yie Er memegang tangan Selir Pertama tanpa canggung. 


"Permaisuri ini akan buatkan yang baru!" Lanjut Yie Er tersenyum sampai kantung matanya. Membuat Selir Pertama diam-diam merasa dongkol melihatnya.


"Menantuku begitu baik. Dan karena Selir Pertama tidak enak badan, mengapa Selir Pertama hanya menganggurkan ramuan dari Ibu Suri Agung!" Sahut Ibu Suri menatap Ibu Suri Agung lamat- lamat.


Selir Pertama diam. Heh, apa mereka ingin menyerangnya dengan tak adil. Menyiksa dirinya sesuka hati, siapa pula manusia yang ingin meminum ramuan pahit tanpa minum dari si wanita tua itu? 


Dasar! Salahkanlah si Permaisuri tak tahu malu itu membawa kedua wanita tua di depannya. 


"Ayo minum Selir Pertama! Mengapa hanya berdiam saja?" Tanya Yie Er diam-diam tersenyum miring menatap Selir Pertama yang juga tengah menatapnya.


"Ya Permaisuri. Selir ini akan meminumnya, Permaisuri juga harus menjaga kesehatan. Luka di jari Permaisuri sepertinya dalam! Akan lebih baik meminum ramuan seperti Selir ini." Ucap Selir Pertama, menatap Yie Er penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Yie Er terdiam. Rupanya Selir Pertama ingin menaburkan garam pada luka.


"Mengapa bisa terluka? Malangnya jari menantuku!" Ibu Suri berseru khawatir. Membawa jari terluka Yie Er pada pangkuannya.


"Ini luka kecil Ibu Suri. Permaisuri ini mendapatkannya saat tengah mengajari Selir Pertama membuat kue!" Ucap Yie Er menatap jarinya lamat-lamat. Membuat Ibu Suri terhanyut termakan kesal mendengarnya. 


"Selir Pertama. Sudah tidak apa, sepertinya Selir Pertama tidak akan pandai dalam memasak. Ibu Suri ini takut jika akan kembali melukai Selir Pertama dan orang lain!" Ucap Ibu Suri, terang- terangan menatap cemooh Selir Pertama. seperti hinaan dalam pendengaran Selir Pertama.


"Ya Ibu Suri, terima kasih atas perhatiannya. Sepertinya Permaisuri yang tidak hati-hati, dan Selir ini yang tak pandai, seperti kata Ibu Suri!" Selir Pertama tersenyum manis, sedikit penuh tekanan dalam setiap perkataannya.


Ibu Suri Agung menghela nafas, melihat ketiga wanita dengan kedudukan berbeda di depannya.


"Diamlah! Jangan membuat keramaian dalam sebuah acara seperti ini. Dan Selir Pertama, lekaslah minum ramuan itu, agar kau bisa lekas pulih kembali!" Seru Ibu Suri Agung tegas.


"Baik Ibu Suri Agung. Terima kasih atas perhatiannya!" Selir Pertama tersenyum, meminum ramuan itu penuh paksa. Melirik benci Yie Er di depannya.


"Maafkan Permaisuri ini karena membuat ribut, Ibu Suri Agung!" Seru Yie Er penuh penyesalan.


"Bukan salahmu menantu dari menantu. Nanti malam Ibu Suri Agung akan mengirim krim obat untuk dirimu. Gunakan dengan baik!" Ucap Ibu Suri Agung, tersenyum lembut menatap Yir Er dan Ibu Suri.


Yie Er mengangguk, tersenyum manis. Dalam hati Selir Pertama menggerutu, menahan rasa pahit di lidahnya. Dasar Permaisuri tidak tahu malu, sangat bertopeng. Lihat saja, dirinya akan kembali membuat Ibu Suri Agung terus bersamanya, memisahkan kembali kedua wanita tua itu. Membuat semua orang berada dalam pihaknya.

__ADS_1


Selir Pertama terus menatap Yie Er, begitupun dengan Yie Er. Dia terus menatap Selir Pertama. Apakah enak membuat luka ditaburi oleh garam? 


__ADS_2