Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
Kue Cantik Selir Pertama


__ADS_3

"Yie Er, apa kau sudah membawa bingkisannya?" Ibu Suri menatap kedua tangan Yie Er.


"Ada pada Yu Are, Ibu Suri." Yie Er tersenyum menatap pelayan Ibu Suri Agung paling belakang. Pelayan yang mengantar dirinya sampai ke kediamannya.


"Syukurlah. Ibu Suri kira bingkisan itu hilang saat tidak ada pada Ibu Suri." Ibu Suri menghela nafas ringan, menutupi kecemasan yang timbul di hatinya.


Yu Are dan Ibu Suri berjalan beriringan menuju kediaman Ibu Suri Agung. Mereka berdua saling diam dalam pemikiran tersendiri. Sampai akhirnya tanpa diminta, tatapan Ibu Suri bersih tubruk dengan Selir Pertama dari arah berlawanan. Membuat Ibu Suri mengecilkan kantung matanya tak suka.


"Ibu Suri, rasanya baru kemarin kita bertemu. Ah, Permaisuri juga ada disini. Maaf jika Selir ini bertanya,  Ibu Suri dan Permaisuri hendak akan pergi kemana?" Selir Pertama menghentikan langkahnya di depan Ibu Suri dan Yie Er. Ibu Suri memandang tak suka Selir Pertama, bahkan sampai mengabaikan pertanyaan Selir Pertama, membuat Yie Er menjawab pertanyaan Selir Pertama.


"Ibu Suri dan Permaisuri ini akan berkunjung ke kediaman Ibu Suri Agung, Selir Pertama!" Yie Er tersenyum menatap intens Selir Pertama. Sedikit melirik bingkisan di tangan pelayan setia Selir Pertama.


"Benarkah Permaisuri? Terasa kebetulan saja, Selir ini juga akan berkunjung kepada Ibu Suri Agung. Jika Ibu Suri dan Permaisuri berkenan, bisakah kita pergi bersama?"


"Tentu saja Selir Pertama!" Yie Er dengan cepat menjawabnya, sebelum Ibu Suri menolak tawaran Selir Pertama.


"Terima kasih Permaisuri, Ibu Suri!" Selir Pertama tersenyum penuh kasih berjalan bersisian bersama Yie Er dan Ibu Suri. Membuat Ibu Suri dengan terang-terangan melirik Selir Pertama tak suka. 


Sampai mereka bertiga tiba di kediaman Ibu Suri Agung, prajurit penjaga mengumumkan kedatangan mereka. Sempat membuat Ibu Suri Agung di dalam sana kaget menerima kedatangan tiga pengunjungnya.


"Salam Ibu Suri Agung!"


"Mengapa kalian semua datang mengunjungi Ibu Suri Agung ini?" Ibu Suri Agung menatap heran.


"Ibu Suri Agung, Permaisuri ini ingin sedikit meluangkan waktunya dengan Ibu Suri." Yie Er berucap, memotong ucapan Selir Pertama yang bahkan belum sempat keluar.


"Terima kasih, kebetulan Ibu Suri Agung ini juga merasa sedikit sepi. Jika begitu mari kita berbincang sambil meminum racikan teh Selir Pertama."


Terpampang sudah empat cangkir teh di depan mereka. Teh racikan Selir Pertama, yang baru saja diracik oleh Selir Pertama di depan mereka.


"Ibu Suri Agung, Selir ini membawa kudapan kesukaan anda. Semoga Ibu Suri Agung suka!"


Selir Pertama memberikan bingkisan itu kepada Ibu Suri Agung. Yie Er hanya diam, menatap datar tak berminat bingkisan dari Selir Pertama. 


"Terima kasih Selir Pertama, harus ku balas dengan apa perhatianmu?!"  Tanya Ibu Suri Agung.


"Tidak dengan apa-apa Ibu Suri Agung. Selir ini hanya cukup dengan rasa sayang Ibu Suri Agung kepada Selir ini!" Ucap Selir Pertama tersenyum lemah. 


"Sudah seharusnya Ibu Suri Agung ini menyayangimu Selir Pertama." Balas Ibu Suri Agung. Membuat Selir Pertama tersenyum haru, melirik Ibu suri di sampingnya.

__ADS_1


Ibu Suri melihat Selir Pertama hanya diam memalingkan wajah, terlihat sangat muak dengan wajah Selir Pertama. Siapapun tahu Selir tak tahu malu itu sedang membicarakannya tanpa mau membuka kedok.


Mereka berbincang tanpa memperhatikan Yie Er yang sedari tadi terus memegang cangkir teh di depannya. Menghirup dan meresapi. 


"Racikan teh mu enak Selir Pertama. Akan lebih baiknya jika dikunyah dengan bingkisan buatanmu." Yie Er berucap, mengalihkan perhatian ketiga orang berbeda generasi itu.


"Terima kasih Permaisuri. Mungkin ucapan anda ada benarnya?!" Selir Pertama tersenyum lebar menatap Yie Er.  


"Jika begitu mari kita memakannya." Ucap Ibu Suri Agung, membuka bingkisan Selir Pertama.


"Sangat cantik  Selir Pertama. Siapa yang membuat kue secantik ini?!" Tanya Ibu Suri Agung menatap kue cantik di depannya.


"Selir ini membuatnya sendiri Ibu Suri Agung, dibantu beberapa pelayan setia Selir ini!" Selir Pertama berucap tersenyum lebar. Semakin merasa di atas khayangan. 


"Sangat sayang bila dimakan. Namun lebih sayang bila tak dimakan. Makanlah terlebih dahulu Selir Pertama!" Ibu Suri Agung meletakan kue cantik itu di depan Selir Pertama.


"Dengan senang hati Ibu Suri Agung!" 


Dengan riangnya Selir pertama mengambil kue di depannya. Terima kasih kepada Permaisuri untuk hari ini, Selir Pertama sangat penuh kemenangan sekarang.


"Uhuk!"


"Ehem...  uhuk! Selir ini tak apa Permaisuri, hanya sedikit terburu-buru memakan kue cantik ini." Pelan dan tak terlihat, Selir Pertama menatap tajam Yie Er di depannya.


"Syukurlah, Permaisuri ini kira mengapa. Mungkin Selir Pertama lupa meminum bersama racikan teh nya?" Ucap Yie Er masih menatap Selir Pertama khawatir.


"Iya Permaisuri. Mungkin Selir ini lupa." .


"Hati-hati Selir Pertama!" Sahut Ibu Suri Agung.


"Selir ini akan hati-hati Ibu Suri Agung!" Selir Pertama tersenyum tipis, menegak teh racikannya. Membiarkan Yie Er, Ibu Suri Agung, dan Ibu Suri mengambil kue cantik bagian mereka.


"Pelan-pelan Ibu Suri Agung, Ibu Suri. Nanti akan tersedak seperti Selir Pertama!" Pesan Yie Er tersenyum lemah menatap kedua paruh baya di depannya. 


Ibu Suri Agung dan Ibu Suri mengangguk, memakan sedikit kue cantik itu bersama Yie Er. Sampai...


"Uhuk!"


"Uhuk!" 

__ADS_1


"Uhuk!"


Yie Er dan kedua wanita paruh baya itu terbatuk-batuk bersamaan. Meminum cepat racikan teh di depan mereka.


"Apa ini Selir Pertama? Mengapa sangat pedas seperti ini?!" Ibu Suri Agung meletakan kasar kue cantik di tangannya.


"Maaf Ibu Suri Agung. Mungkin pelayan Selir ini salah memasukan pewarna alaminya." Selir Pertama menunduk dalam. Matanya tertutup dengan senyuman kemenangan Yie Er sekarang.


"Meminta maaflah kepada Ibu Suri dan Permaisuri, Selir Pertama. Karena berkunjung ke kediaman Ibu Suri Agung ini, mereka harus merasakan pahit yang sama!" Pinta Ibu Suri Agung tak terbantah.


"Maafkan Selir ini Ibu Suri, Permaisuri. Selir ini juga meminta maaf atas kepahitan yang diderita!"  Ucap Selir Pertama, menatap kesal remasan tangan di balik pakaiannya.


"Ah, kami memaafkanmu Selir Pertama. Kau menang belum pandai, Permaisuri ini memaklumi mu." Yie Er tersenyum ikhlas menatap Selir Pertama. 


"Dan Ibu Suri Agung, ada satu bingkisan lagi untukmu. Ibu Suri membuatkan sendiri makanan ini untukmu!" Yie Er secepat angin mengendalikan semuanya. Membuat Selir Pertama semakin meremas penuh amarah tanpa ada yang tahu.


"Ini makanan kesukaan Ibu Suri Agung!" Yie Er menatap Ibu Suri yang juga tengah menatapnya.


"Benarkah? Ibu Suri, membuatkan ini untukku?!" Kaget Ibu Suri Agung, menatap bingkisan di tangannya. Membuat Ibu Suri juga menatap Ibu Suri Agung yang tengah menatap berbinar bingkisan ditangannya. Sepertinya Ibu Suri Agung menyukainya. Terima kasih Yie Er, menantu kesayangan Ibu Suri. 


"Benar. Ibu Suri ini yang membuatnya untuk Ibu Suri Agung. Dan maaf Ibu, menantumu ini ingin meminta maaf, itu ucapan maaf dari menantumu!" Ucap Ibu Suri menatap Ibu Suri Agung.


"Maaf untuk apa menantu? Kemarin goangfu mu ini tengah merasa lelah. Seharusnya bukan menantu yang meminta maaf!" Ibu Suri Agung memegang tangan Ibu Suri.


Yie Er tersenyum menatap kedua paruh baya di depannya. Melirik Selir Pertama di depannya, seharusnya seorang Selir berwatak sepertinya harus diam dengan tenang di istana yang kejam pejuh interik seperti ini. 


"Terima kasih Ibu. Akhir-akhir ini Ibu sering bersama Selir Pertama. Membuatku merasa dibakar api!" Kekeh Ibu Suri melirik Selir Pertama. 


"Menantu, jangan seperti itu. Nanti kita akan menghabiskan waktu bersama. Biarlah Selir Pertama belajar menjadi pandai bersama Permaisuri!" Ibu Suri Agung melihat Yie Er dan Selir Pertama.


"Ya Ibu Suri Agung. Mulai nanti kami akan semakin akrab. Permaisuri akan melatih sedikit kepandaian Selir Pertama dalam membuat makanan dengan ramuan pemulih akal. Bukan begitu keinginan Selir Pertama?" Yie Er melirik remasan jari jemari Selir Pertama pada cangkir teh di depannya. 


"Benar Permaisuri. Siapa yang tak ingin dekat dengan anda? Dan untuk ramuan pemulih akal, Selir ini rasa tidak perlu. Selir ini akan menjadi pandai tanpa meminum ramuan itu!" Balas Selir Pertama, tersenyum tak ikhlas.


"Jika itu keinginan Selir Pertama, Permaisuri ini akan sedikit berbaik. Namun sebagai gantinya bolehkah  Permaisuri ini berkunjung ke kediaman Selir Pertama." 


"Rasanya seperti apa kediaman Selir Pertama yang dikenal indah?!" Yie Er berucap tanpa henti. Tersenyum tanpa adanya beban. 


"Mmm, tentu saja Permaisuri. Pintu kediaman Selir ini selalu terbuka untuk Permaisuri." Selir Pertama tersenyum membalas senyuman Yie Er. 

__ADS_1


__ADS_2