
"Permaisuri, kita akan pergi kemana?"
"Kita akan berkunjung ke kediaman Selir Pertama, Yu Are!"
"Selir Pertama?!" Yu Are dan Rei Rei serempak menatap Yie Er.
Yie Er tersenyum menanggapi ketidak percayaan Junjungan mereka. Apa Permaisuri nya sedang bercanda? Meninggalkan Yang Mulia dengan kertas di depannya dan lebih memilih Selir Pertama.
"Permaisuri, apa yang terjadi dengan anda? Apa Permaisuri ingin melakukan sesuatu?" Rei Rei bertanya penasaran, bahkan melihat wajah Yie Er dari samping.
"Permaisuri ini ingin membuat Selir Pertama menjadi Pandai. Dan sedikit menghilangkan rasa bosan," Yie Er berhenti sejenak. Memandang kediaman yang ukurannya lebih besar dari kediamannya.
Pantas saja Ibu Suri dan Ibu Suri Agung selalu tak menyukai Selir Pertama. Selera Selir Pertama terlalu tinggi hanya untuk ukuran seorang Selir, yang kebetulan menjadi yang pertama. Kasihan sekali, beruntung nya Permaisuri baik hati Seperti Yie Er ingin membantu Selir Pertama menjadi pandai.
Mungkin hari- hari Yie Er akhir-akhir ini akan sangat berwarna, mengingat Ibu Suri dan Ibu Suri Agung juga tengah menghabiskan waktu tuanya sebagai menantu dan guangfu.
"Permaisuri, apa tidak apa? Sejak kapan Permaisuri tertarik dengan kediaman Selir Pertama?" Yu Are bertanya khawatir.
Ah Yu Are? Yie Er yakin jika Yu Are saat ini tengah berprasangka. Yie Er tidak se-tamak itu, mungkin Selir Pertama yang terlalu kelebihan muatan koin emas di setiap sisi kediamannya.
"Yu Are diam. Ikuti apa kata Permaisuri ini seperti kemarin! Ini termasuk dalam jaminan keberhasilan dalam sebuah tujuan." Yie Er bergumam pelan, masih bisa didengar jelas oleh kedua wanita di belakangnya.
Sekejap, tidak ada yang berbicara. Hanya prajurit penjaga pintu saja yang berbicara, memberitahu kedatangan Yie Er di kediaman Selir Pertama.
"Permaisuri? Selir ini kira perkataan Permaisuri beberapa waktu lalu hanya kunyahan semata." Ucap Selir Pertama, berdiri menyambut Yie Er dengan senyuman lembut andalannya.
"Selir Pertama bercanda? Tidak ada perkataan sebagai kunyahan semata dari seorang Permaisuri." Kekeh Yie Er, menutup pulutnya anggun.
"Maaf Permaisuri. Jika begitu mari masuk, Selir ini akan menyiapkan tempat khusus untuk Permaisuri!" Selir Pertama menoleh, memandang beberapa pelayan di belakangnya.
__ADS_1
Sampai beberapa menit, satu tempat duduk tersedia dengan nyamannya di kediaman itu.
"Terima kasih Selir Pertama. Seharusnya Selir Pertama tidak perlu repot-repot! Dan kebetulan Permaisuri ini juga ingin menjalin saudara dengan Selir Pertama. Semoga Selir Pertama menerimanya!" Ucap Yie Er. Segera Rei Rei menyerahkan bingkisan di tangannya ke hadapan Yie Er.
"Apa ini Permaisuri?" Selir Pertama sedikit memicing, menutupinya dengan senyum.
"Hanya bingkisan kecil Selir Pertama!" Balas Yie Er juga tersenyum.
"Apa benar. Terima kasih Permaisuri, jika ada waktu, Selir ini akan membalas Permaisuri dengan lebih baik lagi. Selir ini berjanji!" Selir Pertama berucap haru. Membuat Yu Are juga Rei Rei merasa ingin muntah melihat Selir Pertama.
"Akan Permaisuri ini tunggu Selir Pertama!" Balas Yie Er.
Selir Pertama tersenyum lebar. Meletakan bingkisan itu disampingnya. Menyuruh salah satu pelayan menyimpannya.
"Maaf jika Selir ini lancang Permaisuri. Selir ini ingin meminta kemurahan hati Permaisuri!" Selir Pertama menggerakan bibir bagai menimang.
"Selir ini ingin belajar membuat kue. Apakah di lain waktu Permaisuri menjadi waktu luang?" Selir Pertama tersenyum sampai pada lengkungan kantung matanya.
"Waktu Permaisuri ini sangat banyak untuk membuat Selir Pertama menjadi pandai. Dan soal kue, Permaisuri ini rasa Selir Pertama cukup pandai, dengan tidak melibatkan banyak akal dalam membuatnya!" Kekeh Yie Er.
"Ahaha…! Permaisuri benar. Selir ini sudah cukup pandai. Namun apakah Permaisuri tidak ingin membuat Selir ini sama pandainya dengan Permaisuri?" Selir Pertama melirik menatap bingkisan disampingnya.
"Kurasa Selir Pertama salah menganggap. Permaisuri ini tidak pernah menolak permintaan Selir Pertama." Yie Er tersenyum manis menutupi raut mengerasnya. Rupanya Selir Pertama memang perlu menjadi pandai.
"Maaf Permaisuri, Selir ini memang salah menanggap." Sesal Selir Pertama menatap Yie Er penuh rasa sesal.
"Tidak papa Selir Pertama. Permaisuri ini memaklumi!" Balas Yie Er tersenyum begitu tulusnya.
"Dan Selir Pertama. Mari, kita habiskan waktu dengan begitu banyak nya esok hari di dapur istana!" Yie Er menatap Selir Pertama tepat di kedua maniknya.
__ADS_1
"Besok?"
"Ya. Memannya mengapa dengan hari esok Selir Pertama. Apakah Selir Pertama sudah terlebih dahulu membuat janji?" Yie Er berkata penuh sesal. Membuat Yu Are juga Rei Rei menatap Yie Er penasara.
"Tidak begitu Permaisuri. Selir ini tidak pernah membuat janji. Selir ini terlalu senang menunggu hari esok tiba!" Selir Pertama terkekeh kaku. Meremas pakaian merah menyala miliknya.
"Selir Pertama sangat bersemangat rupanya. Jika seperti itu, Permaisuri ini akan segera pamit. Yang Mulia mungkin sudah menunggu di kediaman Permaisuri ini."
"Yang Mulia? Sudah lama sekali tidak berkunjung ke kediaman Selir ini. Permaisuri sungguh bisa memanjakan Yang Mulia!" Selir Pertama tersenyum manis, semakin menguatkan remasannya.
"Tentu saja Selir Pertama. Permaisuri ini menyajikan menu baru, mungkin Yang Mulia merasa bosan dengan menu lama." Balas Yie Er.
"Permaisuri benar, namun juga salah. Mungkin Yang Mulia hanya tertarik dengan menu baru untuk sementara waktu. Dan kembali dengan menu lama kesukaannya."
"Selir Pertama rupanya cukup pandai. Namun apa boleh buat, kaisar setelahnya adalah dari Permaisuri ini." Tanpa senyuman Yie Er menatap lamat-lamat manik Selir Pertama di depannya.
Kedua wanita itu saling menatap, remasan pada pakaian Selir Pertama semakin kuat. Satu tarikan, dan hembuskan, lagi, dan lagi. Dalam diam Selir Pertama sedikit demi sedikit tersenyum, tanpa melonggarkan remasannya.
"Ahaha…! Permaisuri memang bisa saja. Selir ini tidak begitu menyangka jika selera humor Permaisuri begitu tinggi." Selir Pertama tertawa pelan di tengah keheningan, tersenyum tanpa singgungan kepada Yie Er.
"Selir Pertama juga mempunyai humor yang tinggi. Bisa mengetahui bahwa ucapan Permaisuri ini tadi hanya candaan. Namun juga bisa ditelan jika Selir Pertama ingin!" Yie Er ikut tertawa ringan tanpa adanya sesuatu yang sudah terjadi. Kembali seperti teman dengan Selir Pertama.
"Baik Permaisuri. Akan tetapi sayangnya Selir ini sudah terlebih dahulu merasa kenyang." Kekeh kaku Selir Pertama.
"Maaf Selir Pertama. Permaisuri ini tidak bisa lagi membuang waktu. Yang Mulia mungkin sudah sangat menunggu. Sampai jumpa esok Selir Pertama, semoga esok harimu tidak seburuk hari ini."
"Terima kasih atas semuanya Permaisuri. Cepatlah, mungkin Yang Mulia sudah menunggu anda!" Usir halus Selir Pertama.
Yie Er diam, tersenyum menatap Selir Pertama. Berlalu pergi tanpa berkata-kata lagi.
__ADS_1