
Kunjungan Ibu Suri Agung dan Selir Pertama tidak berjalan mulus seperti yang diduga. Nyatanya kunjungan itu berakhir dengan perginya Ibu Suri Agung dengan kemarahan. Diikuti Selir Pertama yang sama sekali tak menampakan ekspresi apapun.
Untuk saat ini Yie Er hanya bisa diam. Dia tidak bisa menjamin apa yang direncanakan Selir Pertama. Desah desuh mengenai perginya Ibu Suri Agung dari kediaman Ibu Suri ramai diperbincangkan di dalam istana. Dan beruntung saja, berita itu sama sekali belum merambat keluar istana. Yie Er sebenarnya tidak terlalu peduli dengan itu, hanya saja, melihat Ibu Suri, Yie Er juga tak kuasa menahan rasa kasihannya.
"Ibu Suri, mari kita berkunjung ke kediaman Ibu Suri Agung. Alangkah baiknya saat sedang seperti ini!" Yie Er menyentuh pelan tangan Ibu Suri. Menghentikan gerakan rajutan tangannya, yang sama sekali belum berhenti saat mentari sudah menampakan diri dan sekarang berada tepat di atas kepala.
"Berkunjung?"
"Iya Ibu Suri. Mungkin Ibu Suri Agung juga akan merasa lebih baik, sama seperti Ibu Suri." Ucap Yie Er.
"Ini semua karena Selir Pertama. Mengapa juga Yuan menikah dengan Perempuan seperti itu Yie Er. Ibu Suri Agung akhir-akhir ini juga suka menghabiskan waktunya dengan Selir Pertama." Ibu Suri mengerut dahi, sangat kentara sekali perasaan Ibu Suri pasti sekarang sedang tak menentu.
"Mungkin Ibu Suri Agung sedang ingin dekat dengan Selir Pertama. Dan Jika sesuatu terjadi kepada Ibu Suri Agung, Permaisuri ini akan melakukan sesuatu Ibu Suri!" Angguk Yie Er yakin.
"Semoga saja." Gumam Ibu Suri dalam pikirannya.
"Jika begitu mari kita membawa makanan kesukaan Ibu Suri Agung. Apa Ibu Suri ingin membuatnya dengan permaisuri ini?" Yie Er sedikit mengeraskan suaranya dengan semangat. Kasihan sekali wanita paruh baya di depannya ini. Andai saja tidak ada peraturan di zaman ini. Mungkin ia sudah membunuh Selir Pertama. Hanya saja, Yie Er perlu memastikan sesuatu, apakah Selir Pertama sudah benar-benar menjadi baik sekarang?
"Mari akan Ibu Suri bantu. Omong-omong berbicara mengenai Ibu Suri Agung dan Selir Pertama. Ibu Suri melupakan Yuan, juga Panglima Besar Zilong yang selalu tak ingin kalah. Dimana mereka berdua saat ini?" Tanya Ibu Suri terheran.
__ADS_1
"Yang Mulia saat ini sedang dilanda pekerjaan Ibu Suri. Banyak masalah yang terjadi di perbatasan. Gege juga pergi ke perbatasan entah berapa lama. Mungkin akan sedikit lama." Yie Er menghela nafas tenang, sedikit senang dan merasa kehilangan saat Suami dan Gegenya tidak lagi memperebutkan dirinya.
Pasti saat ini Yuan tengah menggerutu di depan kertas-kertas yang harus segera diselesaikannya. Juga Panglima Besar Zilong yang tengah menahan gundah di hatinya yang memberontak ingin segera berpulang.
"Ibu Suri baru tahu. Mungkin karena terlalu asik merajut sampai masalah seperti ini tidak Ibu Suri ketahui."
"Tidak Ibu Suri. Permaisuri ini juga baru tahu, Gege tidak sempat pamit, sampai akhirnya seorang prajurit yang menyampaikannya." Ucap Yie Er, merasa sedikit tidak enak hati saat Ibu Suri berbicara seperti itu.
"Yie Er, Ibu Suri lupa. Mau sampai kapan kita berbincang mengenai kedua pria itu?" kekeh Ibu Suri, bersama Yie Er yang juga ikut terkekeh menemani Ibu Suri.
"Ibu Suri benar. Jika terus seperti ini maka makanannya juga tidak akan selesai sampai kapanpun." Ucap Yie Er di sisa kekehan terakhirnya.
Yie Er dan Ibu Suri sejenak terdiam, sampai mereka memulai gerakan tangannya membuat makanan kesukaan Ibu Suri Agung. Tanpa bantuan pelayan setia mereka dan pelayan di dapur Istana. Lama waktu berjalan, detik per detik hingga menjadi menit dan sampai kepada jam. Kedua wanita berbeda generasi itu baru selesai membuat makanan kesukaan Ibu Suri Agung, dengan peluh keringat di masing-masing kening. Sampai makanan itu telah menjadi bingkisan yang cantik.
"Seharusnya Ibu Suri yang bertanya. Apa kau lelah?" Ibu Suri tersenyum geli menatap Yie Er.
"Mungkin kita sama-sama lelah Ibu Suri. Semoga Ibu Suri Agung menyukai makanannya ini." Ucap Yie Er menatap bingkisan di tangannya. Lalu tersenyum menatap Ibu Suri di depannya.
Ibu Suri menatap Yie Er penuh kasih sayang. Beruntung sekali mempunyai menantu seperti Yie Er. Dan semoga saja perasaan Ibu Suri Agung lekas membaik. Ibu Suri rasanya semakin muak melihat Selir Pertama dan Ibu Suri Agung akhir-akhir ini.
__ADS_1
"Jika begitu lekaslah membersihkan diri, pelayan Ibu Suri akan mengantarmu. Dan membantu keperluanmu sebelum pelayan setiamu kembali dari kota!" Ucap Ibu Suri menyuruh kedua pelayan setianya mengikuti Yie Er.
"Terima kasih Ibu Suri. Permaisuri ini sebenarnya juga tidak terlalu memerlukan bantuan, mereka juga akan segera kembali dari kota."
"Tidak papa Yie Er. mungkin mereka masih sedikit lama. Nanti Ibu Suri juga akan memberi tahu Yuan agar menambah pelayan untukmu!" ucap Ibu Suri.
"Terima kasih Ibu Suri!"
"Ibu Suri yang seharusnya berterima kasih Yie Er. Jika begitu Ibu Suri pergi agar sedikit tidak terlambat untuk datang berkunjung ke kediaman Ibu Suri Agung!"
Ibu Suri pergi, menyisakan Yie Er dengan dua pelayannya. Dalam hening Yie Er melangkahkan kakinya pergi menuju kediamannya diikuti kedua pelayan Ibu Suri. Mengabaikan seseorang yang sedari tadi menguping pembicaraannya dan Ibu Suri.
"Kalian boleh pergi!" Yie Er berhenti tepat di pintu masuk kediamannya.
"Tapi Permaisuri."
"Tidak papa. Ku rasa pelayanku sudah sampai. Jangan lupa, berikan bingkisan makanan ini kepada Ibu Suri!" Perintah Yie Er menyerahkan bingkisan makanan kesukaan Ibu Suri Agung.
"Baik Permaisuri. Jika itu keinginan Permaisuri hamba berdua undur diri!" Kedua pelayan Ibu Suri membungkuk pergi membawa bingkisan makanan dari Yie Er. Meninggalkan Yie Er dalam diam, masuk ke kedalam kediamannya.
__ADS_1
"Yu Are, Rei Rei, apa semuanya sudah selesai?" Yie Er bertanya khawatir menatap keduanya.
"Semuanya selesai Permaisuri, dugaan Permaisuri memang benar adanya."