Perjalanan Sang Permaisuri

Perjalanan Sang Permaisuri
22 Pelukan


__ADS_3

"Ahh tidak,aku hanya merasa terharu saja,bisa bertemu dengan ayah kandung ku," ucap Yie Er menghapus sedikit air mata di ujung matanya,tersenyum menatap semuanya.Pada detik itu Pangliama Agung Zerang secara langsung berdiri kemudian memeluk tubuh Yie Er.


Mendengar itu mereka semua bahagia,meskipun dalam ucapan Yie Er terkesan seperti ini pertama kalinya Yie Er bertemu dengan ayah kandung nya.Tapi ya sudahlah,mungkin menurut Yie Er ini pertama kalinya kerena Yie Er hilang ingatan.


Panglima Agung Zerang yang awalnya khawatir melihat reaksi Yie Er,tergantikan oleh raut wajah tersenyum haru,meskipun ia adalah seorang Panglima paling di takuti semua musuh-musuh nya.Kini ia tengah menangis memeluk putri kecilnya.


Sungguh saat ini Panglima Agung Zerang merasa sangat amat merasa senang bisa memeluk putri nya lagi,sekarang pastilah Yie Er mengingat nya sebagai seorang Ayah.


Yie Er awalnya merasa kaku ketika Panglima Agung Zerang memeluknya perlahan-lahan mulai me rileks kan tubuhnya menerima dekapan hangat sang ayah kandung di dunia nya yang sekarang.Ia merasa hangat nya memeluk ayah nya,di dalam dekapan nya Yie Er merasakan sebuah kasih sayang yang sangat besar kepada dirinya.


Ia berjanji kehidupannya di dunia ini,ia akan berjanji kepada Yie Er,bahwa ia akan membuat semua harapan dan keinginan Yie Er diwujudkan oleh nya.Termasuk ia akan dengan sukarela menjadi putri kecil keluar Kemiliteran mengganti Yie Er.

__ADS_1


Ia sekarang merasa bersyukur bisa terlempar ke abad 21 menggantikan Yie Er.Disini ia merasa sebuah kasih sayang besar dari semua orang yang peduli dengan nya.


"Yie Er ini Bubu mu,maaf saat di Valium Timur Bubu bersikap seperti tak mengenalmu!" ucap Panglima Agung Zerang memegang kedua bahu Yie Er melepaskan pelukan hangat nya.


"Ahh tidak Ayah,seharusnya Yie Er yang mengucapkan kata maaf kepada Ayah.Yie sudah bersikap tak mengenal Ayah,Yie Er juga sempat memanggil Ayah dengan sebutan Paman." Yie Er merasa menyesal menyekat air mata nya.Ini adalah pertama kalinya Yie Er menangis,di dunia nya dulu terkena tembakan dari musuh nya pun ia tak pernah menangis.Saat kedua orang tua angkat nya meninggal,ia pun tidak sama sekali menitikan air mata.


"Pertama-tama mana panggilan mu untuk Ayah,kau harus memanggil Ayah,Bubu.Itu adalah panggilan kepada seorang Ayah,turun temurun dari keluarga Kemiliteran," ucap Panglima Agung Zerang tersenyum memberi pengertian.


"Dan putri kecil ku tak perlu meminta maaf kepada Bubu nya ini,karena Bubu yang seharusnya meminta maaf kepada putri kecil Bubu.Bubu baru bisa menemui mu,dulu Bubu tak ada di saat kau sadar.Jadi apakah putri kecilku mau memaafkan ku?" tanya Panglima Agung Zerang tersenyum lembut kepada Yie Er.


Dulu saat dirinya tahu bahwa Yie Er terjatuh ke dalam Danau,dan hampir kehilangan nyawanya.Ia merasa terpukul,saat itu ia memilih melampiaskan semuanya dengan ikut dalam semua perang yang terjadi.Dan pada saat tahu bahwa Yie Er sadar dari tidur panjangnya,ia merasa menyesal karena pada detik itu ia tak bersama putri nya.Dia baru kembali dua hari yang lalu,itu pun ia merasa tak berani menemui Yie Er di kediaman nya.Pada saat itu Panglima Agung Zerang merasa takut bila Yie Er kecewa kepadanya yang baru menemui dirinya.

__ADS_1


Namun perkiraan nya salah ternyata putri kecilnya,menerima dia dengan tangan terbuka tanpa ada kekecewaan di matanya.Memang pada awalnya hatinya merasa sakit sebagai seorang Ayah yang di panggil paman oleh anaknya.


"Ya putri kecilmu ini memaafkan mu." Ucap Yie Er tersenyum,menyekat air mata nya.Sungguh ia merasa sangat bahagia.Begitu pun dengan Panglima Agung Zerang,ia berjanji akan melindungi putri nya secara langsung dari kekejaman Istana,agar kejadian lalu tak terulang kembali.Pada saat itu ia tahu bahwa yang menyebabkan putrinya terjatuh ke dalam Danau adalah Selir Pertama.Tapi sebagai seorang Panglima Agung dirinya merasa tak berdaya karena tak ada satupun bukti yang mengarah kepada Selir Pertama.


Ke-empat wanita lainnya merasa amat sangat bahagia,melihat Yie Er bertemu dengan Panglima Agung Zerang.Terlihat sekali bila Yie Er sangat menyayangi Ayah nya meski sekarang ia kehilangan ingatannya.


Sesekali mereka menyekat air mata di ujung mata mereka,bagaimana bila orang lain tahu mereka tengah menangis.Ibu Suri terlihat sesekali melirik-lirik Yie Er dan Panglima Agung Zerang.Entah mengapa ia melakukan itu?,tak ada yang tahu apa yang ada dalam otak Ibu Suri.


"Hei,kenapa kalian masih berpelukan,ini seperti pertemuan pertama kalian saja,yang baru bertemu selama bertahun-tahun.Sudahlah jangan mengumbar kasih sayang antara seorang Ayah dan Anak.Lihat lah kami,dari tadi hanya asik menyaksikan pertunjukan kalian saja." Ucap Ibu Suri kesal,terlihat wajah nya lumayan merah karena menangis,pastilah ia merasa tak sabar menunggu mereka selesai.


"Ahh,maafkan Yie Er Ibu Suri,menantu mu ini tak memperhatikan mu dengan yang lain dan hanya asik bersapa dengan Bubu nya." Goda Yie Er tersenyum geli,Yie Er merasa senang bila melihat wajah tak sabaran Ibu Suri.Entah sejak kapan dia menyukai ini,mungkin saja dulu Yie Er juga sama seperti dirinya,suka melihat Ibu Suri ketika seperti itu.

__ADS_1


"Sudahlah tak apa,ayo duduklah kembali! pastilah kalian merasa pegal." Perintah Ibu Suri Agung dengan senyuman kasih sayang seorang nenek.


__ADS_2