
"Permaisuri, apa semuanya baik-baik saja!" Yu Are bertanya khawatir. Melihat Yie Er keluar dari toko dengan terburu-buru. Membawa beberapa tanaman di tangannya.
"Semuanya baik-baik saja Yu Are. Ah,,, hanya saja Permaisuri ini merasa tak enak badan. Hari ini kita sudahi, Permaisuri ini tidak mempunyai keinginan lagi untuk mencari barang-barang lain." Yie Er berjalan pelan, mengabaikan Yu Are dan Rei Rei di sampingnya. Sesekali Yie Er juga menatap toko tanaman obat dan rempah rempah beberapa meter di belakangnya. Membuat Yu Are dan Rei Rei menatap Yie Er khawatir. Ada apa dengan Junjungan mereka?
"Anda sakit Permaisuri? Maaf seharusnya saya lebih memperhatikan kesehatan anda!" Seru Yu Are menatap Yie Er khawatir. Sama seperti Rei Rei di samping lain Yie Er. Berjalan tanpa melihat jalanan.
"Sudah, jangan menyalahkan diri. Permaisuri ini mungkin hanya merasa lelah, karena teriknya hari."
Mendengar itu Rei Rei menatap sang surya di atas kepala mereka, menatapnya sampai terasa silau di kedua pupilnya. Benar apa kata Junjungannya, jika saat ini sang surya sedang ceria. Karena itu hari sangat terik sekarang.
"Pakai penutup kain ini Permaisuri!" Rei Rei menutupi kepala Yie Er dengan kain di tangannya.
Yie Er diam, mulutnya tek berselera untuk bicara. Memilih mempercepat langkahnya. Sialan! Mengapa berjalan dari pasar kota menuju Istana sangat amat berjarak. Dirinya baru menyadari jauhnya jarak pasar kota dan istana.
Dirinya rasanya ingin cepat-cepat berada di kediamannya. Berdiam diri seorang diri tanpa ada yang mengganggu, merenungkan semuanya.
Yu Are dan Rei Rei berjalan cepat, terus mengikuti Junjungan mereka yang semakin mempercepat jalannya. Bahkan di jalanan sempit
para pelayan istana bergilir mudik dari Istana ke kota.
"Permaisuri, apa perlu saya panggilkan tabib?" Tanya Yu Are memandang khawatir Yie Er di peraduan. Pasalnya Junjungannya langsung terduduk setelah tiba di kediamannya.
"Tidak perlu Yie Er. Permaisuri ini hanya butuh tidur. Jangan terlalu khawatir, cukup buatkan racikan teh dengan jahe didalamnya!" Yie Er menatap Yu Are dan Rei Rei lesu. Membuat kedua pelayan setianya itu merasa khawatir.
__ADS_1
"Saya akan segera kembali Permaisuri!" Yu Are mengangguk, berlalu pergi dari hadapan Yie Er. Menyisakan Rei Rei seorang diri disana menemani Yie Er.
"Dan Rei Rei, tanam tanaman ini di sebuah wadah. Dan simpan di halaman belakang kediaman Permaisuri ini!" Pinta Yie Er, menyerahkan tanaman tadi kepada Rei Rei.
"Baik Permaisuri."
Rei Rei pergi membawa tanaman obat milik Yie Er. Menanamnya seperti apa kata Junjungannya.
Yie Er termenung, menatap langit-langit di kediamannya. Mengingat kembali ucapan yang sampai saat ini terus menggerogoti ketenangannya. Mengapa dia berbicara seperti itu? Rasanya kepala Yie Er ingin pecah saking bingungnya.
Ah, memikirkan itu membuat Yie Er mengantuk. Mungkin jika sudah tertidur Yie Er akan melupakan itu. Ya, dirinya pasti melupakannya.
Sampai Yie Er menutup mata diatas peraduannya. Terlelap sangat lelap, sampai kedatangan Yu Are beberapa menit membawa racikan teh dengan jahe kembali membawanya. Berjalan pelan, bahkan sangat amat pelan agar tidur sang Permaisuri tak terganggu.
"Permaisuri, saat ini sepertinya sangat lelah. Sampai tak menyadari Zhen disini!" Yuan berbisik di telinga Yie Er, sangat pelan. Membuat suara beratnya terdengar serak. Ya langkah berat itu milik Yuan, sang kaisar Dinasti Han.
Yie Er menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Apa yang diperbuat Yuan, sama sekali tidak membantu ketenangan tidur lelap Yie Er.
Yuan berjalan di lain sisi peraduan. Perlahan membaringkan tubuhnya di sebelah Yie Er, ikut berbaring dengan nyamannya menghadap Yie Er. Memandang wajah Yie Er.
"Zhen sudah jatuh cinta kepada Permaisuri ini. Zhen juga membiarkan Panglima Besar Zilong bertugas sedikit lama di perbatasan. Setidaknya agar merasakan rindu seperti Zhen, yang saat ini membiarkan tumpukan kertas itu kedinginan tanpa ada yang menyentuhnya."
Yuan terus membelai pelan hidung tinggi Yie Er. Tertawa pelan saat telinganya mendengar ceritanya sendiri. Persis seperti orang dengan kurangnya akal.
__ADS_1
"Permaisuri, Zhen rasanya begitu merindukanmu. Biarlah si Panglima itu tersiksa dengan rindunya. Biarkan Zhen memeluk, menjadi penghangat di saat mentari sedang terik- teriknya." Ucap Yuan, terkekeh di akhir kalimatnya.
Ikut menutup mata, memeluk Yie Er dengan badan besarnya. Tanpa sadar menjadikan Yie Er sebagai guling besar empuk bernyawa. Sangat nyaman, membuat Yuan semakin tak ingin melepaskannya.
Mereka tertidur sampai mentari juga menyusut semakin dalam. Semakin gelap tak terlihat, memunculkan senja di sore hari. Membuat salah satu kelopak mata itu terbangun dengan peluh di pelipisnya.
"Berat sekali!" Yie Er menggerutu, melihat tangan di bawah dagunya, bahkan kakinya juga terasa berat.
"Menyingkir, enak saja tubuh Permaisuri ini bukan guling!" Yie Er menghempaskan tangan di bawah dagunya kuat. Melepaskan diri dari jeratan menyesakan.
Lihatlah Yuan, masih terpejam dengan semua yang Yie Er lakukan. Sama sekali tak berminat membuka kelopak matanya.
"Yang Mulia, bangun. Pergilah ke kediaman Yang Mulai!" Ucap Yie Er menggoyangkan tubuh Yuan.
"Sebentar Permaisuri!" Gumaman lirih Yuan terdengar. Kembali terlelap nyaman.
'Plak….!'
"Yang Mulia. Seharusnya Yang Mulia saat ini tengah berada di ruang kerja Yang Mulia. Bukan malah memakan gaji buta seperti ini!" Dengan kuat Yie Er memukul tangan kekar Yuan. Menimbulkan bunyi cukup nyaring di kediaman itu.
Yuan meringis, melirik Yie Er dari sudut matanya. "Yie Er, berhenti! Biarkan Zhen melepas rindu!" Yuan malah akan memeluk pinggang Yie Er. Menyulut emosi Yie Er. Membuat Permaisuri itu mau tak mau melakukan KDRT.
'Bruk…!'
__ADS_1
Yuan terjatuh dengan begitu mengenaskannya.