
"Selir Pertama, Apakah anda ingin memakan buah ini untuk menghilangkan pahit!" Tawar salah satu pelayan. Setelah Yie Er, Ibu Suri Agung dan Ibu Suri kembali pergi.
"Tidak, jangan terus menanggung Selir ini bodoh!" Umpat Selir Pertama, berdesis tak suka.
"Maafkan saya Selir Pertama!"
"Kubilang diam, jika Permaisuri tak tahu malu itu kembali berkunjung, jangan biarkan Permaisuri itu masuk kedalam kediaman Selir ini!" Ucap Selir Pertama, menatap semua pelayan nya tajam. Jika saja ia sudah menjadi Permaisuri, akan dia penggal kepala pelayan yang membuatnya marah.
"Ba_ik Selir Pertama!" Jawab serempak pelayan setianya takut.
Suasana mendadak hening di kediaman itu, Selir Pertama menatap tajam pintu belakang kediamannya. Kemana perginya pelayan setianya itu sekarang, sangat lama? Tidak tahukah bahwa ia tengah menunggu.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya Selir Pertama!" Ucap pelayan itu, membungkuk.
Selir Pertama mengangguk, menatap lamat-lamat pelayan di depanya. Diam-diam, para pelayan setia di belakangnya juga ikut menatap pelayan di depan junjungannya sekarang.
"Tidak papa. Apa kau sudah mengirim semua racikan teh itu kepada wanita tua itu?" Tanya Selir Pertama menatap datar pelayan di depannya.
"Sudah saya kirim Selir Pertama."
Selir Pertama mengangguk. "Buat wanita tua itu semakin candu terhadap tehku. Beritahu pelayan wanita tua itu, untuk menambahkan lebih banyak tanaman Marijuana ke dalamnya. Dapatkan lebih banyak tanaman itu!" Desis Selir Pertama, tersenyum jahat.
"Baik Selir Pertama. Akan saya laksanakan semua perintah anda. Dan Sepertinya akan membutuh waktu lama. Anda tahu bukan?" Gumam pelayan itu menatap dalam Selir Pertama.
"Ya, Selir ini tahu. Dan cepat pergi! Tambahkan satu kantong koin perak kepada pelayan wanita tua itu!" Ucap Selir Pertama, melambai tangan.
__ADS_1
"Baik Selir Pertama!" Pelayan setianya pergi, meninggalkan Selir Pertama bersama pelayan Selir Pertama.
"Jika diantara kalian mengkhianati Selir ini. Akan Selir ini penggal kepala keluarga kalian!" Seru Selir Pertama berdesis tajam. Menatap satu persatu pelayan di depannya.
"Kami mengerti Selir Pertama!" Angguk mereka takut.
"Hahahahaha…!"
Selir Pertama tertawa, tidak membiarkan rasa pahit di lidahnya merajalela. Biar sudah dirinya menderita sekarang, saat nanti tiba. Dia akan tertawa melihat kehancuran Permaisuri tidak tahu malu itu. Hanya beberapa langkah lagi. Permaisuri itu akan hancur di tangannya.
Dan Ibu Suri Agung, maaf! Sepertinya peranmu akan berakhir sebentar lagi.
"Racikan teh buatan Selir Pertama memang seenak ini. Ibu Suri Agung ini, sangat ingin terus menyesapnya jika tidak takut terkena kembung perut!" Ucap Ibu Suri Agung, tanpa henti memuji racikan teh Selir Pertama yang baru saja sampai. Membuat Ibu Suri panas kuping mendengar pujian itu terus menerus.
"Apa kau benar tidak ingin mencobanya?!" Ibu Suri Agung kembali menyodorkan racikan teh itu kepada Ibu Suri.
"Sayang sekali, padahal rasanya seenak ini." Ucap Ibu Suri Agung, menyesap kembali teh di tangannya.
"Teh buatan Yie Er tidak kalah enak Ibu!" Bela Ibu Suri.
"Kita memang berbeda lidah!" Balas Ibu Suri Agung, menatap dalam Ibu Suri di depannya. Ibu Suri diam, balas menatap Ibu Suri Agung.
Sepertinya Ibu Suri Agung sudah sangat menyukai Selir busuk itu. Sekarang Ibu Suri tidak bisa berbuat apa pun. Semoga guangfunya tidak akan terhasut oleh Selir Pertama!
"Ya, dan omong-omong, berikan ramuan kepada Selir Pertama lagi Ibu. Agar Selir Pertama semakin membaik!" Ibu Suri tersenyum penuh arti. Menatap yakin Ibu Suri Agung di depannya.
__ADS_1
"Kau benar menantu. Ibu Suri Agung ini akan mengirim ramuan itu besok kepada Selir Pertama!" Angguk Ibu Suri Agung.
Ibu Suri tersenyum lebar. Meminum air putih di depannya. Diam- diam melirik Ibu Suri Agung yang begitu menikmati teh racikan Selir Pertama.
Racikan teh yang sama sekali tidak ada apa- apa nya dengan racikan teh Yie Er, menantunya.
"Permaisuri!"
"Ada apa Yu Are?"
"Perban di jari anda harus segera diganti!" Yu Are menatap khawatir jari Yie Er. Apa junjungannya tidak kesakitan?
"Ini hanya luka kecil. Lagipula Permaisuri ini merasa baik!" Sejenak Yie Er menatap jarinya, matanya kembali fokus kepada Rei Rei yang tengah menyirami tanamannya.
"Omong- omong Permaisuri ini tadi tidak melihatmu. Dari mana saja hingga tak terlihat?" Tanya Yie Er, tanpa melihat Yu Are disampingnya.
"Maafkan saya Permaisuri. Saya mengambil beberapa kudapan dan membuat racikan teh untuk Permaisuri!" Jawab Yu Are penuh rasa sesal.
"Terima kasih Yu Are. Permaisuri ini baru akan menyuruhmu, ternyata kau sudah lebih dulu berinisiatif!" Ucap Yie Er tersenyum lebar, sedikit terkekeh menatap Yu Are yang juga tersenyum malu mendengar perkataannya.
"Permaisuri, apa tanaman ini perlu disiram?" Seru Rei Rei, jarinya mengarah pada tanaman berdaun hitam dilapisi kaca di sebelahnya.
Mendengar itu Yie Er terdiam cukup lama, menatap tanaman itu dingin.
"Biar Permaisuri ini yang menyiramnya nanti, tanaman itu berbeda tokok. Permaisuri ini akan bertanya mengenai pupuk dan waktu yang bagus kepada pekebun istana, agar tanamannya tumbuh dengan baik!" Jawab Yie Er, tersenyum seperti biasa. Kembali menyesap racikan teh yang dibawa Yu Are.
__ADS_1
Rei Rei mengangguk. Meletakan alat penyiram ditangannya. Alat yang dibuat oleh junjungannya sendiri. Membuat Yu Are dan juga dirinya dibuat kagum saat proses pembuatan.